Khotbah Paling Populer

Showing posts with label khutbah. Show all posts
Showing posts with label khutbah. Show all posts

Friday, May 12, 2017

Khotbah Jumat - Tiga Ibadah Penting Dalam Bulan Ramadhan

Khotbah Jumat - Tiga Ibadah Penting Dalam Bulan Ramadhan

Khutbah Jumat, Khutbah Jumat Ramadan



إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Alhamdulillah kita bersyukur kepada Alah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa memberikan banyak kenikmatan sehingga tidak terhitung nilai dan jumlahnya. Nikmat tersebut dicurahkan siang dan malam kepada kita. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senang bersyukur kepada-Nya. Yaitu dengan meningkatkan taqwa dan taqarrub kepada-Nya.

Sidang shalat Jumat rahimakumullah,

Dengan dekatnya bulan Ramadhan, kami ingin mengingatkan diri kami sendiri, dan juga kepada kaum muslimin, bahwa pada bulan yang penuh barakah ini mengandung tiga jenis ibadah yang agung, yaitu zakat, puasa dan tarawih.

Tentang zakat, alhamdulillah banyak kaum Muslimin yang melaksanakannya pada bulan ini. Syariat zakat merupakan bagian dari ibadah. Juga merupakan salah satu kewajiban dalam Islam. Dengan menunaikan zakat, berarti kita telah bertaqarrub, mendekatkan diri kepada Allah, dan telah melaksanakan salah satu rukun Islam. Zakat yang dikeluarkan itu, bukanlah beban yang akan menyebabkan kita miskin, sebagaimana kekhawatiran yang dibisikkan setan kepada orang yang lemah imannya. Tetapi, justru membayar zakat akan menambah harta seseorang, Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَآءِ وَاللهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمُ {268}

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. (QS al Baqarah/2 : 268).

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّاْئَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ {261}

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah/2 : 261).

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلُُ فَئَاتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلُُ فَطَلُُّ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ {265}

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (QS al-Baqarah/2 : 265).

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Dalam membayarkan zakat, hendaklah kita tunaikan dengan penuh amanah. Kita keluarkan zakat dari benda-benda yang wajib dizakati, sedikit atau banyak. Kita hitung dengan teliti. Sehingga barang yang sudah wajib dizakati, sedikitpun tidak terabaikan. Karena tujuan menunaikan zakat adalah untuk membebaskan diri dari tanggungan kewajiban, dan menyelamatkan diri dari ancaman yang amat dahsyat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلاَيَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآءَاتَاهُمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرُُّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَابَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَللهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ {180}

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kemu kerjakan. (QS. Ali Imran/3 : 180).

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَيُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ {34} يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَاكَنَزْتُمْ لأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَاكُنتُمْ تَكْنِزُونَ {35}

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukan kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarnya dari mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan”. (QS. At Taubah/9 : 34-35).

Tentang ayat yang pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ آتَاهُ الله مَالاً فَلَمْ يُوَدّ زَكَاتَهُ مُثِلّ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيْبَتَانِ ثُمّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ ثُمّ يَقُوْلُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ

Orang yang dianugerahi harta oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian dia tidak menunaikan zakatnya, maka pada hari Kiamat harta itu dijelmakan ke wujud seekor ular yang sangat berbisa, memiliki dua taring lalu dia menerkam dengan dua rahangnya seraya berkata : “Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu”.
Sedangkan tentang ayat kedua, telah dijelaskan oleh Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam :

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ

Tidak ada seorangpun pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan zakatnya, kecuali nanti pada hari Kiamat dia akan dibuatkan lempengan-lempengan dari api, kemudian dipanaskan di atas api. Lempengan itu digunakan untuk menyetrika bagian samping tubuh, kening dan punggungnya. Tatkala lempengan itu mulai mendingin, akan dikembalikan (untuk dipanaskan lagi). (Kejadian ini) berlangsung selama lima puluh ribu tahun, sampai semua hamba selesai diadili. Lalu dia akan melihat jalan, mungkin ke surga atau mungkin ke neraka.

Kaum muslimin rahimakumullah

Setelah menyimak nash-nash di atas, semestinya kita takut dengan ancaman-ancaman tersebut. Tunaikanlah zakat kepada orang yang berhak menerimanya dengan penuh amanah, dan berikanlah kepada yang berhak menerimanya, tidak asal mengerjakan. Harta zakat jangan digunakan untuk kepentingan yang lain. Kita berharap, semoga zakat yang kita bayarkan diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kaum muslimin, Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Adapun jenis ibadah kedua yang ada pada bulan ini, yaitu Puasa Ramadhan. Ibadah ini, juga merupakan salah satu rukun Islam. Manfaat puasa telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Alquran surat al Baqarah/2 ayat 183, yaitu agar kita menjadi orang yang bertaqwa.

Itulah hakikat tujuan puasa, yaitu agar kita menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yakni dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi laranganNya. Maka seorang muslim semestinya melaksanakan yang telah menjadi kewajibannya. Dalam menjalankan puasa, seorang muslim juga dituntut untuk menjauhi hal-hal yang diharamkan, seperti berkata dusta, ghibah (menggunjing) dan lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh pada puasanya. (HR Bukhari-Muslim).

Hadits ini menunjukkan, orang yang berpuasa, sangat ditekankan untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan ini. Mengapa? Karena sangat berpengaruh terhadap puasa yang sedang dijalankan.

Namun amat disesalkan, banyak kaum Muslimin, ketika menjalankan ibadah puasa pada bulan ini, keadaannya tidak berbeda antara saat berpuasa dan tidak puasa. Ada di antaranya yang tetap saja menganggap remeh kewajiban-kewajiban, atau tetap saja melakukan perbuatan-perbuatan diharamkan. Sungguh sangat disesalkan. Seorang mu’min yang berakal, ia tidak akan menjadikan hari-hari puasanya sama dengan hari-hari yang lain. Pada saat berpuasa, ia akan lebih bertaqwa kepada Allah, dan lebih bersemangat menjalankan perintah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang menjalankan ibadah puasa dengan benar, dan semoga puasa yang kita lakukan diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرّحِيْمُ

[KHUTBAH KEDUA]

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah

Jenis ibadah yang ketiga dalam bulan Ramadhan, yaitu ibadah shalat tarawih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan ibadah ini. Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan dalam sabdanya :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Orang yang melaksanakan qiyam ramadhan (tarawih) karena iman dan ingin mendapatkan balasan, maka dia akan diampuni dari dosanya. (HR. Bukhari-Muslim)
Qiyam Ramadhan ini juga mencakup shalat-shalat sunat pada malam-malam Ramadhan dan shalat tarawih. Oleh karena itu, seharusnya kita memperhatikan dan senantiasa menjaganya. Kita laksanakan dengan penuh antusias bersama imam, dan tidak meninggalkan imam. Demikian ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Barangsiapa shalat bersama imam sampai imam itu selesai, maka dituliskan baginya shalat satu malam.

Adapun kepada para imam yang menjadi imam dalam shalat tarawih, hendaknya bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menjalankannya. Seorang imam hendaklah tetap menjaga thuma’ninah dan dengan tenang, sehingga para ma’mun memiliki kesempatan untuk menjalankan hal-hal yang diwajibkan atau disunnahkan, sesuai dengan kemampuannya.

Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,

Sungguh, pada masa sekarang ini, kita melihat fenomena yang amat menyedihkan. Ada di antara para imam yang melaksanakan shalat tarawih secara cepat, sehingga meninggalkan thuma’ninah. Padahal, thuma’ninah merupakan salah satu rukun shalat. Pelaksanaan ibadah shalat yang tidak memperhatikan thuma’ninah adalah haram. Hal ini disebabkan : Pertama, karena ia meninggalkan thuma’ninah. Kedua, meskipun tidak sampai meninggalkan thuma’ninah, akan tetapi perbuatan imam tersebut telah menyebabkan orang-orang yang ma’mum kepadanya merasa kelelahan, dan tidak bisa melaksanakan yang seharusnya mereka lakukan. Dan perlu diketahui, orang yang menjadi imam dalam shalat, tidaklah sama dengan shalat sendirian. Seorang imam wajib memperhatikan para ma’mumnya, menunaikan amanah yang ada di pundaknya, serta melaksanakan shalat sebagaimana mestinya.

Para ulama menyebutkan, seorang imam dimakruhkan untuk mempercepat shalat, sehingg menyebabkan ma’mum tidak bisa melaksanakan hal-hal yang disunnatkan. Lalu bagaimana kalau sang imam mempercepat shalatnya, sehingga para ma’mum tidak bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan?

Terakhir, kami nasihatkan kepada diri kami sendiri, juga kepada kaum Muslimin, hendaklah kita bertaubat dan kembali ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan kemampuan, baik pada bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّهُمّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنًاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنّكَ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبّنََا لاَتًؤَخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلىَ الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تُحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَنَا فَانْصُرْنَا عَلىَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبّنَا آتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ.

Khotbah Jumat Ramadhan Lainnya:
  1. Khotbah Jumat - Khutbah Rosulullah Menyambut Ramadhan
  2. Khotbah Jumat - Tiga Ibadah Penting dalam Bulan Ramadhan
  3. Khotbah Jumat - Ramadhan Bulan Pertaubatan
  4. Khotbah Jumat - Menggapai Lailatul Qodar


Thursday, April 21, 2016

Khutbah Jumat Tentang Ikhlas

contoh khutbah jumatKhutbah jumat Setiap amal perbuatan manusia butuh ikhlas sebagai pra-syarat diterimanya amal kebaikan tersebut di hadapan Allah swt. ikhlas dalam arti, beramal jernih, semata-mata hanya karena Allah swt. Tanpa ada campuran keterpaksaan, tekanan atau mendongkrak popularitas belaka. Perbuatan yang dilakukan atas dasar pencitraan diri menjau dari predikat al-mukhlisin (orang yang ikhlas).

Tanpa ikhlas seluruh amal menjadi sia-sia belaka, hanya memberatkan fisik tanpa ada atsar sedikitpun dalam psikis, secara lahiriyahnya mengerjakan tetapi kondisi bathiniyah meronta menolak perbuatan tersebut. Ibnul qoyyim al Jauziyah membuat perumpamaan kondisi orang-orang yang beramal tanpa di dasari rasa ikhlas bagaikan musyafir yang mengisi kantong perbekalannya dengan kerikil dan pasir, hanya memberi beban berat tapi tidak membawa manfaat”.

Kondisi seperti ini bisa dijadikan sebagai tolak ukur perbedaan orang munafik dan mukmin, orang munafik melakukan tetapi sebatas lahiriyahnya saja, sedangkan mukmin sejati melakukan amal perbuatan tembus sampai ke dalam lubuk hatinya, lebih lanjut Ibnul Qoyyim mengatakan

لو نفع العلم بلا عمل لما ذم الله سبحانه أحبار أهل الكتاب ، ولو نفع العمل بلا إخلاص لما ذم المنافقين .
”andaikan ilmu bisa manfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta Ahli kitab. Dan andaikan ilmu itu bisa bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.

Hadirin Sidang Jumat rahimakumullah…
Ikhlas menjadi salah satu benteng sakti paling kokoh terhadap gempuran musuh terbesar hatta Iblis sekalipun. Secara terang-terangan Iblis sendiri mengakui, bahwa semua manusia akan tergelincir kecuali hamba Allah yang ikhlas, pernyataan Iblis tersebut diabadikan di dalam firman Allah, (QS. Al-Hijr: 39-40).

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka".

Mari bentengi hati ini dengan benteng ikhlas, tanamkan secara kokoh di dalam hati bersama keimanan, karena keduanya yakni Iman dan Ikhlas harus selalu bersamaan dalam melakukan apa saja. Dalam dan dangkalnya iman seseorang hanya diketahui oleh sang mpu-nya orang tak mampu mengukur secara pasti keikhlasan seseorang.

Hadirin Rahimakumullah
Antara iman dan ikhlas harus selalu berdampingan dalam melakukan amal perbuatan, iman bak jasadnya sedangkan ikhlas bagaikan ruh-nya. Amal perbuatan tanpa didasari ikhlas, maka amal perbuatan seseorang tertolak. Sebagaiman sabda Rasul saw.

إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصاً وابتغي به وجهه
Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-nya”. (Hadits Hasan Riwayat an-Nasa’iy)

Ikhlas juga mempunyai peran penting dalam menentukan kualitas perbuatan seseorang, agaknya karena itulah sehingga Fudhail bin Iyadh dalam menafsirkan QS. al-Mulk: 2, siapakah yang tebaik amal perbuatannya??

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Siapa yang paling ‘baik’ amalnya, ditafsirkan siapakah yang paling ‘ikhlas’ dan paling ‘benar’ amalnya. Jadi, dapat diambil kesimpulan jika sebuah amal perbuatan dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka amalnya tidak diterima, begitupun amal perbuatan yang dilakukan dengan benar tetapi tidak dengan hati yang ikhlas, juga tidak diterima. Karena itulah setiap amal perbuatan harus disertai dengan ikhlas, tak berlebihan jika dikatakan bahwa ikhlas adalah ruh-nya amal perbuatan seseorang.

Perbuatan yang disertai keikhlasan akan menciptakan suasana bathin menjadi senagn, perbuatan yang berat menjadi ringan, yang asalnya membosankan menjadi menjadi menggairahkan. Ciri perbuatan ikhlas menurut Imam Ali ra. yaitu tak surut karena dicela, dan tidak keranjingan ingin mendapat pujian.

Perbuatan ikhlas ibarat menampi beras bercampur kerikil dan bebatuan, beras ditampi agar bersih, setelah beras tersebut menjadi murni tanpa campuran dimasak akan lezat saat dikunyah, demikian juga keikhlasan, menyebabkan amal perbuatan menjadi menyenangkan, tidak memberatkan bagi pelakunya.

Hadirin sidang jumat rohimakumullah…
Di akhir khutbah jumat ini, khotib mengajak kepada diri sendiri khusunya dan umumnya kepada hadirin sidang jumat yang berbahagia untuk senantiasa belajar ikhlas, meskipun sangat berat, kadang niat awal ikhlas namun ditengah perjalanan berubah, berbolak baliknya hati inilah Nabi mengajarkan do’a

اللهم إنى أعوذبك . ان أشرك بك وأنا أعلم وأستغفرك لما لا أعلم
Ya Allah aku memohon perlindungan kepada Mu dari perbuatan menyekutukan Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun dari perbuatan syirik yang tidak aku ketahui (HR. Ahmad)
====
Khutbah : di Masjid Puri Bintaro, Pebruari 2013, al fitrah, Januari 2014

Wednesday, April 20, 2016

Khutbah Jumat tentang Ciri Taqwa selepas Ramadhan

contoh khutbah jumat pilihan terbaruPertama-tama marilah kita panjatkan puji setinggi-tinginya kepada Allah swt yang telah memberikan banyak karunia kepada kita semua berupa sehat jasmani dan ruhani, semoga kesehatan yang kita miliki ini abadi se-usia bumi. Begitu juga shalawat serta salam semoga tersenandung untuknya ila yaumil qiyamah. 

Khotib ingin menegaskan bahwa hidup bertaqwa adalah satu-satunya jalan yang tepat dari dulu, sekarang hingga masa yang akan datang. Taqwa dalam arti menjalankan perintahnya dan terus menerus istiqomah menjauhi larangannya.

Ramadhan baru saja berlalu dari hadapan kita, bulan di mana semua ummat islam di-tranining “dimodali” bekal mengendalikan diri untuk hidup sebelas bulan yang akan datang, oleh karenanya hasil yang diadapat dari ibadah puasa dapat dilihat dari implementasi sebelas bulan yang akan datang. Bertambah sholeh dari sebelumnya atau bertambah tholeh sesudahnya.

“Training” tersebut di awasi langsung oleh Allah dan ‘sertifikat’ yang dijadikan sebagai penanda kesuksesan dari ibadah puasa itu adalah titel taqwa dan terampuninya dosa. Alangkah baiknya jika kita tidak langsung larut dalam klaim bahwa kita ini termasuk orang yang bertaqwa, mengingat betapa berat dan sengsaranya ibadah puasa ramadhan. Kalau saja ternyata ibadah puasa itu hanya menahan lapar dan dahaga saya pastikan 99 persen banyak yang berhasil, tetapi puasa yang sebenarnya adalah mengekang hawa nafsu buruk yang mengotori jiwa ini. Karena itu jangan terlalu pede dengan puasa yang kita lakukan bulan ramadhan yang lalu. 

Allah berfirman di dalam al Qur’an
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا. الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا. أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا.
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS. al kahfi:103-105)

Apapun yang kita dapatkan hari ini adalah akibat dari usaha dihari-hari sebelumnya. Namuun harap kita semua adalah menjadi orang yang bertaqwa.

Hadirin sidang jumat rahimakumullah
Adapun, sebagian ciri yang paling lekat dalam kaitannya dengan momentum halal bihalal yang dilakukan setelah berlalunya bulan ramadhan sesuai dengan Firman Allah QS. Al-Imran: 134

اللذين ينفقون فى السراء و الضراء والكا ظمين الغيظ و العا فين عن النا س إن الله يحب المحسنين
Artinya:
orang yang beriman adala)…. adalah orang yang menginfakkan harta bendanya baik dalam keadaan sempit maupun dalam keadaan lapang, menahan marah, mema'afkan orang lain. sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat baik

Dalam ayat tersebut di atas, memberikan informasi kepada kita semua, bahwa diri orang bertaqwa paling tiadak ada tiga 

Bersedia untuk berbagi kepada orang lain, hal in ditandai dengan zakat fithrah, zakat fithrah diwajibkan olh setiap orang yang pernah menikmati ramadhan meskipun sekejap, dan dia mempunyai bekal makan untuk esok harinya. Betapa zakat ftihra ini demikian bermakna, sampai orang yang hanya pas-pasan nuntuk hidup esok hari saja diwajibkan berbagi berupa zakat fithrah.

Hal ini isyarat bahwa, untuk membantu orang lain tidak hanya kewajiban bagi orang kaya dan berpunya, tetapi siapapun yang mempunyai kelebihan maka hendaknya berbagi dengan orang lain, terutama bagi orang yang kelebihan harta benda. Orang yang dianugerahi tenaga maka sumbangkan tenaganya untuk orang lain, orang yang mempunyai pengetahuan pergunakan pentahuan itu untuk memecahkan kebuntuan hidayah di hati orang lain dan begitulah seterusnya.

Kedua, menahan marah, siapapun pernah marah jika ada kesalahan yang dianggap sangat ‘terlalu’ tetapi tidak berarti marah disembarang tempat dan ledakan kemarahan yang berlebih, tetapi jika akan marah, pertimbangkan kembali sudah pantaskah kita marah, kalau memang sudah pantas untuk marah, pertimbangkan kembali dimanakah tempat kita marah dana kapan waktunya harus marah. 

Marah di tempat umum jelas tindakan yang tidak elok, marah dalam kondisi waktu yang tidak tepat juga hanya sia-sia, terlebih lagi jika marah hanya sebatas karena kesal dan dendam yang tidak merubah prilaku orang yang dimarahi, subhanallah... Sungguh islam mengajarkan jauhi sifat marah. Sampai hadits Nabi, la-taghdhab, la-taghdhab, la-taghdhab

Ketiga dan yang paling sulit adalah mema’afkan, karena mema’afkan adalah menghapus kesalahan orang lain dari dalam hati, mengaku dengan lisan mema’afkan tetapi tidak tembus ke dalam hati itu berarti masih dalam batas menahan amarah, ya hanya belum meledak saja. Memaafkan adalah bagian dari merubah pola pikir dari merasa benar menjadi pola pikir orang berpandangan bahwa orang lain yang melakukan kesalahan lebih pada kesalahan yang tak disengaja. 

Karena itu orang tidak ditemukan ayat untuk meminta ma’af tetapi yang ditemukan adalah ayat ayat untuk mema’afkan misalnya pengalan ayat
Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ 
Hendaknya mereka mema’afkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak bahwa Allah akan mengampunimu? Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang (QS.an-Nuur:22)

Dari ayat di atas, ciri-ciri pribadi muttaqin ada 3 yaitu, infaq dalam kondisi apapun, menahan marah, dan memaafkan, jika kita telah melaksanakan tiga hal tersebut maka kita layak mendapat julukan orang orang yang muhsinin. Dari tiga tingkatan tersebut yang paling tinggi tingkat kesulitannya adalah berbuat baik kepada orang lain meskipun orang lain tersebut berbuat salah kepada kita, dan itulah yang disebut dengan muhsinin

Hadirin rahimakumullah
Adapun cara untuk meminta ma’af tentu berbeda bersifat kasuistik, jika kesalahannya adalah menyangkut haqqul adami maka kembalikan terlebih dahulu hak-nya kemudian meminta ma’af senada dengan apa yang di sampaikan oleh Imam Ali ra. pernah berkata: Kalau ingin meminta maaf maka kembalikan semua hak orang dan kemudiana meminta maaf.

Fenomena yang sering kita saksikan, jika ada koruptor yang memohon ma’af lahir bathin di televisi sedangkan hasil ‘buah’ korupsinya tidak dikembalikan kepada negara, tentau tidak akan terampuni dosanya, sampai seluruh penghuni bangsa ini rela dan ridho atas perbuatannya itu, naudzu billahi min dzaalik, semoga kita terhindar dari perbuatan itu

Khutbah pembuka,
الْحَمْدُ لله الذى يُحْيِ وَيُمِيْتُ . قد جُعِلْ فِى كُلِّ اَخِرِ رَمَضَانَ عِيْد . اَلْعِيْد لَيْسَ لِمَنْ لَبِسَ اْلجَديْد . وَلَا لِمَنْ اَكَلَ الَّلذِيْد . وَلَكِنَّ الْعِيْد لِمَنْ خَافَ اْلوَعِيْدَ . وَلِمَن تَقْوَاهُ تَزِيْد. فِى هَذَا لْيَوْمِ قَدْ تَقَرَّبَ اْلَبعِيْد .أشهد أن لااله الا الله واحده لاشريك له رب السموات و الأرض هو يبدئ ويعيد . وأشهد أن محمـدا عبده ورسوله الراشدكل المرشيد. اللهم صل على سيدنا محمـد حامل القرأن المجيد.
وعلى اله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم زحام شديد . فياأيهالحاضرون . إتقواالله. إتقواالله. إتقواالله ما ستطعتم, لنيل الفرح و السعيد

Khutbah Jumat tentang Keutamaan Ilmu dibanding Harta

Ilmu Allah tak bertepi, seadanainya lautan dijadikan sebagai tintanya dan ranting pepohonan seluruh dunia dijadikan pena untuk menulis ilmu Allah tentu tidak akan mencukupinya, sungguh sebuah lautan ilmu Allah sangatlah luas, setiap manusia diharuskan untuk mencari ilmu, jika dibutuhkan untuk ibadah wajib, maka mencari ilmu hukumnya wajib,

Allah menjanjikan kemulyaan bagi orang yang berilmu (‘alim) bahkan Allah meninggikan derajatnya berlipat ganda, sampai tidurnya orang ‘alim lebih utama daripada ibadahnya orang jahil. Subhanallah.. Allah berfirman dalam kaitannya dengan ketinggian orang yang berilmu, Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ.
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Mujadalah: 11).”

Dalam ayat di atas, ada dua golongan orang orang yang diangkat derajatnya oleh Allah yaitu orang yang beriman dan orang yang berilmu, sungguh ini adalah sebuah kemulyaan tertinggi yangharis terus diperjuangkan, tak perduli dalam keadaan panas dan hujan, semua aral melintang harus dilewati demi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Mungkin memang tidak mudah dan membutuhkan biaya tinggi, terlebih pada saat ini yang katanya pendidikan gratis tetapi masih saja ada iuran lain yang harus dibayar, memang berat menanggung beban pendidikan, tetapi jangan lah berputus asa, karena “Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Sidang jumat yang berbahagia...,
Menumpuk ilmu dan mendistribusikannya adalah prilaku mulya, daripada menumpuk harta dan mendistribusikannya dengan benar, karena telah kita pahami bersama, banyak kelebihan ilmu dibanding harta benda, diantaranya seperti yang dikatakan oleh Ali kw. Ilmu adalah warisan para nabi, sedangkan harta adalah warisan dari Fir’aun, Qarun, Ilmu selalu menjaga sang mpunya sedang harta justru sebaliknya yaitu dijaga oleh orangnya, berilmu mempunyai teman, sedang mempunyai banyak harta biasanya banyak lawan.

Tidak hanya itu lanjut Ali kw. Ilmu tak habis untuk diberikan berbeda dengan harta, Ilmuwan sering dipanggil ‘alim, ulama, Sedangkan hartawan yang tak mendistribusikan harta dengan benar sering mendapat julukan bakhil dan kikir, pemilik ilmu akan menerima syafaat di hari kiamat, sedangkan pemilik harta dimintai pertanggungjawabannya, dari mana mendapatkannya dan kemana ia dihabiskan. Ilmu tak kenal lapuk bebrbeda dengan harta, Ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan sedangkan harta harus selalu dijaga dari kejahatan, Ilmu tak butuh tempat sementara harta memerlukannya, Ilmu menyinari hati sedangkan harta mengeraskan hati. Kira-kira seperti itulah nasehat sahabat Ali kw dalam sebuah maqolahnya.

Masih banyak lagi nasehat tentang keutamaan ilmu jika dibandingkan dengan harta, namun bukan berarti pandangan ini menyudutkan orang orang yang mencari harta untuk kepentingan agama, karena keutamaan orang orang yang berjuang dengan hartanya juga mulya dihadapan Allah swt.

Saking pentingnya ilmu pengetahuan itulah, hingga ayat yang turun pertama kali adalah sarana unutk menuju ilmu yaitu denan kalimat iqra’ bismi rabbikal ladzii khalaq begitupula sebagian mufassir berpendapat wahyu yang kedua adalah tentang ‘tulis’ yaitu surat al-qalam. Ilmu adalah modal hidup dalam menjalankan ibadah, termasuk menjauhi larangannya, karena itu mencari ilmu hukumnya wajib untuk ibadah yang wajib

Sidang jumat rahimakumullah...,
Dari baca ilmu pengetahuan diserap, dari menulis ilmu pengetahuan disebar, alangkah pentingnya dua hal tersebut. Ambil sebagai contohnya manusia bisa mengetahui bahwa seluruh alam raya ini dengan berbagai gugusan bintang dan planet tersebut dari sebuah bendak yang sangat kecil dimana kepadatannya tidak terukur, kemudian ia muntahkan dengan putaran yang sangat kuat, hingga saat ini menjadi garis edar yang teratur hingga yaumil akhir nanti

Allah berfirman:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Dan apakah orang-orang kafir itu tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya: 30)

Dalam ayat diatas, setelah dibaca dan dipahami kemudian menemukan bahwa hakekat alam raya ini adalah sesuatu yang padu dan tak terpecah belah. Berpisahnya dari materi yang satu itu dimulai dengan ledakan yang sangat dahsyat yang lebih dikenal dengan teori big bang. Begitu teori ini ditulis kemudian manusia tahu dan menambah kagum atas penciptaan alam semesta ini. Sungguh Allah maha kuasa terhadap segalanya.
Khutbah Jumat tentang Quran Sunnah & Masjid

Khutbah Jumat tentang Quran Sunnah & Masjid

Alhamdulillah pusat khutbah jumat masih bisa update beberapa judul lagi, semoga niat baik untuk saling share atau membantuk ini mendapat rahmat & rizki dari Allah swt. Aminnn
tema khutbah kali ini adalah kaitan antara Quran Sunnah & Masjid

Dalam rangka mengawal tegaknya kehidupan umat islam di dunia, ada tiga tiang penyangga yang harus ditegakkan, ketiganya berkaitan erat antara yang satu dengan lainnya, pilar itu adalah al Qur’an Sunnah & masjid. Ketganya menjadi rangkaian penunjang tegaknya kehidupan islami di alam marcapada ini. Hukum alquran harus ditegakkan, sunnah harus dijalankan & masjid harus di makmurkan, bukan mencari kemakmuran dari masjid

Hadirin sidang jumat yang mulya
Al Quran adalah kita rujukan ummat beragama islam tertinggi berfungsi sebagai induk yang mewadahi seluruh persoalan baik bebrsifat statis maupun dinamis, al quran selalu up to date dalam semua waktu, relevan sepanjang zaman di dalamnya tidak ada keraguan sedikitpun dalam menunjukkan ummat beragama yang benar sebagaimana firman Allah:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ.
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

Kedatangan al Quran akan membuat kehidupan ini bersinar & cahaya petunjuk yang terkandung di dalamnya akan membuat kita semua menjadi lebih berbahagia dibanding hari-hari sebelumnya (baca: Jahiliyah) dimana pada saat itu semua penduduk jahiliyah bertindak senewen dengan al Quran mereka menjadi hidup modern yang berkemanusiaan & berkepribadian, tentu ini tesis yang patut ditiru & diakui secara proporsional. Al Quran adalah cahaya yang menerangi jalan hidup ini

يَاأَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ.
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, & banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, & kitab yang menerangkan. (QS. al Maidah:15)

Allah juga berfirman di dalam ayat yang lain, mengungkap bahwa Al Quran adalah petunjuk bagi semua orang yang sebelumnya ia tidak mengetahi apa-apa tentang iman kepada Allah swt.

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ.
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) & tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. & sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Qs. As-Syuura:52)

Dalam ayat lain, Quran juga datang sebagai obat, ada perbedaan pendapat masalah ini, sebagian ulama’ berpendapat Al Qur’an adalah obat untuk luka fisik tapi ulama’ lain berendapat yang dimaksud adalah obat bagi penyakit hati. Terlepas dari itu semua ada baiknya kita mempercayai keduanya dengan menitik beratkan kepada pengobatan luka hati & kotornya hati ini. Bagaimanapun ada beberapa luka fisik & mental yang disembuhkan dengan cara ruqyah dengan menggunakan ayat-ayat al Quaran: Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ.

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu & penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada & petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yuunus:57)

Hadirin sidang jumat rahimakumullah…
Pilar kedua yang harus tegak dalam kehidupan sehari sebagai penopang kehidupan umat Islam adalah sunnah, Sunnah nabi hari terus ditegakkan degnan meniru tidak lampah rasulullah saw, meski dalam bentuk yang berbeda tetapi sengat & spirit yang melandasinya harus murni berasal darinya. Kemasan ibadahnya mungkin berbeda karena perubahan zaman tapi semangat yang tertanam dalam ibadah tersebut haruslah didasarkan atas sunnah rasulillah saw. Nabi saw juga pernah bersabda yang intinya barang siapa yang ingin selamat hidup di dunia akhirat maka pegangalah erat-erat kitabullah al quran & sunnah rasulillah saw.

Hadits yang berkaitan dengan hal ini telah tersebar dimana-mana, semoga kita adalah termasuk ummatnya yang mampu menegakkan sunnah, untuk diri kita sendiri, keluarga & ummat muslimin secara umum. Andaikan ada perbedaan, tentu perbedaan itu harus ditanggapi sebagai rahmat bukan sebagai pemecah belah antas sesama saudara muslim.

Sidang jumat rahimakumullah,
Pilar terakhir yang harus tegak adalah wadah untuk melakukan sholat yaitu masjid ada tiga benteng utama bagi orang mukmin, yaitu masjid, membaca alquran & dzikir kepada Allah, orang Islam yang berada dalam tiga keadaan ini maka orang tersebut akan aman dari gangguan setan yang terlaknat. Akan tetapi sebaliknya orang yang tidak betah tinggal terlalu lama didalam masjid maka orang tersebut ada inidikasi sifat munafik di dalam hatinya. An-Nazzal al Saburah berkata:” orang mnafik didalam masjid bagaikan burung di dalam sangkar”. Ia berontak ingin keluar darinya karena hidangan didalamnya berupa shalat, dzikir & membaca al Quran

Masjid itu sendir mempunyai banyak fungsi, diantaranya adalah sebagai pusat pengembangan agama, pendidikan, musyawarah keilmuan, penyucian diri dari dosa, tempat yang aman untuk bertobat, tempat I;tikaf & hal-hal lain yag bersifat ukhrowiyah.

Masjid adalah rumah Allah (baitullah) barang siapa yang masuk di dalamnya maka ia adalah tamu Allah, ia akan dimulyakan sebagaiman hak para tamu, sungguh pahal yang luar biasa besarnya. Semoga kita semua termasuk hamba Allah yang kelak akan mendapat naungan dari Allah disebabkan kita memakmurkannya. Tidak cukup denan memakmurkan secara fisik tetapi juga memakmurkan mental kita di dalam masjid, aminn ya rabbal ‘alamiin


Khutbah Jumat Tentang Arti Rizki Berkah

Khutbah Jumat Tentang Arti Rizki Berkah

Khutbah jumat kali ini akan membawakan judul menarik terkait tentang arti rizki berkah, fenomena sosial yang satu ini sangat penting untuk dijelaskan di mimbar jumat, sebab banyak yang sudah tak peduli lagi dengan asal muasal dan cara apa yang akan dipakai untuk mengais rizkis seolah-olah cara halal dan haram tak terbedakan dengan jelas.

Allah telah berbaik 'hati' kepada kita, memberikan rizki yang tiada henti, Allah maha kaya, kekayaannya telah terbukti, tidak habis meski telah dibagi bagi kepada seluruh makhluknya sejak terciptanya alam ini. Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang hamba Allah meminta rizki selain kepada-Nya. Menuru ibnu Mandzur, rizki ada yang bersifat Dhahir dan ada yang bersifat bathin, yang bersifat dhahir misalnya berupa, sandang, pangan dan papan, sedangkan rizki bathin misalnya, hilangnya kesedihan, sehat jasamiani ruhani dll.

Sering kita dengar hadits Nabi saw, yang memberkan informasi bahwa porsi rizki manusia telah ditulis oleh Allah sejak dalam kandungan berusia 120 hari. Untuk kelangsungan hidup manusia di dunia Allah melebihkan rizki antara hamba yang satu dengan yang lainnya, Terkadang kita menginginkan berlebih namun Allah tidak menghendaki atau juga sebaliknya. Orang lain tidak menyangka berharta lebih meski tidak diganrungi sejak masa kecilnya, Pendek kata Rizki adalah kuasa Allah ta'ala tidak bisa dipaksa-paksa, Allah berfirman:

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki.” (QS. An Nahl: 71)

 Hadirin sidang jumat Rahimakumullah
Yang tahu jumlah rizki yang diberikan kepada hambanya, hanya Allah ta'ala, semua rahasia itu erat dalam genggaman-Nya, manusia tidak tahu rizki apa yang akan diperoleh esok, dan manusia juga tidak tahu dengan cara apa Allah memberikannya. Pendek kata, bahwa rzki itu penuh dengan misteri. 

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا....….
" Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. (QS. Lukman : 34).

Karena tidak tahu itulah, supaya hambanya tidak bermalas malasan, dan ketika ada ketidak sesuaian menurut perhitungannya supaya manusia tidak terlalu kecewa, kketika ada ketidak sesuaian dengan keinginan supaya manusia mudah berserah diri dan tawakkal kepada Allah.

Dalam perjalan pencarian rizki manusia dihadapkan pada pilihan pilihan, ada cara yang halal namun lambat, ada cara singkat dengan menghasilkan rizki yang cepat, tidak sedikit manusia terjebak dalam pilihannya, sampai terjerumus ke dalam lembah nista, dengan cara mencuri atau korupsi, dengan cara manipulasi atau melalui cara tipu sana tipu sini. Mencari rizki sebagai sarana ibadah hukumnya adalah ibadah, tetapi dengan cara haram seperti ini, mencari rizki berharap mendapat rahmat, namun berbalik mendapat laknat, na'udzubillah min dzaalik 

Rizki disediakan oleh Allah untuk memenuhi kebutuhan hambanya, supaya hamba tersebut tenang dalam beribadah kepada-Nya. Karena itu mencarinya adalah ibadah yang mulia. Maka jangan sampai mencari rizki terjebak kepada rizki yang haram, baik haram secara dzatnya, maupun haram sebab memperolehnya.

Tidak sedikit orang orang yang salah pilih jalan untuk memperolehnya, sehingga yang asal muasal mencari rizki itu ibadah berubah menjadi
Ibarat orang minum, rizki itu sebagai gelasnya, minumlah dengan gelas yang bersih supaya badan yang sehat, jangan coba coba minum dengan gelas kotor kalau ingin hidup sehat. Jalani kehidupan ini dengan rizki halal dan berkah kalau ingin hidup berbahagia di dunia, sungguh harta yang tidak berkah itu banyak kelihatannya, besar dalam jumlahnya tetapi hakikatnya sedikit sekali manfaatnya, dan tidak punya pengaruh baik untuk mencapai kedamaian dalam hatinya. Karena Rizki yang berkah itu sangatlah penting

Rizki yang berkah adalah, rizki yang mempunyai efek kebaikan berlipat ganda di setiap lini kehidupannya, , pengertian berkah tidak selalu identik dengan jumlah materi yang dimiliki, tetapi berkah juga menyertai harta yang sedikit. Hal ini tercermin pada diri yang merasa berkecukupan memenuhi kebutuhan keluarganya, meskipun income yang didapatkan masih jauh dari cukup, namun tak jarang kita lihat kebahagiaan selalu menyelimutinya. Seperti yang disindir di dalam Hadits Hakim bin Hizam Radhiyallahu 'anhu di bawah ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya :
يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ
"Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini begitu hijau lagi manis. Maka barangsiapa yang mengambilnya dengan kesederhanaan jiwa, niscaya akan diberkahi. Dan barangsiapa mengambilnya dengan kemuliaan jiwa, niscaya tidak diberkahi; layaknya orang yang makan, namun tidak pernah merasa kenyang".( HR al Bukhari, kitab az Zakat)

Hadirin yang dimulyakan Allah…
Saat ini, banyak orang yang tidak peduli lagi dengan halal – haramnya pekerjaan, karena kekhawatiran yang menggelayuti hatinya, khawatir dengan masa depannya, kalau-kalau tidak mengumpulkan harta sebanyak banyaknya diwaktu usia produktifnya, ia akan kekuarangan dimasa tua sehingga tidak terkontrol, jalan apa saja ia tempuh tak peduli halal atau haram.
َ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ
"Akan datang suatu masa pada manusia, seseorang tidak peduli terhadap apa yang digenggamnya, apakah dari halal atau dari yang haram" (HR al Bukhari, kitab al Buyu’, bab Man Lam Yubali min Haitsu Kasaba al Mal (4/296)

Manusia hanya bertugas sebagai hamba yang berusaha dan Allah-lah penentunya. Jangan khawatir bahwa rizki kita akan terambil oleh orang lain, karena Allah sudah memberikan porsi tersendiri kepada hamba-hambanya. Antara yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Sungguh seseorang tidak akan meninggal dunia sampai jatah porsi rizki yang ditentukan oleh Allah telah habis dimakannya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ
"Wahai manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, pakailah cara baik dalam mencari (rizki). Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal sampai ia sudah meraih seluruh (bagian) rizkinya, meskipun tertunda darinya. Bertakwalah kepada Allah dan lakukan cara yang baik dalam mencari (rizki)" (HR Ibnu Majah)

Hadirin yang dimuliakan Allah
Hidup ini adalah pilihan-pilihan, ada pilihan baik ada pilihan buruk, termasuk dalam aktifitas mengais rizki. Dalam mencari rizkinya Allah, carilah yang halal dan berkah. Berkah (atau barokah), berasal dari kata الْبُرُوك (al buruk). Maksudnya ialah الثُّبُوت (menetap). Az Zajjaj mengartikan berkah, sebagaimana dikutip oleh al Qurthubi dalam tafsirnya, dengan limpahan pada setiap hal yang mengandung kebaikan. Kata itu pun dimaksudkan pula kepada makna pertambahan dengan tetap terpeliharanya dzat aslinya.

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, bahwa mayoritas manusia tidak memahami keberadaan berkah, kecuali pada harta yang semakin bertambah banyak. Maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan dengan perumpamaan yang sudah akrab dengan manusia. Yakni layaknya orang makan tetapi tidak pernah kenyang ( Fat-hul Bari : 3/337) 

Dari sini kita bisa mengetahui, bahwa cara-cara yang legal dalam mengais rizki, tidak hanya mendatangkan rizki yang halal lagi thayyib, tetapi juga akan berpengaruh pada lahirnya insan-insan masa depan, yaitu anak-anak yang berjiwa suci lagi berkepribadian luhur, lantaran mendapatkan asupan gizi dari makanan halal. Selain itu, juga dapat menghadirkan karunia lain, yang tidak bisa terpantau oleh indera ataupun dihitung dengan materi. Itulah berkah.

Hadirin yang dimulyakan Allah..
Riwayat lain mengatakan barangsiapa yang mengambilnya dengan keserakahan jiwa, niscaya tidak akan
diberkahi, layaknya orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang” (Riwayat Al Bukhari). Hadits ini memberikan pengertian yang mendalam, bahwa rizki yang tidak berkah, hanya besar dalam jumlahnya tetapi sediit sekali manfaat untuk kehidupannya. Mudah mudahan kita tidak terjebak kepada pilihan yang haram, haram secara dzatnya maupun haram sebab mencarinya amin ya rabbal alamin…
Khutbah Jumat Tentang Khusnul Khatimah Harga Mati

Khutbah Jumat Tentang Khusnul Khatimah Harga Mati

Tak lelah ku berbagi di blog khutbah jumat ini, berharap banyak semoga bisa bermanfaat dan bisa mewarnai kehidupan orang banyak yang sedang berlomba-lomba menyambut datangnya ajal dalam keadaan khusnul khatimah. Selama menjelajahi isi blog ini, kritik dan saran membangun sangat kami harapkan. Oiya untuk muqaddimah, do’a dan lain-lain silahkan buat sendiri. Dan barang siapa ingin berbagi khubah silahkan kirim via email: tiarafida@gmail.com

Jamaah jumat rahimakumullah
Dalam sisi kehidupan tersimpan tersimpan pula misteri kematian. Fenomena kematian sangat ditakuti oleh semua orang, karena ‘ia’ akan memiasahkan manusia dari kesenangan suasana dunia dan bendawi. Tentunya semua orang mengingnkan akhir hidup yang baik (khusnul khatimah), karena meninggal dalam keadaan khusnul khotimah meruapakan kemenangan terbesar dalam rangkaian hidup ini. Ibarat lomba lari, kemenangannya bukan ditentukan start atau pertengahan lintasan, tetapai kemenangannya ditentukan siapa yang bisa mencapai garis finish terdaulu dengan baik.

Begitu juga dalam kehidupan, kematian menjadi batas finish hidup akan sangat ditentukan berakhir dengan khusnul khotimah kah? atau justreu sebaliknya mengakhir kehidupan ini dengan garis finish kematian yang buruk (su’ul khatimah).

Hamba Allah yang beriman mesti cerdas menentukan pilihannya, seharusnya memilih khusnul khatimah daripada memilih gemerlapnya dunia. Sesungguhnya setan sangat mengkhawatirkan kepada manusia yang meminta khusnul khatimah daripada meminta dunia dan seisinya. Karena mukmin yang memilih islam ia berakhir masuk surga. Berbeda dengan pilihan dunia, mudah sekali bagi setan untuk menggelincirkannya. jangan pernah terlewatkan sedikitpun meminta kepada Allah di jemput ajal dalam keadaan husnul khatimah.

Datangnya kematian adalah misteri yang belum dan tak akan pernah terpecahkan, karena kematian erat dalam genggaman Allah swt. Dan apapbila kematian datang maka tidak akan bisa ditunda walaupun sesaat. Allah berfirman didalam surat al-A’raf:34

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ.
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Jika kita yakin bahwa batas waktu kehidupan atau yang biasa disebut ajal itu misterius dan hanya allah yang menggenggamnya, sedang di sisi lain kita menginginkan hidup berkahir dengan khusnul khatimah maka terus menerus berbuat baik diliputi dengan islam dan taqwa adalah “harga mati” yang tak bisa ditawar lagi. Nabi Ibrahim as kepada keturunannya, yang jika diperluas termasuk kepada kita semua, di dalam al Qur’an surat Al Baqarah: 132
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. : "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

Terus meneruslah berpegang islam diatas pondasi taqwa supaya datang ajal yang tidak bisa diprediksi itu kita berada dalam kondisi bertaqwa kepada Allah swt. Paling tidak itulah alasan mengapa kita harus bertaqwa secara terus menerus.

Hadirin jamaah jumat rahimakumullah
Terakhir yang akan khotib sampaikan pada khutbah jumat kali ini ialah ungkapan seorang salafusholih yang pernah mengatakan: “andaikan aku dijamin oleh Allah ketika melewati pintu rumahku mati syahid, maka ak akan lebih memilih ematian dalam keadaan islam di ddepan pintu kamarku”. Karena kita tidak tahu apa yang terjadi perjalanan antara yang pitu kamar menuju pintu rumah. Wassalam….

Khutbah Jumat tentang Tantangan Ulama Masakini

Khutbah Jumat tentang Tantangan Ulama Masakini

Pusat khutbah jumat adalah portal untuk berbagi khutbah, setelah sebelumnya posting khutbah tentang umur sebagai modal hidup menuju mati, sekarang saya akan berbagi khutbah jumat berkaitan dengan tanggung jawab ulama’ dalam kaitannta menjawab tantangan yang berkembang di masyarakat yang terus meningkat. Kali ini saya mencoba lebih lengkap lagi, selamat membaca


الحمد لله الذى اكرم الأنبيأ و العلمأ. وبشربالجنة للشهدأوالفقهأ.
أشهد ان لاإله إلاالله احكم الحكمأ. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله اصحاب الكرمأ
اللهم صل على سيدنا محمد. وعلى اله وأصحابه ومن تبعه الى يوم الجزأ.
أما بعد،فياعبادالله، إتقو الله ماستطعتم، فاعلموا أن الله أمركم بالتقوى من دار الفنأ إلى دار البقأ.

Puji syukur ke hadirat yang Maha Kuasa, atas kuasanya yang telah memberikan karunia kepada kita semua, berupa ketentraman di rumah, berupa tenaga di tempat kerja serta memberikan kekuatan iman dan Islam dimanapun berada. Shalawat salam mudah-mudahan tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhamad saw. Sebagai perantara sumber segala keilmuan yang membawa perubahan dari zaman yang sesat menuju zaman beradab.

Hadirin jama’ah jum’at yang dimulyakan Allah.
Kita semua tahu bahwa Allah mengutus para Nabi dan Rasul dari Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad adalah untuk menyampaikan risalah tauhid tauhidullah, menjalankan yang haq dan menjauhkan yang bathil. Rasul utusan Allah diperintah untuk menjawab tantangan yang berkembang pada zamannya

Nabi Adam memperjuangkan tauhid, di tengah peradaban ummatnya yang kanibal, Ibrahim as memurnikan tauhid di bawah tekanan Namrudz, Musa as dibawah bayang-bayang teror raja Fir’un samapi Nabi Muhammad pun mendapat tantangan besar.

Jika masa lampau masih di utus Nabi untuk memutuskan problema yang berkembang di masyarakat, lalu siapa yang harus membawa perubahan pada saat sekarang ini, Marilah kita merenungkan hadits Nabi 

إن العلمأ ورثة الأنبيأ
Sesungguhnya Ulama’ adalah pewaris para Nabi,
Munurut Ibn Hajar Al Atsqalaniy, hadits diatas ditemukan di dalam riwayat Imam Abu Daud, Imam Tirmudzi dan Ibn Hibban, yang dinilai oleh Ibn Hakim sebagai hadits yang shahih.
Kemudian di dalam Al-Qur'an kita temukan ayat yang mengatakan al fathir :32

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ.
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

Dari kedua dasar tersebut dapat disimpulkan bahwa perubahan menunju masyarakat yang jujur, disiplin dan tegaknya syiar Islam merupakan tugas pelimpahan yang diemban oleh para ulama’. Nabi kita tidak mewariskan emas dan dirham, tetapi mewariskan kearifan, berupa prilaku santun dan mulia dalam berdakwah. Inilah tugas dan peran penting yang harus selalu didukung oleh hamba Allah yang shalih-shalih.
Sepanjang sejarah, banyak sekali kita jumpai peran ulama’ cukup mendominasi untuk menciptakan perubahan di nusantara ini, kita mengenal KH. Hasyim As’ari. H. Agus Salim, Imam Bonjol dan lain sebagainya semuanya memberikan citra baik dalam perjuangan membasmi penjajahan. Lantang menyuarakan dalam ceramah maupun khutbah mereka

Jika kita tengok kembali maka, maka yang diwariskan tentunya bukanlah berupa benda materi karena dalam hadits lain Nabi juga memberikan isyarat bahwa yang ditinggalkan untuk ummatnya bukanlah berupa emas atau perak yang melimpah akan tetapi yang diberikan tuntunan hidup yang benar, berupa al qur’an dan sunna. Dari sini peran ulama’ sangat dibutuhkan dalam mengubah tatanan kehidupan yang bathil menuju kehidupan yang haq dan benar.

Hadirin yang diselamatkan oleh Allah
Ketidak berhasilan seorang ulama’ tidak semata-mata disebabkan oleh semangat kinerjanya ulama’ itu sendiri, tetapi pengalam sehari-hari membuktikan kita semua sebagai pengikutnya yang enggan menerima fatwa dan nasehat dari ulama’. Perubahan menuju masyarakat yang berbudaya baik sudah diciptakan akan tetapi personal masyarakatnya yang masih saja enggan menerima perubahan, Orang yang menerima dakwah yang demikian ini maka hatinya akan ditutup oleh Allah dan tidak akan mendapatkan petunjuk selama-lamanya. Persis seperti firman Allah yang di dalam surat al Kahfi :57

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَى فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا.
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya,

Akhir dari khutbah ini, khotib ingin menyampaikan betapa berat Tugas seorang ulama’, banyak aral dan tantangan yang terus menjelma menjadi batu sandungan untuk menghalangi suksesnya dakwah, maka dari itu marilah kita mulai dari diri kita masing-masing untuk membuka diri kita untuk mau di tempatkan ke dalam ajaran agama yang sebenar-benarnya, semakin banyak petunjuk yang masuk ke dalam diri kita semakin lurus jalan kita..
بارك الله لى ولكم فى القرأن العظيم ونفعنى وإياكم بما فيه من الأيات و الذكر الحكيم . وتقبل منى ومنكم تلا وته إنه هو الغفور الرحيم



Khutbah Jumat Tentang Urgensi Berkata Baik

Khutbah Jumat Tentang Urgensi Berkata Baik


Mungkin ketika membuka web pusat khutbah ini ingatan kita masih lekat dengan khutbah-khutbah sebelumnya, diantaranya adalah tentang tantangan ulama’, posting kali ini, ada kaitan yang cukup erat dengan postingan sebelumnya. Bahwa seorang khotib harus mampu mengemas bahasa yang baik yang tidak membuat gaduhnya suasana dalam hati. Yang berpengaruh kepada jamahnya. Karena itu perlu mengenal

“bahasa” ber-khutbah adalah sesuatu yang urgent. Agar kelak setelah perjalanan umur ini selesai, kalkulasi perkatan baik lebih banyak daripada perkataan yang buruk.

Perjalanan umur yang kita lalui ini antara lain adalah lahir kemudian hidup di dunia dan selanjutnya siap atau tidak siap akan menemui batas akhirnya berupa kematian. Kematian jasmaniyah tidak berarti berakhir segala-galanya, tetapi harus yakin bahwa kematian adalah pintu gerbang baru yang memasuki alam yang baru pula yaitu alam kematian.

Jika dalam semua kehidupan dunia bersifat misterius maka setelah mati adalah masa kehidupan yang transparan, tidak ada yang tertutupi oleh apapun jua, semua jejak hidup di dunia terungkap nyata dan di sanalah tempat pembalasan semua perkataan. Dalam hidup ini sudah banyak sekali yang pernah kita lakukan, akan tetapi menurut khotib sendiri ada perbuatan yang sering tidak sadari dan menempati rating pertama paling aktif yakni berbicara atau berkata-kata.

Entah berapa juta kata yang pernah terlontar dari lisan kita ini, perlu kita pahami bersama bahwa pembicaraan itu bagaikan sebuah wadah, berharga tidaknya wadah dilihat dari isinya. Drum yang berisi air tentu lebih murah daripada drum yang berisi minyak tanah, branngkas yang berisi uang tentu harganya tak seberapa jika dibandingkan dengan berangkas yang berisi berlian.

Jika diterima logika di atas, maka perkataan pun demikian, banyak sedikitnya uantaian kata tidak secara otomatis menjadi ukuran, yang berpengaruh terhadap ukuran adalah isi atau bobot perkataan itu sendiri. Siapapun orangnya yang berkata tidak baik maka perkataan itu akan memakan dirinya sendiri, tak peduli jenderal, perwira ataupun kopral. Sebaliknya, siapapun yang berkata baik maka akibat baiknya akan menimpa si pembicara itu tadi. Karena kualitas isi itulah, diam adalah sebuah pilihan mulya dan tindakan yang bijaksana. Rasul saw bersabda:

من كان يؤمن با الله و اليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت.
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diamlah

Hadits diatas, dengan tegas menjadi teguran, bahwa diam adalah piliha terbaik dari pada harus berkata-kata yang tidak ada manfaatnya, diam bak permata. Bagi orang ‘alim diam akan menjadi hiasan yang melekat dalam durunya sefangkan bagi orang yang tidak alim maka akan tertutupi seluruh kebodohanya. Hadits lain: “selamatnya seseoranag dalam pemeliharaan lisannya”.

Hadirin rahimakumullah…
Begitu pula sebaiknya, berkata baik akan berbalas kebaikan, membayangkan andai berkata tentang petunjuk kebaikan kemudian diamalkan oleh lwan bicara, maka selama perbuatan baik itu dilaksanakan pahalanya akan mengalir, meskipun telah berpulang keharibaa-Nya. Allah akan membalas kebaikan dengan pahal tetapi bagi orang-orang yang berkata tidak baik maka keburukan akan menimpanya:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا (الإسرأ:7).
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,

Setiap perkataan yang diucapkan nyata tertulis dalam lauhmahfudz, kelak setelah meninggal dunia maka Allah akan memberikan balasan yang setimpal, Allah berfirman;
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ (الرحمن: 60)
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

Mari kita sama-sama melakukan perhitungan terhadap perkataan kita setiap harinya, lebih banyak mana antara yang baik dan yang buruk. Semoga kita adalah termasuk orang orang yang selalu dibimbing oleh Allah melalui perkataan yang baik. Salam khutbah
Ringkasan Khutbah Belajar Mati dari Tidur

Ringkasan Khutbah Belajar Mati dari Tidur

Pusat Khutbah jumat membuat skema ringkas dengan tema ringkasan khutbah belajar mati dari tidur. Setiap makhluk hidup akan mengalami peristiwa ini, karena itu sangat menarik dan membuat banyak orang penasaran, silahkan simak lanjutannya…

Jamaah jum’at rahimakumullah…
Allah mengajarkan kepada hambanya yang mau berfikir dengan berbagai bentuk ayatnya baik yang bersifat tekstual maupun kontekstual (kauniyah), misalnya terjadinya siang dan malam yang berguna untuk istirahat dan mencari penghidupan, sinar matahari untuk menghidupkan tumbuh-tumbuhan, ada juga pelajaran dari penciptaan hewan dan segala sistem unik yang melekat padanya. Sebut saja, lebah penghasil madu dengan sistem kerja yang teratur, melalui aktifitas keseharian, misalnya tidur.

Dalam fenomena tidur menyimpan banyak rahasia, dengan tidur kita diajarkan mensyukuri dan mengistirahatkan diri secara sempurna, tetapi yang terhebat dari pelajaran tidur ialah pelajaran tentang arti kehidupan dan kematian. Pada saat tidur seolah kita dibawah ke sebuah alam tersendiri yang jauh dari hiruk pikuk kegiatan dunia nyata, pada saat bangun seolah kita terlahir kembali. Dan begitulah seterusnya. Jika tidur adalah sebuah kematian kecil, dan bangun adalah kelahiran kembali, maka jadikan setiap hari ini bersyukur karena kita setiap hari berarti berulang tahun.

Tidur kita adalah bagian dari latihan mati, dan secara psikologis al Qur'an menyebut tidur adalah bagian dari kematian, hanya bedanya jika tidur Allah memegang roh kita untuk dikembalikan, tetapi jika terjadi mati maka Allah, menggenggam ruh seseorang dan tidak dikembalikan, kuranglebihnya seperti itulah gambaran tidur dan kematian.

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ.

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

Dalam keadaan tidur seseorang tidak berdaya menghadapi bahaya sekecil apapun, sehingga do’a yang kita baca juga berisi penyerahan diri atau pamitan untuk mati: “Dengan menyebut namamu saya hidup dan mati” do’a penyerahan seluruh jiwa dan raga pada saat tidur. Dalam tidur kita tidur kita selalu diingatkan bahwa suatu saat akan mati, tinggal menunggu tanggal mainnya saja.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ.

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (al. A’raf: 34)

Kematian sangat menakutkan karena memutuskan semua hubungan dengan duniawi, baik hubungan yang bersifat bendawi maupun suasana dunia. Karena itu banyak orang yang lebih memilih tidak memikirkannya dan berusaha menghindarinya agar setiap jengkal kehidupannya merasakan kebahagiaan.
Begitu juga ketika bangun, kita memuji kepada Allah seraya berdo’a :”segala puji bagi Allah yang telah meghidupkan sesudah mematikan di saat tidur tersebut.

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ
Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.(al Mukminun:16)
semoga khubah jumat kali ini berpengaruh untuk diri sendiri dan kepada para seluruh jama'ah jumat amiin Disadur dari berbagai sumber

Thursday, July 24, 2014

Khutbah Jumat tentang Motif Menjadi Pemimpin Syahwat atau Amanat

Khutbah Jumat tentang Motif Menjadi Pemimpin Syahwat atau Amanat

Kita semua tentu sudah tahu betapa pentingnya keberadaan seorang pemimpin, jangankan bangsa yang sebesar bangsa kita ini, dalam aturan syara’ bahkan hanya beberapa orang saja dalam perjalanan hendaknya ada di antara mereka yang ditunjuk sebagai pimpinan. Ibn Taimiyah didalam al hisbah menyatakan bahwa pemimpin dibentuk tidak lain adalah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, memerintahkan kebaikan dan menghapus kebathilan.

Menjadi pemimpin bukanlah hal mudah, karena yang dipimpin adalah manusia, sedangkan manusia mempunyai isi kepala yang berbeda beda, beda pola pikirnya, beda keinginannya dan beda pula tujuan hidup yang hendak capainya. Betapa berat amanat yang harus dipikul oleh seorang pemimpin terutama menegakkan keadilan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang dipimpinnya. Oleh karena itu dalam pentas sejarah seorang sahabat dan tabiin banyak yang enggan menerima jabatan, seandainya tidak karena panggilan kewajaiban didalam dirinya.

Pemimpin yang amanah menjadi jalan cepat menuju ampunan dan kemulyaan dari rabb-nya, bahkan keutamaannya tidak akan ditolak do’anya, ia akan mendapat naungan dari Allah di akhirat kelak. Namun sebaliknya pemimpin yang tidak amanah, tidak menjadikan landasan hukum sebagai patokan aktifitasnya, enggan berfikir mensejahterakan ummat yang dipimpinnya, maka keadaannya akan hina dina di hadapan Allah swt.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27).

Sebagai seorang muslim tentu kita tahu kisah pelimpahan Khalifah (presiden) Abu Bakar saat menunjuk Umar bin Khattab sebagai calon penggantinya, Umar menangis tersedu-sedu dalam tangisnya beliau mengatakan “jika Engkau benar mencintaiku, janganlah kau bebankan amanat itu ke pundakku!”. Untaian tangis Umar bin Khattab tersebut menunjukkan betapa beratnya beban amanat yang diemban sebagai seorang penguasa,

Sahabat sekaliber Umar ra, yang mempunyai kecerdasan, hidup dalam kesederhanaan, imannya kuat tak mudah goyah, ketegasannya tak pernah terabaikan serta keberaniannya tak diragukan masih merasa berat menerima beban amanat sebagai penguasa, apalagi bila amanat itu diberikan kepada orang yang kecerdasannya pas-pasan, keberaniannya mudah dikalahkan, serta sifat tegasnya mudah lelap oleh iming-iming suap. Tentu bukan menjadi rahmat akan tetapi malah menjadi laknat baginya

Sahabat Nabi Miqdad bin Amr sang pemberani di medan perang pernah ditunjuk oleh baginda Nabi saw sebagai gubernur di sebuah wilayah, beberapa bulan setelah itu ditanyakan kabarnya, Miqdad bin Amr menjawab: “Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, mulai saat ini saya tidak akan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang."

Begitu pula dialami oleh Umar bin Abdul Aziz, beliau bermandikan air mata saat ditunjuk sebagai khalifah karena takut tidak mampu memikul beban amanat yang teramat berat, bukan berpesta ria atau syukuran seperti sekarang
-o0o-
Jama’ah Jumat rahimakumullah
Kepemimpinan adalah Amanat dari ummat untuk mengurus kesejahteraan orang banyak, jabatan adalah pelayan public, tetapi trend saat ini menjadi pelayan seolah menjadi predikat yang perebutkan. Kekuasaan sepertinya tidak dipikirkan tanggungjawabnya sebagai amanat tetapi lebih kepada hasrat menjadi penguasa, jabatan bukan diberikan tetapi diminta, ada baiknya kita simak Sabda Nabi saw dibawah ini 

يَا عَبْدَ الرَّحْمنِ بن سَمُرَةَ لاَ تَسْألِ الإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَها عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْها
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong). ” Hadits ini diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih

Dalam Islam amanat adalah dasar bagi siapa saja yang diangkat menjadi pemimpin baik skala kecil maupun besar, Dalam al Qur-an terdapat sejumlah ayat yang menegaskan keharusan pemimpin melaksanakan amanat.
“Sesungguhnya Allah mewajibkan kamu untuk menyampaikan hak-hak orang lain (amanat). Dan jika kamu memutuskan hukuman maka putuskanlah dengan adil”. Amanat juga merupakan bagian dari keimanan. Nabi saw pernah menyatakan : “tidak ada iman bagi orang yang tidak menjaga amanat” (QS Al-Nisa' [4]: 58-59).

Imam Nawawi ra berkata, “Ini pokok penting yang menunjukkan agar kita menjauhi kekuasaan lebih-lebih bagi orang yang lemah. Orang lemah yang dimaksud adalah yang mencari kepemimpinan padahal ia bukan ahlinya dan tidak mampu berbuat adil, tapi inilah realitas yang menghiasi para penggila kekuasaan.

Sungguh benar prediksi Rasulullah saw
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ علي الإِمَارَةِ وَ سَتَكُوْنُ نَدَامَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan. ” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7148), untuk mendapatkan gambaran lebih jelas silahkan baca Penguasanya Singa, Menterinya Srigala
. Wallahu a’lam.”

Thursday, May 2, 2013

Klasifikasi Thulul Amal dan Bahayanya


Pusat khutbah jumat akan terus rutin mengupdate khutbah setiap hari jumat pagi, berilah semangat untuk menyebarleaskan khutbah, semoga bermanfaat dan menjadi amal baik admin pusat khutbah jumat.

Hadirn sidang jumat yang dimulyakan Allah…
Alkisah, pada saat Allah mengeluarkan keturunan Nabi Adam pada hari perjanjian (yaumul mitsaq) para malaikat bertanya, YA Allah bumi tidak muat menampung mereka, maka Allah berfirman, sesungguhnya aku ciptakan maut, malaikat balik bertanya:” hidup mereka tidak merasakan kenyamanan?, Allah berfirman, aku ciptakan angan-angan (al amal).
Terlepas dari kesahihan kisah di atas, tetapi inti pelajaran yang dapat diambil adalah hati-hati dengan thulul amal, karena thulul amal diciptakan untuk menguji kualitas persiapan manusia setelah mati, angan-angan membuat lupa dan asyik dengan duniawi, sejatinya duniawi adalah permainan belaka, Allah berfirman:
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ.
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (al- Ankabut[29]:64)

Panjang angan-angan yang dimaksud di sini adalah merasa dirinya hidup dalam waktu yang lama, merasa dirinya jauh dari kematian, padahal rotasi perjalanan hidup itu meninggalkan titik kelahirannya dan menuju ke titik puncak kematiannya. Siapapun bisa mengidap penyakit thulul amal, terbukti masih kosongnya ruang masjid, majlis taklim, pesantren atau lahan tempat beramal lainnya, dengan dalih masih ada kesempatan untuk beramal baik di lain waktu. Tidak sadar bahwa kematian selalu mengintai kapan dan dimanapun jua.

Sidang jumat rahimakumullah..
Thulul amal dapat diklasifikasikan Ada tiga bentuk thulul amal manusia sesuai dengan golongan kedekatannya kepada Allah

Pertama para Nabi dan rasul serta hamba Allah yang benar-benar tinggi tingkat ketaqwaannya (as-siddiqiin) tidak mempunyai angan-angan sama sekali, setiap detiknya ingat akan kematian, menatap kehidupan ini dengan langkah yang mantab bahwa Tuhan akan memanggil siapaun keharibaannya sesuai dengan kehandaknya. Para Nabiyullah mengayunkan langkah menatap ke depan penuh keyakinan bahwa ajal seolah berada selangkah lagi. Oleh karenanya semua tindakannya berorientasi ukhrawiy. Nabi saw bersabda:

واللذى نفسى بيده ما رفعت قدمى فظننت أنى أضعها حتى أقبض ولارفعت لقمة فطننت أنى أسيغها حتى أغص بهامن الموت

Kedua, orang yang mempunyai angan-angan tetapi sama sekali tidak mengganggu ketaatannya kepada Allah,senantiasa dirinya disibukkan dengan bersiap-siap dijemput ajal kapanpun jua, dengan penuh kesadaran yang mantab bahwa manusia selalu mendekati kematian, umur yang bergulir senantiasa bersanding dengan ajal terus menerus membuntuti al yang ia kumpulkan tidak hanya untuk hidup di bumi ini setelah ajalnya tiba nanti.

Ketiga, orang yang angan-angannya panjang, merasa masih mempunyai kesempatan hidup bahwa hidup ini masih lama menuju pintu kematian, akjibatnya menunda taubat, tidak bergsegera berbuat kebajikan. Orang yang panjang angan-angannya akan meremehkan perbuatan baik dengan tidak melaksanakan segera, juga meremehkan dosa karena didepannya pintu taubat masih terbuka lebar untuknya, nyaris tidak berbuat kebajikan, pantas ada ungkapan dari para ulama'-ulama' terdahulu “Orang yang panjang rasa hidupnya di dunia maka jelek amalnya”

Sidang jumat yang dimulyakan Allah
Mengapa agama islam begitu perhatian terhadap thulul amal, karena thulul amal menyebabkan lalai akan hadirnya kematian dan kerakusan. Lali karena merasa hidup lebih lama, rakus karena hidup dengan durasi yang lama membutuhkan biaya yang lebih banyak. Padahal manusia tidak akan pernah puas dengan segala macam kepemilikannya hatta mempunyai dua lembah dari emas sekalipun manusia tidak akan pernah puas.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ.
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (al-An’am[6]:32)

Ali kw, pernah mengatakan:”sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan angan-angan panjang ( thulul amal ), mengikuti hawa nafsu membuat tertutup dari kebaikan sedangkan angan-angan yang panjang menumbuhkan sifat loba terhadap kehidupan dunia. Gebyar warna-warni godaan dunia membuat manusia menginginkan hidup lebih lama dari jatah usia yang telah ditentukan, bukan untuk memperbanyak ibadah tetapi ingin memandang kehidupan duniawi ini lebih lama dari garis tepi usia yang telah ditentukan. Allah melarang perbuatan ini, sebagaimana firmannya:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى.
Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Thaaha[20]:131)

Hadirin sidang jumat yang dimuliakan Allah
Sudah menjadi kodrat manusia bahwa, apabila barang duniawi dambaannya telah di dapat maka akan muncul barang lain untuk dimiliki juga, demikian ini akan terus menerus berlangsung hingga liang kubur menjadi tempat terakhirnya..

Teramat berharga hidup ini untuk berjuang demi mendapatkan duniawi yang tidak pernah abadi, marilah kita renungkan kembali bahwa kematian selalu mengintai terus memburu manusia tak kenal lelah. Kematian adalah sebuah lakon hidup yang harus dijalani setiap insan, naluri akal sehat selalu memilih kepentingan abadi dan hakiki yakni kepentingan ukhrawi. Setiap siratan thulul amal datang hinggap di dalam hati ketahuilah sesusngguhnya itu adalah bisikan ssyetan belaka. QS 4. An Nisaa':120

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمْ ٱلشَّيْطَـٰنُ إِلاَّ غُرُوراً
"Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak (QS. An Nisaa'[4]:120)

===