Khotbah Paling Populer

Showing posts with label jujur. Show all posts
Showing posts with label jujur. Show all posts

Wednesday, April 20, 2016

Khutbah Jumat tentang Hidup Tenang tanpa Bohong dan Korupsi

contoh khutbah jumat
Pada kesempatan Khutbah Jumat kali ini, rasanya sangat baik dan bijak khotib mengajak untuk merenungkan sejenak beberapa hal berkaitan dengan kejujuran, karena kejujuran menuai hidup tenang dengan modal tanpa kebohongan dan korupsi. Sifat mulia yang bernama jujur itu ternyata mampu mendatangkan berbagai macam keuntungan dan manfaat. Disamping menyebabkan kselamatan di akhirat bagi pemiliknya, sifat jujur juga membawa banyak keuntungan kehidupan dunia. Banyak sekali keuntungan yang bisa diambil dari sifat jujur, diantaranya hidup sebagai orang yang terhormat, dicintai banyak orang dan memperoleh ketenangan.

Dalam aktifitas apapun orang yang membiasakan diri bersikap jujur, pasti akan berusaha menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku, baik itu aturan agama, masyarakat, ataupun aturan negara. Orang yang jujur tidak pernah secara sengaja melanggar larang yang telah ditetapkan. Dia senantiasa mematuhi tata aturan yang ditetapkan. Dia tidak perlu takut kalau aibnya terbongkar atau dikejar-kejar pidana karena telah melakukan kesalahan. Semua yang dilakukakannya adalah sesuatu yang benar dan tidak melanggar hukum, sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Oleh karena itu, hidupnya berlimpah ketenangan. Dalam hadits yang berstatus hasan disebutkan

عن النواس بن سـمعـان رضي الله عـنه، عـن النبي صلى الله عـليه وسلم قـال
الـبـر حـسـن الـخلق والإثـم ما حـاك في نـفـسـك وكـرهـت أن يـطـلع عــلـيـه الـنـاس
[رواه مسلم]
Kebaikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah sesutu yang mengganjal di dalam dirimu, dan tidak senang jika orang lain melihatnya (HR. Muslim: 2553)

Gambaran tersebut bertolak belakang tentunya dengan orang yang suka berbohong. Sifat bohong adalah lawan dari sifat jujur. Ibarat air dengan minyak, kedua sifat ini tidak akan pernah bisa menyatu. Selain akan menggiring pelakunya ke dalam neraka di akhirat nanti, seifat bohong juga banyak menimbulkan kerugian di dunia. Dalam sebuah riwayat ‘Aisyah dari Abdullah Ibn Mas’ud menyebutkan Bahwa rasul saw bersabda:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا (رواه البخاري)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra, dari Nabi Muhammad SAW bahwasanya beliau bersabda. ‘Sesungguhnya sidiq itu membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan pada surga. Dan seseorang beperilaku sidiq, hingga ia dikatakan sebagai seorang yang siddiq. Sementara kedustaan akan membawa pada keburukan, dan keburukan akan mengantarkan pada api neraka. Dan seseorang berperilaku dusta, hingga ia dikatakan sebagai pendusta. (HR. Bukhari)

Hadits ini dengan jalur sanad merupakan hadits shahih yang diriwayatkan oleh seluruh A’immah Ashab Kutub Al-Sittah, kecuali imam Nasa’i :

Jamaah Jumat rahimakumullah...
JIka seseorang telah dikenal sebagai orang yang jujur, maka dimanapun dan kapanpun dia berada, semua orang akan respek dan hormat kepadanya, begitupula sebaliknya orang yang terkenal dengan sifat bohongnya maka dimanapaun dan kapanpun orang-orang sekelilingnya akan menyematkan titel sebagai pembohong. Setinggi apapun jabatannya orang lain akan meremehkannya.

Lalu, bagaimana dengan nasib seseorang yang gemar sekali melakukan tindakan korupsi?, tentu saja, karena korupsi merupakan salah satu bentuk kebohongan, penyelewengan wewenang dan anggaran, sebuah prilaku yang bertentangan dengan kebenaran. Ia tak pantas mendapat penghormatan meskipun berpakaian rapi dan berdasi.

Dalam kondisi yang demikian ia banyak melakukan kebohongan diantaranya adalah, kebohongan kepada Allah atas amanat yang diembannya, bohong terhadap orang yang dipimpinnya dimana banyak harapan rakyat yang tertumpu dipundaknya. Sangat wajar jika para koruptor dihujat dan tidak diterima dalam komunitasnya.

Kepiawaiannnya dalam bersilat lidah, kecerdasan dan pengalamannya tidak menjamin seseorang tidak berbuat aniaya dan terjebak dalam praktik korupsi. Krenanya setiap muslim harus berhati-hati dan istiqomah dalam melakukan kejujuran. Di era carut marut seperti ini orang jujur sudah mulai langka. KEilmuan yang pernah dikaji tidak cukup hanya sebatas pengetahuan belaka, akan tetapi harus dijadikan sebagai dasar pijakan dalam melangkah di dunia ini. Keutamaan seseorang akan tercapai apabila seseorang mampu mengawinkan ilmu pengetahuan dalam praktik keseharian dengan jujur. Allah berfirman:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ
Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. as-Shaff: 3)

Hadirin sidang jumat rahimakumullah...
Apabila dalam sepak terjang kehidupannya konsisten dalam garis kejujuran dari perkataan sampai tindakannya maka struktur kehidupan akan menjadi teratur, muara dari keteraturan dalam hidup tersebut adalah aman tanpa gangguan, tenang tanpa kekacauan, dan aktifitas lancar tanpa gangguan kejiwaan. Ia selalu siap di audit secara terbuka oleh siapapun dan kapanpun serta dimanapun ia berada. Jadi buah berharga dari kejujuran adalah ketenangan dalam hidup.

Jaminan ketenangan bagi orang yang senantiasa berbuat kejujuran adalah sebuah jaminan yang pasti. Dalam sebuah riwayat hasan ibn Ali ibn Abi Thalib disebutkan, Rasul saw bersabda:

دع ما يريبك إلى ما لايريبك فإن الصدق طمأنينة وإن الكذب ريبة
Tinggalkanlah sesuatu yang mengusik dirimu untuk beralih pada sesuatu yang tidak mengusik dirimu. Karena sesungguhya kejujuran itu membawa ketenangan dan kebohongan menyebabkan perasaan tidak tentram (HR. Tirmidzi)

Dengan tidak berbohong dan menyalahgunakan wewenang, hari hari akan menjadi tenang, korupsi hanya menyisakan resah berkepanjangan yang mengakibatkan berbagai gejolak penyakit lain.

Marilah kita sisakan tekad bulat untuk selalu istiqamah dalam berbuat kejujuran, yakinlah bahwa di dalam kejujuran tersimpan kebahagiaan yang abadi, keabadiannya sejak di dunia, terlebih di akhirat kelak amiiin ya rabbal alamin...

=======

Saturday, March 16, 2013

Jujur kepada Allah Diri Sendiri dan Sesama Manusia

Jujur kepada Allah Diri Sendiri dan Sesama Manusia

Berlimpahnya pemberitaan di televisi tentang prilaku tidak jujur yang menghinggapi semua lini kehidupan, politik, perdagangan, beberapa elite pimpinan bahkan bukan tidak mungkin akan merambah kepada kita membuat ‘gerah’ admin Pusat Khutbah Jumat minggu ini mengambil tema tentang prihal kejujuran, khutbah kali ini berjudul, Jujur kepada Allah diri sendiri dan sesama manusia lain. Mungkin beberapa postingan yang akan datang juga masih berkaitan dengan akhlak mulia seperti ikhlas, zuhud dan khutbah sejeninsya, untuk melengkapi informasi ini perlu kiranya untuk membaca khutbah tentang taubat nasuha terlebih dahulu.

Sidang Jumat rahimakumullah….
Dalam mengangkat tema kejujuran, salah satu pondasi epistemologi yang harus direnungkan adalah sabda Nabi Muhammad saw.

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِ إِلَى البِرِّفَإِنَّ البِرَّ يَهْدِ إِلَى الْجَنَّةِ . وَمَا يَزَلُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عٍنْدَ اللهِ صِدِّيْقاً
Kalian harus berbuat jujur, kerena kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Jika seseorang senantiasa berbuat jujur dan memperhatikan kejujuran, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur (Mutafaq ‘alaih)

Perbuatan jujur akan mengundang kebaikan dan setiap kebaikan berbalas surga, begitu juga sebaliknya kebohongan dan dusta akan mengundang perbuatan jahat lainnya, perbuatan jahat akan menggiring manusia ke dalam palung neraka. Karenanya di dalam hidup ini, sifat jujur harus dipertaruhkan hingga tarikan nafas terakhir dengan harapan kelak dikumpulkan oleh Allah bersama orang-orang yang shodiqiin

Allah berfirman dalam QS: At Taubah: 119;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”

Berprilaku jujur harus dilakukan secara totalitas diri dan menyeluruh, totalitas diri yang dimaksud adalah kejujuran hendaknya dilakukan dengan segenap keyakinan spiritual, perkataan dan perbuatan hanya semata-mata kepada Allah swt. Menyeluruh dalam artian jujur kepada kepada Allah, diri Sendiri dan berbuat jujur kepada orang lain. Jujur dengan keyakinan direalisasikan dengan cara melakukan perbuatan berdasarkan ketentuan syar’i secara ikhlas semata-mata karena Allah swt, sebab perbuatan karena makhluk (riya’) hakekatnya sama saja dengan perbuatan menipu Allah, orang yang riya’ perbuatannya hanya sebatas dhohir saja patuh dan mengabdi kepada sang khalik, namun bathinnya menghamba kepada makhluk. Bukankah Allah maha teliti atas segala perbuatan hambanya, perbuatan seperti ini masuk dalam kategori perbuatan orang munafik

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ.
“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. “ (al-Baqarah: 9)
berati jujur dalam berkata berarti berkata dan membuat pengakuan sesuai dengan yang dilakukan, Adapaun jujur dalam perbuatan adalah melakukan perbuatan yang sesui dengan kehendak baiknya tanpa ditutupi

Sidang Jumat rahimakumullah.. Saat ini masih banyak kita jumpai orang-orang tidak jujur dengan perbuatannya sendiri, terlebih lagi jujur terhadap sesama, baik dalam sepak terjang perpolitakan, hukum atau perbuatan keseharian lainnya. Diantara perbuatan yang tidak mencerminkan jujur kepada dirinya sendiri adalah, dhohirnya tampak berseri namun hatinya bersedih, diluarnya tampak baik dan mulia tapi dalam hatinya memendam dendam membara, penampilannya bagaikan orang berlebih tetapi kondisi ekonomi sebenarnya meronta kekurangan. Semakin sering kehidupan menggunakan berbagai topeng kepalsuan hingga nyaris banyak orang yang tidak kenal dengan mukanya sendiri.

Apalagi jujur terhadap orang lain, pada saat ia dibutuhkan keterangan sebenarnya justru mengelak dan membuat keterangan palsu, pada saat dituduhkan kepadanya sebuah kesalahan ia menciptakan pengakuan palsu supaya urusan sebenarnya menjadi kelabu. Kebohongan selalu ada dan bisa saja dilakukan dalam setiap lini kehidupan, perdagangan, pengakuan saksi, peradilan atau segala bentuk aktifitas lainnya. Marilah kita mawas diri dan menciptakan suasana jujur selalu menghiasi diri kita.

Andaikan setiap orang jujur terhadap apa yang ia lakukan maka cerita bangsa ini mungkin berbeda dengan yang ada. Jujur adalah perbuatan yang gratis tetapi dusta adalah perbuatan yang harus dibayar mahal di dunia terlebih lagi di akhiratnya

Untuk menciptakan suasana jujur, langkah pertama kali adalah jujur di hadapan Allah, kalau kepada Allah saja tidak mampu untuk berbuat jujur dengan cara beristighfar dan memohon ampun atas segala dosa yang pernah dilakukan, apalagi megakui perbuatannya secara jujur kepada sesama makhluknya.

Hadirin sidang jumat yang mulya…

Jujur kepada Allah dilakukan dengan cara bertaubat, bberapa usnsur bertaubat sudah kami poasting pada taubat dengan ketiga unsurnya, bertaubat dimulai dengan keyakinan kemudian dibuktikan dengan perbuatan dengan hati yang tulus tanpa paksaan, serta bertekad dengan keyakinan yang kuat tidak mengulangi lagi dosa perbuatan yang sama atau serupa, pengakuan tersebut harus sampai menghujam menembus relung hati. Pengakuan karena kesadarana atas berlimpanya dosa baik sadar maupun yang tidak sadar.

Allah telah menciptakan setiap anak manusia dalam keadaan fithrah, namun dalam perjalanan hidupnya, manusia berbuat aniaya kepada dirinya sendiri, perbuatan dhalim mencipta kegelapan tidak saja kegelapan di dunia tetapi kegelapan ini terus akan berlanjut kepada kegelapan di akhirat.

Hadirin sidang jamaah jumat rahimakumullah...

Alkisah pada suatu hari beberapa sahabat Umar bin Abdul Aziz berkeluh kesah dan mengadukannya kepada beliau, ia mengakui mempunyai harta berlimpah dalam kebutuhan hidupnya, tetapi tidak merasa hidupnya tenang, mereka meminta apa yang harus dilakukan, begitu juga sabhabat lainnya mengasu di saat paceklik dan tidak turun hujan, padahal orang orang sudah membutuhkannya, akhirnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak langsung menjawab, ia diam sejenak kemudian membaca Al Quran ayat surat Nuh: 10-12

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, . Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Kisah ini memberi pelajaran berharga kepada kita, bahwa carut marutnya kehidupan yang kita alami, kemungkinan besar ada andil besar atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan, termasuk dosa tidak jujur dalam aktifitas kita sehari. Mudah-mudahan setiap jengkal langkah aktifitas sehari-hari di sana ada 'inayah Allah untuk selalu melestarikan sifat jujur kepada Allah diri sendiri dan sesama manusia