Khotbah Paling Populer

Showing posts with label Khutbah Idul Adha. Show all posts
Showing posts with label Khutbah Idul Adha. Show all posts

Tuesday, October 4, 2016

Khutbah Idul Adha: Kisah Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim AS


KHUTBAH PERTAMA:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3)اللهُ اَكبَرْ (×3
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ
اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Di pagi hari yang penuh berkah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Baru saja kita ruku’ dan sujud sebagai pernyataan taat kepada Allah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti. Tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut di sembah kecuali Allah.

Karena itu, melalui mimbar ini saya mengajak kepada diri saya sendiri dan juga kepada hadirin sekalian: Marilah tundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan Allah Yang Maha Besar. Campakkan jauh-jauh sifat keangkuhan dan kecongkaan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Apapun kebesaran yang kita sandang, kita kecil di hadapan Allah. Betapa pun perkasa, kita lemah dihadapan Allah Yang Maha Kuat. Betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh kita, kita tifdak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Idul adha yang kita rayakan pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah juga dikenal dengan sebuatan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin yang sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
Disamping Idul Adha dinamakan hari raya haji, jiga dinamakan “Idul Qurban”, karena merupakan hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Arti Qurban ialah memberikan sesuatu untuk menunjukkan kecintaan kepada orang lain, meskipun harus menderita . Orang lain itu bias anak, orang tua, keluarga, saudara berbangsa dan setanah air. Ada pula pengorbanan yang ditujukan kepada agama yang berarti untuk Allah SWT dan inilah pengorbanan yang tinggi nilainya.

Masalah pengorbanan, dalam lembaran sejarah kita diingatkan pada beberapa peristiwa yang menimpa Nabiyullah Ibrahim AS beserta keluarganya Ismail dan Siti Hajar. Ketika orang ini telah membuat sejarah besar, yang tidak ada bandingannya: Yaitu ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istrinya Hajar bersama Nabi Ismail putranya, yang saat itu masih menyusu. Mereka ditempatkan disuatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun. Nabi Ibrahim sendiri tidak tahu, apa maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya yang masih bayi itu, ditempatkan di suatu tempat paling asing, di sebelah utara kurang lebih 1600 KM dari negaranya sendiri palestina. Tapi baik Nabi Ibrahim, maupin istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal.

Karena pentingnya peristiwa tersebut. Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an:
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Artinya: Ya Tuhan kami sesunggunnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahmu (Baitullah) yang dimuliakan. Ya Tuhan kami (sedemikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah gati sebagia manusia cenderung kepada mereka dan berizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim: 37)

Seperti yang diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa tatkala Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak biasa menyusui nabi Ismail, beliau mencari air kian kemari sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Tiba-tiba Allah mengutus malaikat jibril membuat mata air Zam Zam. Siti Hajar dan Nabi Ismail memperoleh sumber kehidupan.

Lembah yang dulunya gersang itu, mempunyai persediaan air yang melimpah-limpah. Datanglah manusia dari berbagai pelosok terutama para pedagang ke tempat siti hajar dan nabi ismail, untuk membeli air. Datang rejeki dari berbagai penjuru, dan makmurlah tempat sekitarnya. Akhirnya lembah itu hingga saat ini terkenal dengan kota mekkah, sebuah kota yang aman dan makmur, berkat do’a Nabi Ibrahim dan berkat kecakapan seorang ibu dalam mengelola kota dan masyarakat. Kota mekkah yang aman dan makmur dilukiskan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
Artinya: "Dan ingatlah ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kiamat.” (QS Al-Baqarah: 126)

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Dari ayat tersebut, kita memperoleh bukti yang jelas bahwa kota Makkah hingga saat ini memiliki kemakmuran yang melimpah. Jamaah haji dari seluruh penjuru dunia, memperoleh fasilitas yang cukup, selama melakukan ibadah haji maupun umrah.

Hal itu membuktikan tingkat kemakmuran modern, dalam tata pemerintahan dan ekonomi, serta kaemanan hukum, sebagai faktor utama kemakmuran rakyat yang mengagumkan. Yang semua itu menjadi dalil, bahwa do’a Nabi Ibrahim dikabulkan Allah SWT. Semua kemakmuran tidak hanya dinikmati oleh orang islam saja. Orang-orang yang tidak beragama Islam pun ikut menikmati.

Allah SWT berfirman:
قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Artinya: Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun, aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka. Dan itulah seburuk buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126)

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Idul Adha yang kita peringatisaat ini, dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari rara memotong kurban binatang ternak. Sejarahnya adalah bermula dari ujian paling beratyang menimpa Nabiyullah Ibrahim. Akibat dari kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan “Khalilullah” (kekasih Allah).

Setelah titel Al-khalil disandangnya, Malaikat bertanya kepada Allah: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu. Padahal ia disibukkan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya?” Allah berfirman: “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal bhaktinya!”

Sebagai realisasi dari firmannya ini, Allah SWT mengizinkan pada para malaikat menguji keimanan serta ketaqwaan Nabi Ibrahim. Ternyata, kekayaan dan keluarganya dan tidak membuatnya lalai dalam taatnya kepada Allah.

Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner. Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang “milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga.”

Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya jika dikehendaki oleh Allah itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa spektakuler itu dinyatakan dalam Al-Qur’an:
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya: Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnay aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS Aa-saffat: 102)

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, sang anak, dan sang ibu silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah noleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan niatnya. Mereka tidak terpengaruh sedikitpun untuk mengurunkan niatnya melaksanakan perintah Allah. Ibrahim melempar iblis dengan batu, mengusirnya pergi. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah.

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Ketika sang ayah belum juga mengayunkan pisau dileher putranya. Ismail mengira ayahnya ragu, seraya ia melepaskan tali pengikat tali dan tangannya, agar tidak muncul suatu kesan atau image dalam sejarah bahwa sang anak menurut untuk dibaringkan karena dipaksa ia meminta ayahnya mengayunkan pisau sambil berpaling, supaya tidak melihat wajahnya.

Nabi Ibrahim memantapkan niatnya. Nabi Ismail pasrah bulat-bulat, seperti ayahnya yang telah tawakkal. Sedetik setelah pisau nyaris digerakkan, tiba-tiba Allah berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannyatidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi kedua ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 107-110:
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
“Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.”
سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ
“Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim.”
كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril kagum, seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menjawab “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian dismbung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Inilah sejarah pertamanya korban di Hari Raya Qurban. Yang kita peringati pada pagi hari ini. Allah Maha Penyayng. Korban yang diperintahkan tidak usah anak kita, cukup binatang ternak, baik kambing, sapi, kerbau maupun lainnya.

Pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang paling besar dalam sejarah umat umat manusia itu membuat Ibrahim menjadi seorang Nabi dan Rasul yang besar, dan mempunyai arti besar.

Dari sejarahnya itu, maka lahirlah kota Makkah dan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam seluruh dunia, dengan air zam-zam yang tidak pernah kering, sejak ribuan tahunan yang silam, sekalipun tiap harinya dikuras berjuta liter, sebagai tonggak jasa seorang wanita yang paling sabar dan tabah yaitu Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail.

Hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan shalat Idul Adha, bahwa hakikat manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah taqwanya. Dan bagi yang menunaikan ibadah haji, pada waktu wukuf di Arafah memberi gambaran bahwa kelak manusia akan dikumpulkan dipadang mahsyar untuk dimintai pertanggung jawaban.

Di samping itu, kesan atau i’tibar yang dapat diambil dari peristiwa tersebut adalah: Pertama, perintah dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT, harus dilaksanakan tanpa reserve. Harus disambut dengan tekad sami’na wa ‘ata’na. Nabi Ibrahim, istri, dan anaknya, telah meninggalkan contoh bahwa bila perlu, jiwa sendiripun haruslah dikorbankan, demi melaksanakan perintah-perintah Allah.

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

I’tibar kedua yang dapat kita tarikdari peristiwa tersebut, adalah kegigihan syaitan yang terus menerus mengganggu manusia, agar membangkang dari ketentuan ilahi. Syaitan senantiasa terus berusaha menyeret manusia ke jurang kejahatan dan kehancuran. Allah sendiri mengingatkan kepada kita.
وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Ketiga, jenis sembelihan berupa bahimah (binatang ternak), merupakan gambaran bahwa hawa nafsu hawaiyah harus dihilangkan.

Keempat, bahimah bila dilihat dari unsur gizinya, mengandung suatu arti bahwa makanan, disamping halal harus yang diutamakan juga masalah gizinya.

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Tepatlah apabila perayaan Idul Adha digunakan menggugah kesedihan kita untuk berkorban bagi negeri kita tercinta yang tidak pernah luput dirundung kesusahan.

Dalam kondisi seperti ini sebenarnya kita banyak berharap dan mendoakan mudah-mudahan para pemimpin kita, elit-elit kita, dalam berjuang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya, tapi untuk kepentingan bangsa dan negara. Pengorbanan untuk kepentingan orang banyak tidaklah mudah, berjuang dalam rangka mensejahterahkan umat memang memerlukan keterlibatan semua pihak. Hanya orang-orang bertaqwalah yang sanggup melaksanakannya.

Mudah-mudahan perayaan Idul Adha kali ini, mampu menggugah kita untuk rela berkorban demi kepentingan agama, bangsa dan negara amiin 3x ya robbal alamin.
أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Sumber

Khutbah Idul Adha : Keteladanan dan Keteguhan Nabiyullah Ibrahim AS


اللهُ أكْبَرُ × 9 اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

لْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَلَهُ نُصَلِّى وَنَسْجُدُ وَإِلَيْهِ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُوْ رَحْمَتَهُ وَنَخْشَى عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَهُ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ. أَشْهَدُ ألاَّ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهم صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سيدنا محمد وَعَلىَ آلِهِ وَأصْحَابِهِ وَمَنْ وَالاَهُ.

أما بعد، أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لاَ يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلاَ مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُورُ

Hadirin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah

Pada pagi yang berbahagia ini, kita kembali diingatkan oleh Allah untuk meneladani perjuangan dan ketabahan nabi Ibrahim telah diabadikan dalam Al-Qur’an yang akan dibaca kaum muslimin hingga hari kiamat. Sejarah rasul yang berjuluk kekasih Allah (Kholilullah) ini , ditulis dengan tinta emas di dalam buku-buku sejarah. Sikap tabah dan teguhnya dalam menjalankan perintah Allah, telah menjadikan nabi Ibrahim sebagai panutan umat sepanjang zaman.

Pernyataan adanya keteladanan Nabiyullah Ibrahim ini diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya,
قَدْ كَانَت لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةُ فِيْ إبْرَاهِيْمَ وِالِّذِيْنَ مَعَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan-nya“ (QS. Al-Mumtahanah : 4)

Sementara, tentang keharuman namanya sepanjang zaman, pun Allah telah menuturkan dalam firman-Nya,
وَتَرَكْنَا عَليَْهِ فِيْ الأَخَرِيْنَ
"Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian" (QS. As-Shofat : 108)

Dalam dua ayat ini, sangat jelas bahwa, ternyata Allah sedemikian memuliakan Nabi Ibrahim. Sehingga BEliaulah yang menjadi bapak para Nabi. Lalu mengapakah Allah demikian memuliakannya? Apakah karena keturunannya, ataukah karena hartanya, atau kan karena kekuatannya, keperkasaannya? Ah, ternyata bukan. Rupanya Ibrahim dikenang hingga akhir zaman karena keteguhannya memegang amanah Allah, dan kerelaannya mengorbankan segala miliknya demi Allah SWT.

Hadirin jamaah Idul Adha Rahimakumullah
Sejarah hidup Nabi Ibrahim adalah sejarah manusia yang sukses dalam menjalani hidup, meski ia berangkat dari nol. Sukses berdakwah dalam kondisi sulit dan sukses menjaga amanah ketika telah mulai memanen hasil jerih keringat dakwahnya.

Ia memulai Dakwah sebagai seseorang yang harus berhadapan dengan penguasa yang dzalim dan kuat. Harus melewati hukuman yang berat dan tidak memungkinkannya selamat, kecuali atas izin Allah, SWT.

Setia menjaga isterinya yang sedang mengandung keturunannya, menemaninya hingga ke sebuah tempat yang sangat jauh dari daerahnya semula. Menjalani kehidupan dengan normal dan tetap menyerukan ayat-ayat Allah dengan bijaksana, agar umatnya tak kembali lagi ke jalan yang tak di ridhoi Allah.

Akan tetapi saudara-saudara sekalian, bagi Nabi Ibrahim, cobaan yang demikian rupanya belumlah seberapa………… ternyata, cobaan terberatnya adalah ketika ia harus merelakan putera tercintanya, Ismail, untuk dikorbankan, kepada Allah dengan cara disembelih. Putera yang beberapa waktu setelah kelahirannya segera ditinggalkan untuk memenuhi seruan Allah SWT. Kerelaan Nabiyullah Ibrahim untuk menyembelih puteranya inilah yang terus kita peringati hingga sekarang sebagai Idul Adha.

Hadirin Jamaah Idul Adha yang Dirahmati Allah
Dalam konteks kekinian, pengorbanan Nabi Ibrahim tersebut harus tetap kita apresiasikan. Baik dalam bentuk ubudiyah mahdohnya dengan menjalankan haji bagi yang mampu serta berkurban hewan ternak bagi umat Islam yang memiliki cukup kelebihan harta untuk melaksanakannya.

Namun demikian, kita juga harus senantiasa menginterpretasikan keteguhan ketaatan dan katabahan dalam kisah nabi Ibrahim tersebut zaman kita hidup saat ini. Ketabahan Ibrahim untuk merelakan puteranya dapat kita wujudkan dalam kerelaan kita untuk berbagi kebahagiaan dengan para tetangga, lingingkungan dan saudara-saudara umat Islam lainnya di manapun mereka berada. Sebagaimana pula mereka yang berhaji, juga memiliki kegiatan penyembelihan hewan kurban.

Dari sini menjadi jelas bahwa, syariat Allah yang telah dilaksanakan sejak zaman nabi Ibrahim ini memiliki manfaat yang sedemikian luas hingga ke seluruh penjuru jagad. Baik manfaat secara ekonomi, sosial maupun kebudayaan.

Mereka yang berhaji di tanah suci terlibat secara universal dengan umat Islam di seluruh dunia, bahkan dengan umat-umat non Muslim sekali pun. Mereka yang dikaruniai kesempatan berhaji merupakan duta umat Islam dari seluruh pelosok dunia. Mereka menunjukkan kepada umat lain, akan persatuan dan persaudaraan umat Islam

Sementara bagi umat Islam yang sedang tidak berkesempatan menunaikan ibadah haji pada tahun ini, juga tetap memiliki pesan persaudaraan yang harus ditunaikan. Yakni berbagi kebahagiaan dengan mereka yang hidup dalam kekurangan.
Allah SWT berfirman,
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.” (Al-Hajj: 37)

Pesan rohani dalam ayat ini adalah agar kita ikut aktif dan bertanggungjawab untuk menciptakan suasana persaudaraan dan hidup penuh cinta kasih terhadap sesama.

Hadirin Jamaah Idul Adha Rahimakumullah
Kecintaan dan ketaatan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Imam Al-Baidhawi berkata, "Cinta adalah keinginan untuk taat", sementara, al-Zujaj berkata, "Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-nya adalah mentaati keduanya dan ridha kepada semua perintah Allah dan ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya."

Artinya, kecintaan dan ketaatan kepada Allah tidak mungkin diwujudkan tanpa pengorbanan. Jadi, tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan tanpa pengorbanan. Demikianlah pesan teragung dalam kisah perintah Penyembelihan Ismail, sang putera Ibrahim AS.

Maka, jika kita mengaku mencintai Allah dan Rasulullah serta mengikuti ajaran-ajaran Islam, maka tentu kita tidak akan menyia-nyiakan kesempatan Idul Adha ini hanya untuk bersenang-senang seorang diri saja. Karena Allah memerintahkan hambanya untuk dapat berbagi karunia dan kesyukuran pada hari yang berbahagia ini. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Para nabi dan para ulama hingga saat ini.

Semoga pada hari yang berbahagia ini kita dapat bersama-sama menikmati karunia Allah dengan penuh suka cita dan rasa kasih sayang untuk mensyukuri nikmat Allah bersama-sama. Semoga pra tetangga kita dapat turt menikmati kebahagiaan kita sebagaimana kita juga dapat turut menikmati kebahagiaan mereka dalam jalan yang diridhoi Allah SWT.

semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa kita dan melimpahkan seluruh kasih sayangnya kepada kita sekalian, sehingga tercukupi segala hajat kita. agar dapat mengabdi dan beribadah kepada Allah dengan lebih sempurna. Amin Allahumma Amin
أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Ustadz Syaifullah Amin
Pengurus Pusat Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU
sumber : http://www.nu.or.id/post/read/14901/keteladanan-dan-keteguhan-nabiyullah-ibrahim-as

Khutbah Idul Adha : Arti Kepahlawanan Sesungguhnya


KH. Maktub Efendi
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3)اللهُ اَكبَرْ (×3
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ
اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hadirin Sidang Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah
Pada pagi hari yang berbagia ini, marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala bentuk larangan-larangan Allah.

Karena Allah memerintahkan kita untuk bersyukur pada hari raya Idul Adha, atau yang lazim pula disebut sebagai Idul Qurban, maka marilah kita bersama-sama mempersaksikan kesyukuran kita di hadapan Allah subhanahu wata’ala. Dan karena pada hari ini serta tiga hari tassyrik setelahnya, yakni tanggal 11 12 dan 13 Dzulhijjah, Allah melarang kita untuk berpuasa, maka marilah kita bersantap bersama-sama sepulang nanti dari sholat Idul Adha ini.

Hadirin yang dirahmati Allah,
Idul Adha mengajarkan kepada kita tentang etos kepahlawanan dua manusia mulia, yakni Nabiyaallah Ibrahim dan puteranya, Ismail, alaihimassalam. Kepahlawanan mereka telah diakui oleh seluruh umat Muslim di hadapan Allah tanpa diperselisihkan.

Tapi mengapakah mereka diakui kepahlawanannya oleh seluruh hamba Allah? Apakah karena kekejamannya, apakah karena kedengkiannya ataukah karena kecerobohan mereka? Tentu saja bukan. Keduanya diakui sebagai pahlawan bagi seluruh alam karena telah bersungguh-sungguh menjalankan perintah Allah SWT dan memiliki banyak sekali jasa yang dapat dirasakan manfaatnya hingga ribuan tahun sepeninggal keduanya. Pembangunan ka'bah sebagai kiblat umat Islam sedunia adalah salah satu bukti nyata manfaat dari perjuangan hidup kedua Nabi Allah tersebut.

Allah SWT berfirman,
وَكََذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا ِلتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلىَ النَّاسِ وَيَكُوْنُ الرَّسُوْلَ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا
“Dan demikian pula, Kami (Allah) telah menjadikanmu (umat Islam) sebagai umat pilihan yang adil, agar kamu sekalian menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasulullah Muhammad (juga) menjadi saksi atas perbuatanmu.” (QS. Al-Baqoroh, 2:143)

Sepanjang Kisah Rasulullah SAW adalah kisah kepahlawanan, bukan hanya tentang peperangan di front terdepan, namun seluruh kisah hidup Beliau adalah epos kepahlawanan. Bagaimana Rasulullah membantu pekerjaan-pekerjaan keluarga mendiang kakeknya, Abdul Mutthalib dengan menggembala domba adalah kisah kepahlawanan anak-anak. Lalu Rasulullah meningkatkan harkat ekonomi pribadi dan keluarga dengan menjadi pekerja di perniagaan Saudagar Hadijah binti khuwailid adalah juga sebuah romantika kepahlawanan remaja dan pemuda.

Kemudian kisah tentang baginda Nabi mempertahankan perekonomian keluarga dan para pengikutnya dari embargo kaum musyrik makkah adalah juga tindakan patriotik Rasul sebagai kepala keluarga dan pimpinan masyarakat. Termasuk ketika Rasulullah mendamaikan kaumnya ketika akan bertikai gara-gara berebut meletakkan kembali Hajar Aswad yang Ka’bahnya sedang direnovasi. Hajar Aswad dan Ka’bah yang hingga sekarang menjadi central umat Islam ketika menunaikan ibadah Haji.

Kisah Hijrah Rasulullah yang penuh ketegangan adalah bentuk kepahlawanan pemimpin umat yang akan menyongsong pembentukan dunia baru, dunia Islam yang penuh pengharapan dan kejayaan. Hingga kisah-kisah medan pertempuran Rasulullah dalam adu senjata dan strategi militer di tengah-tengah gurun pasir di sela-sela gunung-gunung batu yang diselimuti oleh terik menyengat.

Termasuk pula kisah kesuksesan Rasul memimpin umat Islam yang telah semakin meluas wilayah kedaulatannya, dari kota Madinah yang semula penuh dengan intrik dan permusuhan di antara kaum-kaum berbeda agama yang saling bertikai. Kesemuanya adalah kisah kepahlawanan sepanjang sejarah yang hingga kini harus senantiasa kita teladani.

Allah SWT berfirman,
إنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَشَّ اْلقَوْمُ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ اْلأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ، وَاللهُ لاَ يُحِبَّ الظَّالِمِيْنَ
“Jika kamu (Muhammad) menndapatkan luka (pada perang Uhud), maka sesungguhnya kaum kafir itupun mendapatkan luka yang sama (pada perang Badar). Masa Kejayaan dan Kehancuran memang kami pergilirkan di antara manusia. (Demikianlah) Allah membedakan antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir. Dan agar sebagian dari kalian dapat dijadikan sebagai orang-orang yang mati syahid. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dhalim.” (QS. Al-Baqoroh, 2:140)

Hadirin Sidang Jamaah Idul Adha Rahimakumullah
Ayat ini menunjukkan kepada kita, bahwa Rasulullah telah berjuang dengan sekuat tenaga serta mendapat berbagai cobaan, termasuk pernah mengalami kekalahan di medan pertempuran senjata yang ganas.

Maka kita sebagai orang Muslim yang mengaku sebagai pengikut Rasulullah tidaklah perlu takut dan bersedih berlebihan jika sesekali mendapatkan musibah dalam kehidupan.

Lihatlah betapa ketabahan Nabiyaallah Ibrahim dan puteranya Ismail Alaihimassalam, senantiasa berserah diri kepada Allah, meski harus mengorbankan nyawa mereka sekalipun. Lalu apakah kita pantas merasa sedih dan sayang, atau bahkan mengelak jika haya diperintahkan untuk mengorbankan nyawa-nyawa binatang untuk mengagungkan Asma Allah. Tentu sama sekali tidak pantas saudara-saudara sekalian.

Karena kita mesti mengingat, kepahlawanan senantiasa menuntut pengorbanan. Siapa yang ingin dipersaksikan di hadapan Allah sebagai pahlawan atau syuhada, maka mereka harus berani berkorban untuk membela ajaran-ajaran Allah SWT.

Sidang Idul Adha yang dimuliakan Allah
Imam Muhammad Husain al-Thaba’thabai dalam tafsir al-Mizan memaparkan, bahwa yang dimaksudkan sebagai Kesyahidan atau persaksian atau pengorbanan di hadapan Allah meliputi empat macam.

Pertama, yakni skill atau profesionalitas, kapasitas dan kualitas. Siapapun yang memiliki kemampuan professional, hendaknya ia mendarmabhaktikan kemampuannya tersebut untuk menunaikan perintah-perintah Allah dan mendakwahkan syiar Islam melalui kemampuan professionalnya tersebut. Yang pedagang dengan dagangannya, yang petani dengan pertaniannya yang pengusaha dengan bidang usahanya masing-masing.

Kedua, menularkan kemampuannya tersebut demi kemajuan Islam dan kemaslahatan seluruh ummat. Artinya menyebarkan ilmu untuk menuju tatanan dunia yang lebih baik dan kehidupan manusia yang lebih berkualitas.

Ketiga, memperluas dan menjadikan karya-karyanya sebagai trand mark atau standard kebaikan, maka dari sini tentu siapa pun akan berlomba-lomba untuk menjadikan keunggulannya sebagai yang terdepan dalam kualitas kebaikan dan kemanfaatan bagi seluruh manusia.

Sedangkan yang keempat adalah, meskipun sekiranya kemanfaatan tersebut hanya untuk sebagian kelompok masyarakat, namun ia mesti dikenang sebagai kebaikan. Dengan demikian tentu tidak seorang pun yang menginginkan dirinya dikenang sebagai keburukan atau dikenang dalam tindakannya yang merugikan orang lain. Meskipun hanya kepada orang-orang tertentu saja misalnya.

Intinya, sekecil apapun dan sesederhana apapun tindakan kita, hendaknya ia bermanfaat bagi orang-orang lain tanpa menimbulkan madhorot bagi sebagian yang lain. Kesimpulan ini adalah saripati firman Allah “Sesungguhnya Allah tidak menyuakai orang-orang yang dholim,” tadi.

Hadirin yang dirahmati Allah
Pada hari Idul Adha yang berbahagia ini, marilah kita senantiasa berusaha menjadi insan yang sholeh dan bertaqwa kepada Allah agar kelak kita dipersaksikan sebagai ummat yang dapat diandalkan dan dibanggakan oleh Rasulullah SAW di hadapan umat-umat nabi lainnnya. Marilah kita mengukir kepahlawanan agar mendapatkan ridho Allah SWT melalui cara-cara yang santun dan tidak melukai orang lain. Terutama tidak melukai saudara-saudara sesama muslim. Meskipun hal ini harus kita lakukan dengan mengorbankan sebagian milik kita, sebagian harta kita dan sebagian kekayaan kita demi kebahagiaan saudara-saudara kita yang lain. Karena demikianlah pesan Idul adha yang sesunguhnya.

Marilah kita sama-sama berdoa, mudah-mudahan kita senantiasa diberkahi oleh Allah agar dikuatkan jiwa dan raga untuk memenuhi panggilan Allah, mencurahkan segala potensi kita untuk kemaslahatan agama Allah, masyarakat Muslim dan seluruh anggota bangsa kita ini. Agar kelak kita dipersaksikan sebagai pahlawan-pahlawan Allah yang di kenang harum dalam kehidupan generasi-generasi selanjutnya. Amin.
أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
KH Maktub Efendi
Pengasuh Pesantren Baitun Nur, Jakarta
(NU)

Wednesday, March 9, 2016

Khutbah Kurban Dan Pendidikan Tauhid Keluarga

Khutbah Kurban Dan Pendidikan Tauhid Keluarga



Kisah keluarga Ibrahim telah menjadi legenda sejak lebih dari 5.000 tahun silam. Inilah kisah keluarga teladan. Keluarga yang telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid pada segenap sendi-sendi kehidupan. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna dalam pengabdian dan penghambaan kepada Allah SWT, robbul ‘izzati. <>

الله أكبر الله أكبر الله أكبر -الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون لآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحدهلآ إله إلا الله الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

الحمد لله الذي ألف بين قلوبنا فأصبحنا بنعمته إخوانا الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون

أشهد أن لآإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله اللهم صلي على محمد و على آله و أصحابه و أنصاره و جنوده و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين فقال الله تعالى في كتابه الكريم : رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْم. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. الله أكبر ، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Alhamdulillah, kita panjatkan segala puji dan syukur bagi Allah SWT. Allah satu-satunya Tuhan. Itu berarti tidak ada tuhan selain Dia. Tidak ada satu zat pun, apa pun dan siapa pun yang pantas, yang berhak, yang layak, dan yang wajib kita ibadahi selain Allah. Peribadatan dan penghambaan hanya kita pasrahkan kepada Allah SWT. Allah Sang Pencipta dan Pemilik jagat raya, pemelihara langit dan bumi seisinya. Inilah tauhid, inti ajaran para rasul sejak Adam AS hingga Muhammad SAW. Tauhid yang harus kita pegang dengan teguh sampai kapan pun dan apa pun konsekwensinya.

Kemudian kita mohonkan agar shalawat dan salam tetap Allah limpahkah kepada Muhammad Rasulullah SAW. Khataman nabiyyin yang dengan risalah yang dibawanya, sanggup mengantarkan ummatnya pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Pemimpin pemberi uswah terbaik yang tiada banding dan tiada tanding.

Hari ini gema takbir berkumandang memenuhi langit. Bersahut-sahutan tiada henti. Hati siapakah yang tidak tergetar mendengar keagungan dan kebesaran Allah terus-menerus dilantunkan oleh lebih dari 1,5 miliar manusia di seluruh pelosok bumi? Takbir itu terus bergema dan menggelegar, sambung-menyambung dari satu negeri ke negeri lain. Hanya hati yang telah mengeras bagai batu belaka yang tidak merespon dengan amat positif salah satu tanda-tanda kebesaran Allah ini.



Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah

Setiap kali sampai pada momen Idul Adha, kita diingatkan kembali akan kisah agung keluarga Ibrahim AS. Kisah penuh teladan bagi segenap manusia sepanjang zaman. Kisah yang telah dengan amat indah Allah rekam dalam surat TQS. Ash Shafaat [37] : 100-113.

Kisah keluarga Ibrahim telah menjadi legenda sejak lebih dari 5.000 tahun silam. Inilah kisah keluarga teladan. Keluarga yang telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid pada segenap sendi-sendi kehidupan. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna dalam pengabdian dan penghambaan kepada Allah SWT, robbul ‘izzati. Setiap individu dalam keluarga utama ini, benar-benar menunjukkan kwalitas ultraprima dalam bertauhid secara murni dan luar biasa.

Sejak kita kanak-kanak, kisah keluarga ini sudah begitu akrab. Di sekolah para guru menceritakannya. Di surau, langgar, dan mushola-mushola, para ustadz dan guru ngaji mengisahkannya. Seperti baru kemarin, kisah berusia ribuan tahun itu disampaikan kembali kepada kita. Kita masih ingat, bagaimana Ibrahim AS teramat sangat merindukan anak. Di usianya yang sudah renta, Allah belum juga menganugrahi keturunan baginya. Sementara Sarah, istrinya yang juga sudah tua, tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Buat Ibrahim AS, anak bukanlah sekadar pelanjut keturunan. Bagi sang khalilullah, kekasih Allah ini, anak juga sekaligus pewaris risalah kenabian.

Berapa lama di antara kita yang menanti kehadiran si buah hati dalam keluarga? Lima tahun? Tujuh tahun? 10 tahun, 12 tahun, atau mungkin bahkan 15 tahun? Suasana seperti apakah yang mewarnai kehidupan keluarga tanpa tangis bayi? Sepi. Sunyi. Sepertinya hari demi hari berlalu berselimut suram dan muram. Hampir pasti, hari-hari seperti itulah yang dijalani pasangan Ibrahim AS dan Sarah. Namun Ibrahim tidak putus-putusnya terus berdoa kepada Allah agar dikaruniai keturunan.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101



Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. (TQS. Ash Shafaat [37] : 100-101)

Alhamdulillah, sejarah akhirnya mengabarkan, melalui Hajar, Allah menganugrahi Ibrahim AS keturunan. Lahirlah Ismail, bayi laki-laki yang telah teramat lama didamba. Kalau saja kita mencoba hadir pada peristiwa itu, maka akan dapat kita rasakan betapa kebahagiaan membuncah dari dada Ibrahim AS dan istrinya Hajar. Anak yang diharapkan telah hadir di pangkuan. Sejuta doa dan harapan tumpah-ruah kepada si bayi. Kasih dan sayang tercurah bagi penyambung risalah dan keturunan, Ismail kecil. Hari-hari pun bagai dipenuhi pelangi. Warna-warni indah senantiasa mengiringi. Senyum dan tawa bahagia setiap saat pecah menghiasi kehidupan keluarga utama ini.

Namun agaknya Allah punya rencana sendiri. Allah ingin menguji cinta Ibrahim kepadaNya. Adakah cinta kepada Allah itu adalah cinta yang tidak tertandingi? Atau, jangan-jangan Ismail yang amat rindukan itu menjadi “pesaing” cinta Ibrahim kepada Allah Tuhannya yang Maha Agung?

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (الصافات: 102



Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". (TQS. Ash Shafaat [37] ; 102)

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara-saudara yang saya hormati

Perasaan seperti apakah yang menyelimuti Ibrahim saat mendapat perintah menyembelih Ismail, putra yang amat dikasihinya? Dapatkah kita bayangkan, setelah puluhan tahun menanti keturunan, bahkan ketika fisiknya sudah semakin renta, lalu ketika anak yang teramat didamba itu ada, Allah perintahkan untuk menyembelih? Ibrahim pun menghadapi dua pilihan, mengikuti perasaan hatinya dengan ”menyelamatkan” Ismail buah cinta keluarga. Atau, menaati perintah Allah dengan ”mengorbankan” putra kesayangannya.

Situasi seperti inilah yang sejatinya setiap saat kita hadapi dalam hidup sehari-hari. Mengutamakan Allah dan rasulNya, atau memilih tetap menggenggam ‘Ismail-Ismail’ lain di sekeliling kita? Walau sering lidah kita mengatakan, “ini adalah karunia Allah”, namun praktiknya kita sering merasa menjadi ‘pemilik’ karunia itu.

Sekarang, mari kita kenali segala sesuatu yang kita cintai. Begitu kita cintai sesuatu itu, hingga kita rela mengorbankan apa saja untuknya. Ketahuilah, itulah ‘Ismail’ kita. ‘Ismail’ kita adalah segala sesuatu yang dapat melemahkan iman dan dapat menghalangi kita menuju taat kepada Allah. Setiap sesuatu yang dapat membuat diri kita tidak mendengarkan perintah Allah dan enggan mengikuti kebenaran. ‘Ismail’ kita adalah setiap sesuatu yang menghalangi kita untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban syar’i. Setiap sesuatu yang menyebabkan dan menjadikan kita mengajukan bermacam alasan dan dalih untuk menghindar dari perintah Allah SWT.

Anak, istri, keluarga, kerabat, harta benda, perniagaan/bisnis, rumah-rumah tinggal sejatinya adalah ‘Ismail-ismail’ buat kita. Jika semua itu lebih kita cintai daripada cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan Allah, maka sungguh, kita sudah membuat pilihan yang keliru. Karena dengan demikian, berbagai karunia yang Allah anugrahkan tadi, buat kita telah menjadi tuhan-tuhan tandingan bagi Allah. Dan itu artinya, kita sedang menanam benih-benih yang akan berujung pada panen kemurkaan Allah. Naudzu billahi mindzalik!

قل إن كان آباؤكم وأبناؤكم وإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره والله لا يهدي القوم الفاسقين

Katakanlah: "Jika bapa-bapa kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, isteri-isteri kamu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (Al-taubah; 24).

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Hikmah lain yang bisa kita petik dari kisah agung ini adalah betapa luar biasanya Ismail. Sebagai seorang pemuda, yang tengah tumbuh dengan segala potensinya, yang masa depan gemilang menantinya, Ismail telah menunjukkan kualitas jauh di atas rata-rata. Tauhid telah terpatri dengan sangat kokoh di dadanya.

Bisakah kita membayangkan, perasaan seperti apakah yang kira-kira berkecamuk di dada seorang pemuda, ketika ayah yang amat dicintai dan mencintainya, berkata akan menyembelihnya? Benarkah ayahandanya itu sungguh-sungguh mencintainya? Kalau benar, cinta seperti apakah yang mampu menggerakkan lidah ayahandanya untuk mengucapkan kata-kata itu?

Tapi lagi-lagi Ismail bukanlah seorang pemuda rata-rata. Perintah yang amat berat itu pun disambut Ismail dengan penuh kesabaran. Dia menyanggupi menyerahkan lehernya untuk disembelih. Bukan itu saja, Ismail yang tahu persis bahwa perintah itu pasti amat berat bagi ayahandanya, bahkan mendorong keteguhan jiwa Ibrahim AS untuk melaksanakan perintah Allah tersebut.

Wahai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya’a Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (TTQS ash-Shaffat [37]: 102)

Pertanyaan besar yang bisa diajukan dari adegan luar biasa ini adalah, gerangan apakah yang membuat Ismail menjadi setegar ini? Menu apakah yang setiap hari mengisi kepala dan dadanya, sehingga dia bisa dengan rela menyerahkan lehernya untuk disembelih ayahnya? Pendidikan seperti apa yang bahkan membuat Ismail juga meneguhkan hati ayahnya agar tidak ragu-ragu melaksanakan perintah Allah?

Tentu saja kehebatan Ismail itu bukanlah sesuatu yang instan apalagi sim salabim. Keluarbiasaan Ismail adalah buah dari pendidikan dan bimbingan dari seorang ibu yang juga sangat luar biasa. Inilah peran dahsyat dari Siti Hajar, perempuan yang telah dipilih Allah untuk mendampingi Ibrahim AS dan melahirkan keturunan para nabi. Dia telah mampu membentuk bayi merah Ismail yang ditinggalkan suaminya di tengah padang gersang tak berpenghuni, menjadi anak muda istimewa. Hajar telah suskes mentransformasikan kesalehan, kesabaran, kepasrahan, dan ketakwaannya kepada anak yang amat dicintainya. Dan, proses transformasi itu berlangsung setiap hari, setiap detik, setiap saat.

Bagaimana dengan pemuda-pemuda kita hari ini? Adakah mereka mewarisi kedahsyatan Ismail? Sayang sekali, yang terjadi justru sebaliknya. Sebagian (besar) anak-anak muda kita, pelajar dan mahasiswa kita, hari-harinya dipenuhi dengan berbagai perilaku memprihatinkan. Tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan seks bebas telah menjadi konsumsi harian mereka.

Data-data yang tersaji tentang perilaku anak-anak muda kita sungguh membuat miris. Menurut Komisi Perlindungan Anak (KPAI), misalnya, pada semester satu 2012 saja ada 229 kasus tawuran antarpelajar, 19 tewas dan sisanya luka berat dan ringan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2011, yaitu 128 kasus tawuran.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut pada 2008 terdapat 3,4 juta penyalahgunaan narkoba. Angkanya naik menjadi 3,83 juta pada 2010. Pada 2015, diperkirakan jumlah pengguna narkoba menembus 5,13 juta jiwa.

Sementara itu, seks bebas juga marak di kalangan remaja. Hal itu antara lain ditandai dengan tingginya angka aborsi di kalangan remaja. Komnas Perlindungan Anak (PA) mencatat, pada periode 2008–2010 terjadi 2,5 juta kasus, 62,6% dilakukan anak di bawah umur 18 tahun.

Sementara berdasarkan data dari BKKBN tahun 2013, anak usia 10-14 tahun yang telah melakukan aktivitas seks bebas atau seks di luar nikah mencapai 4,38%. Sedangkan pada usia 14-19 tahun sebanyak 41,8% telah melakukan aktivitas seks bebas. Data lain mengatakan bahwa tidak kurang dari 700.000 siswi melakukan aborsi setiap tahunnya.

Apa yang terjadi dengan pemuda-pemudi kita? Kenapa ini bisa terjadi? Benarkah anak-anak muda itu nakal? Kurang ajar, tidak bermoral, dan berkhlak rendah? Sudah berapa lama ini semua terjadi?

Semestinya bukan pertanyaan-pertanyaan bernada kecaman seperti itu yang kita sorongkan. Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah, dimana saja selama ini kita; para orang tua, guru, dan pemerintah berada? Apa yang telah kita lakukan dan berikan kepada anak-anak itu?

Sebagai orang tua, bukankah selama ini nyaris tidak ada apa pun yang kita berikan kepada anak-anak itu? Kita sudah merasa menuntaskan kewajiban jika sudah menjejali mereka dengan aneka hadiah dan kebutuhan fisiknya. Pertanyaannya, adakah perhatian dan kasih-sayang kita masih tercurah kepada mereka? Bagaimana dengan waktu dan kebersamaan di rumah dan keluarga? Masihkah kita shalat berjamaah dan membaca al quran bersama mereka? Dan, di atas semua itu, masih adakah teladan yang kita tunjukkan kepada anak-anak itu?

Bukankah di rumah kita telah menjadi para diktator bagi anak-anak. Kita melarang mereka melakukan ini-itu. Namun pada saat yang sama kita tetap saja asyik dengan larangan tersebut. Para ayah melarang anak-anaknya merokok, sementara di sela-sela jemarinya terselip rokok yang masih mengepulkan asap. Para ibu menyuruh anak-anaknya belajar dan melarang mereka menonton tv, sementara dia sendiri asyik duduk di sofa sambil matanya tidak lepas dari sinetron pengumbar mimpi dan nafsu.

Para guru di sekolah mengajarkan moral kepada para siswanya, sementara berbagai kecurangan terus dilakukan. Tidak disiplin dengan kehadiran yang membuat anak-anak gaduh di kelas. Sibuk mencari tambahan di luar kelas hingga kwalitas pengajaran terus melorot. Para kepala sekolah sibuk mengutak-atik anggaran bantuan operasional sekolah (BOS) untuk kepentingan sendiri.

Para pejabat publik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang digaji dengan uang rakyat, tidak lagi memikirkan dan bekerja dengan sungguh-sungguh agar rakyatnya sejahtera dan tercerahkan. Mereka justru sibuk bermanuver untuk melanggengkan jabatan untuk menumpuk harta dan kekuasaan, kekuasaan dan harta.

Teladan telah menjadi barang amat langka di negeri ini. Anak-anak kita tidak lagi bisa menemukan contoh hidup sederhana, arif, santun, dan penuh kasih kepada sesama yang bisa ditiru. Yang ada, setiap hari mereka dijejali dengan budaya hedonis, konsumtif, koruptif, dan manipulatif. Dan semua hal buruk itu setiap saat dipertontonkan dengan sangat telanjang oleh para orang tua di rumah, guru di sekolah, dan para pejabat di kursi-kursi kekuasaannya.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah

Kalau kita ingin memiliki anak seperti Ismail, maka dengan sendirinya diperlukan seorang bapak seperti Ibrahim AS. Tentu saja, tidak 100% seperti Ibrahim. Mungkin cuma 50%, 25%, 10%, bahkan mungkin 1% dari kualitas Ibrahim. Anak-anak seperti Ismail juga memerlukan seorang ibu seperti Hajar. Tentu saja, tidak 100% seperti Hajar. Cukup 50%, 25%, 10%, bahkan mungkin 1% dari kualitas bunda Hajar.

Pertanyaannya sekarang, seper berapa persenkah para bapak dan suami zaman ini dari Ibrahim? Apakah ada tanda-tanda bunda Hajar pada istri dan para ibu di rumah tangga kita sekarang? Dimanakah kita bertemu jodoh yang kemudian berlanjut pada pernikahan dan keluarga? Apakah di night club, karaoke atau lokasi-lokasi maksiat lain yang menjadi tempat pertemuan dengan jodoh kita?

Jangan pernah berharap di rumah kita akan hadir anak-anak sekelas Ismail, kalau kita sendiri sebagai orang tua tidak mewarisi keutamaan Ibrahim dan Hajar. Sebagai kepala keluarga, sudahkah para bapak hanya memberi nafkah anak dan istri dengan harta yang halal? Adakah rupiah yang kita bawa pulang benar-benar bersih dari unsur haram? Sah dan halalkah kelebihan penghasilan di luar gaji yang kita berikan kepada anak istri dalam bentuk nafkah, rumah, vila, tabungan dan deposito, saham dan obligasi, mobil, dan harta benda lain?

Ibu seperti apakah yang mampu melahirkan dan membimbing anak-anaknya seperti Ismail? Atau, ibu yang bagaimanakah yang memiliki surga di bawah telapak kakinya? Al-jannatu tahta aqdamil ummahat, surga di bawah telapak kaki ibu. Sebagian ulama memang menyebut ini hadits palsu. Sebagian lain mengatakan munkar, karena ada Manshur dan Abu Nadzhar, sebagai perawi tidak dikenal. Bahkan Al-Hafidz menyebutkan perawi lain hadits ini, yaitu Musa, adalah al-kadzdzab atau pendusta.

Meski demikian, ada hadits lain yang senada namun punya kedudukan shahih. Sanad hadits ini oleh banyak ulama diterima sebagai hadits yang hasan. Bahkan Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai hadits shahih. Hadits itu adalah hadits dari Mu'awiyah bin Jahimah. Beliau pernah mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya :

"Ya, Rasulallah. Aku ingin ikut dalam peperangan, tapi sebelumnya Aku minta pendapat Anda". Rasulullah SAW bertanya, "Apakah kamu masih punya ibu?". "Punya", jawabnya. Rasulullah SAW," Jagalah ibumu, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua telapak kakinya". (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani).

Pesan yang ingin disampaikan di sini adalah, hanya para ibu utama dan mulia saja yang mampu menyediakan surga di bawah telapak kakinya. Dan para ibu itu juga tidak sendiri. Mereka harus didampingi para suami yang sholeh, yang memurnikan tauhidnya sesuai dengan millah Ibrahim yang hanif.

Di tangan para orang tua seperti inilah kelak akan lahir dan terbentuk anak-anak yang berakhalak mulia. Generasi muslim yang juga memegang tahuid dengan teguh dan istiqomah. Sebab, pada dasarnya tiap anak lahir dengan bersih. Ibu dan bapaknyalah yang akan mewarnai anak-anak itu menjadi “sesuai” di kemudian hari.

يمجسانه أو ينصرانه أو يهودانه فأبواه الفطرة على يولد مولود كل

“Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)

بنفسك إبدء,

mulailah dari dirimu sendiri.

Demikian Muhammad Rasulullah SAW bersabda. Jika para orang tua memulai dari diri sendiri, baik dalam hal kebaikan dan menghindari keburukan, maka anak-anak akan menemukan teladan. Para pemuda-pemudi kita bisa menduplikasi perilaku mulia dari orang tua, guru, dan para pejabat publik negeri ini. Alangkah indahnya hidup ini dan damainya Indonesia, jika tiap keluarga hanya menularkan kebaikan dalam perilaku sehari-harinya. Tidak ada lagi perkelahian antarpelajar. Tidak ada lagi tawuran antakampung. Tidak ada lagi korupsi yang menyengsarakan rakyat. Sungguh, Indonesia akan menjadi baldatun thoyibatun warobbun ghafur. Sebuah negara yang baik dan berada di bawah perlindungan Allah yang Maha Pengampun. Insya Allah, aamiin...



أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA:

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ


اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا


اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ



اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ



H. Edy Mulyadi (Ketua Korps Muballigh Jakarta (KMJ), Ketua Badan Koordinasi Muballigh se-Indonesia) Khotbah disampaikan pada Khutbah Idul Adha 10 Zulhijjah 1436 H/24 September 2015 M di Masjid At Taufiq, Tanjung Duren, Jakarta Barat (red.Ulil)
Kurban Dan Pendidikan Tauhid Keluarga

Kisah keluarga Ibrahim telah menjadi legenda sejak lebih dari 5.000 tahun silam. Inilah kisah keluarga teladan. Keluarga yang telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid pada segenap sendi-sendi kehidupan. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna dalam pengabdian dan penghambaan kepada Allah SWT, robbul ‘izzati. <>

الله أكبر الله أكبر الله أكبر -الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون لآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحدهلآ إله إلا الله الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

الحمد لله الذي ألف بين قلوبنا فأصبحنا بنعمته إخوانا الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون

أشهد أن لآإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله اللهم صلي على محمد و على آله و أصحابه و أنصاره و جنوده و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين فقال الله تعالى في كتابه الكريم : رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْم. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. الله أكبر ، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Alhamdulillah, kita panjatkan segala puji dan syukur bagi Allah SWT. Allah satu-satunya Tuhan. Itu berarti tidak ada tuhan selain Dia. Tidak ada satu zat pun, apa pun dan siapa pun yang pantas, yang berhak, yang layak, dan yang wajib kita ibadahi selain Allah. Peribadatan dan penghambaan hanya kita pasrahkan kepada Allah SWT. Allah Sang Pencipta dan Pemilik jagat raya, pemelihara langit dan bumi seisinya. Inilah tauhid, inti ajaran para rasul sejak Adam AS hingga Muhammad SAW. Tauhid yang harus kita pegang dengan teguh sampai kapan pun dan apa pun konsekwensinya.

Kemudian kita mohonkan agar shalawat dan salam tetap Allah limpahkah kepada Muhammad Rasulullah SAW. Khataman nabiyyin yang dengan risalah yang dibawanya, sanggup mengantarkan ummatnya pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Pemimpin pemberi uswah terbaik yang tiada banding dan tiada tanding.

Hari ini gema takbir berkumandang memenuhi langit. Bersahut-sahutan tiada henti. Hati siapakah yang tidak tergetar mendengar keagungan dan kebesaran Allah terus-menerus dilantunkan oleh lebih dari 1,5 miliar manusia di seluruh pelosok bumi? Takbir itu terus bergema dan menggelegar, sambung-menyambung dari satu negeri ke negeri lain. Hanya hati yang telah mengeras bagai batu belaka yang tidak merespon dengan amat positif salah satu tanda-tanda kebesaran Allah ini.



Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah

Setiap kali sampai pada momen Idul Adha, kita diingatkan kembali akan kisah agung keluarga Ibrahim AS. Kisah penuh teladan bagi segenap manusia sepanjang zaman. Kisah yang telah dengan amat indah Allah rekam dalam surat TQS. Ash Shafaat [37] : 100-113.

Kisah keluarga Ibrahim telah menjadi legenda sejak lebih dari 5.000 tahun silam. Inilah kisah keluarga teladan. Keluarga yang telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid pada segenap sendi-sendi kehidupan. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna dalam pengabdian dan penghambaan kepada Allah SWT, robbul ‘izzati. Setiap individu dalam keluarga utama ini, benar-benar menunjukkan kwalitas ultraprima dalam bertauhid secara murni dan luar biasa.

Sejak kita kanak-kanak, kisah keluarga ini sudah begitu akrab. Di sekolah para guru menceritakannya. Di surau, langgar, dan mushola-mushola, para ustadz dan guru ngaji mengisahkannya. Seperti baru kemarin, kisah berusia ribuan tahun itu disampaikan kembali kepada kita. Kita masih ingat, bagaimana Ibrahim AS teramat sangat merindukan anak. Di usianya yang sudah renta, Allah belum juga menganugrahi keturunan baginya. Sementara Sarah, istrinya yang juga sudah tua, tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Buat Ibrahim AS, anak bukanlah sekadar pelanjut keturunan. Bagi sang khalilullah, kekasih Allah ini, anak juga sekaligus pewaris risalah kenabian.

Berapa lama di antara kita yang menanti kehadiran si buah hati dalam keluarga? Lima tahun? Tujuh tahun? 10 tahun, 12 tahun, atau mungkin bahkan 15 tahun? Suasana seperti apakah yang mewarnai kehidupan keluarga tanpa tangis bayi? Sepi. Sunyi. Sepertinya hari demi hari berlalu berselimut suram dan muram. Hampir pasti, hari-hari seperti itulah yang dijalani pasangan Ibrahim AS dan Sarah. Namun Ibrahim tidak putus-putusnya terus berdoa kepada Allah agar dikaruniai keturunan.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101



Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. (TQS. Ash Shafaat [37] : 100-101)

Alhamdulillah, sejarah akhirnya mengabarkan, melalui Hajar, Allah menganugrahi Ibrahim AS keturunan. Lahirlah Ismail, bayi laki-laki yang telah teramat lama didamba. Kalau saja kita mencoba hadir pada peristiwa itu, maka akan dapat kita rasakan betapa kebahagiaan membuncah dari dada Ibrahim AS dan istrinya Hajar. Anak yang diharapkan telah hadir di pangkuan. Sejuta doa dan harapan tumpah-ruah kepada si bayi. Kasih dan sayang tercurah bagi penyambung risalah dan keturunan, Ismail kecil. Hari-hari pun bagai dipenuhi pelangi. Warna-warni indah senantiasa mengiringi. Senyum dan tawa bahagia setiap saat pecah menghiasi kehidupan keluarga utama ini.

Namun agaknya Allah punya rencana sendiri. Allah ingin menguji cinta Ibrahim kepadaNya. Adakah cinta kepada Allah itu adalah cinta yang tidak tertandingi? Atau, jangan-jangan Ismail yang amat rindukan itu menjadi “pesaing” cinta Ibrahim kepada Allah Tuhannya yang Maha Agung?

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (الصافات: 102



Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". (TQS. Ash Shafaat [37] ; 102)

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara-saudara yang saya hormati

Perasaan seperti apakah yang menyelimuti Ibrahim saat mendapat perintah menyembelih Ismail, putra yang amat dikasihinya? Dapatkah kita bayangkan, setelah puluhan tahun menanti keturunan, bahkan ketika fisiknya sudah semakin renta, lalu ketika anak yang teramat didamba itu ada, Allah perintahkan untuk menyembelih? Ibrahim pun menghadapi dua pilihan, mengikuti perasaan hatinya dengan ”menyelamatkan” Ismail buah cinta keluarga. Atau, menaati perintah Allah dengan ”mengorbankan” putra kesayangannya.

Situasi seperti inilah yang sejatinya setiap saat kita hadapi dalam hidup sehari-hari. Mengutamakan Allah dan rasulNya, atau memilih tetap menggenggam ‘Ismail-Ismail’ lain di sekeliling kita? Walau sering lidah kita mengatakan, “ini adalah karunia Allah”, namun praktiknya kita sering merasa menjadi ‘pemilik’ karunia itu.

Sekarang, mari kita kenali segala sesuatu yang kita cintai. Begitu kita cintai sesuatu itu, hingga kita rela mengorbankan apa saja untuknya. Ketahuilah, itulah ‘Ismail’ kita. ‘Ismail’ kita adalah segala sesuatu yang dapat melemahkan iman dan dapat menghalangi kita menuju taat kepada Allah. Setiap sesuatu yang dapat membuat diri kita tidak mendengarkan perintah Allah dan enggan mengikuti kebenaran. ‘Ismail’ kita adalah setiap sesuatu yang menghalangi kita untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban syar’i. Setiap sesuatu yang menyebabkan dan menjadikan kita mengajukan bermacam alasan dan dalih untuk menghindar dari perintah Allah SWT.

Anak, istri, keluarga, kerabat, harta benda, perniagaan/bisnis, rumah-rumah tinggal sejatinya adalah ‘Ismail-ismail’ buat kita. Jika semua itu lebih kita cintai daripada cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan Allah, maka sungguh, kita sudah membuat pilihan yang keliru. Karena dengan demikian, berbagai karunia yang Allah anugrahkan tadi, buat kita telah menjadi tuhan-tuhan tandingan bagi Allah. Dan itu artinya, kita sedang menanam benih-benih yang akan berujung pada panen kemurkaan Allah. Naudzu billahi mindzalik!

قل إن كان آباؤكم وأبناؤكم وإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره والله لا يهدي القوم الفاسقين

Katakanlah: "Jika bapa-bapa kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, isteri-isteri kamu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (Al-taubah; 24).

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Hikmah lain yang bisa kita petik dari kisah agung ini adalah betapa luar biasanya Ismail. Sebagai seorang pemuda, yang tengah tumbuh dengan segala potensinya, yang masa depan gemilang menantinya, Ismail telah menunjukkan kualitas jauh di atas rata-rata. Tauhid telah terpatri dengan sangat kokoh di dadanya.

Bisakah kita membayangkan, perasaan seperti apakah yang kira-kira berkecamuk di dada seorang pemuda, ketika ayah yang amat dicintai dan mencintainya, berkata akan menyembelihnya? Benarkah ayahandanya itu sungguh-sungguh mencintainya? Kalau benar, cinta seperti apakah yang mampu menggerakkan lidah ayahandanya untuk mengucapkan kata-kata itu?

Tapi lagi-lagi Ismail bukanlah seorang pemuda rata-rata. Perintah yang amat berat itu pun disambut Ismail dengan penuh kesabaran. Dia menyanggupi menyerahkan lehernya untuk disembelih. Bukan itu saja, Ismail yang tahu persis bahwa perintah itu pasti amat berat bagi ayahandanya, bahkan mendorong keteguhan jiwa Ibrahim AS untuk melaksanakan perintah Allah tersebut.

Wahai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya’a Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (TTQS ash-Shaffat [37]: 102)

Pertanyaan besar yang bisa diajukan dari adegan luar biasa ini adalah, gerangan apakah yang membuat Ismail menjadi setegar ini? Menu apakah yang setiap hari mengisi kepala dan dadanya, sehingga dia bisa dengan rela menyerahkan lehernya untuk disembelih ayahnya? Pendidikan seperti apa yang bahkan membuat Ismail juga meneguhkan hati ayahnya agar tidak ragu-ragu melaksanakan perintah Allah?

Tentu saja kehebatan Ismail itu bukanlah sesuatu yang instan apalagi sim salabim. Keluarbiasaan Ismail adalah buah dari pendidikan dan bimbingan dari seorang ibu yang juga sangat luar biasa. Inilah peran dahsyat dari Siti Hajar, perempuan yang telah dipilih Allah untuk mendampingi Ibrahim AS dan melahirkan keturunan para nabi. Dia telah mampu membentuk bayi merah Ismail yang ditinggalkan suaminya di tengah padang gersang tak berpenghuni, menjadi anak muda istimewa. Hajar telah suskes mentransformasikan kesalehan, kesabaran, kepasrahan, dan ketakwaannya kepada anak yang amat dicintainya. Dan, proses transformasi itu berlangsung setiap hari, setiap detik, setiap saat.

Bagaimana dengan pemuda-pemuda kita hari ini? Adakah mereka mewarisi kedahsyatan Ismail? Sayang sekali, yang terjadi justru sebaliknya. Sebagian (besar) anak-anak muda kita, pelajar dan mahasiswa kita, hari-harinya dipenuhi dengan berbagai perilaku memprihatinkan. Tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan seks bebas telah menjadi konsumsi harian mereka.

Data-data yang tersaji tentang perilaku anak-anak muda kita sungguh membuat miris. Menurut Komisi Perlindungan Anak (KPAI), misalnya, pada semester satu 2012 saja ada 229 kasus tawuran antarpelajar, 19 tewas dan sisanya luka berat dan ringan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2011, yaitu 128 kasus tawuran.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut pada 2008 terdapat 3,4 juta penyalahgunaan narkoba. Angkanya naik menjadi 3,83 juta pada 2010. Pada 2015, diperkirakan jumlah pengguna narkoba menembus 5,13 juta jiwa.

Sementara itu, seks bebas juga marak di kalangan remaja. Hal itu antara lain ditandai dengan tingginya angka aborsi di kalangan remaja. Komnas Perlindungan Anak (PA) mencatat, pada periode 2008–2010 terjadi 2,5 juta kasus, 62,6% dilakukan anak di bawah umur 18 tahun.

Sementara berdasarkan data dari BKKBN tahun 2013, anak usia 10-14 tahun yang telah melakukan aktivitas seks bebas atau seks di luar nikah mencapai 4,38%. Sedangkan pada usia 14-19 tahun sebanyak 41,8% telah melakukan aktivitas seks bebas. Data lain mengatakan bahwa tidak kurang dari 700.000 siswi melakukan aborsi setiap tahunnya.

Apa yang terjadi dengan pemuda-pemudi kita? Kenapa ini bisa terjadi? Benarkah anak-anak muda itu nakal? Kurang ajar, tidak bermoral, dan berkhlak rendah? Sudah berapa lama ini semua terjadi?

Semestinya bukan pertanyaan-pertanyaan bernada kecaman seperti itu yang kita sorongkan. Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah, dimana saja selama ini kita; para orang tua, guru, dan pemerintah berada? Apa yang telah kita lakukan dan berikan kepada anak-anak itu?

Sebagai orang tua, bukankah selama ini nyaris tidak ada apa pun yang kita berikan kepada anak-anak itu? Kita sudah merasa menuntaskan kewajiban jika sudah menjejali mereka dengan aneka hadiah dan kebutuhan fisiknya. Pertanyaannya, adakah perhatian dan kasih-sayang kita masih tercurah kepada mereka? Bagaimana dengan waktu dan kebersamaan di rumah dan keluarga? Masihkah kita shalat berjamaah dan membaca al quran bersama mereka? Dan, di atas semua itu, masih adakah teladan yang kita tunjukkan kepada anak-anak itu?

Bukankah di rumah kita telah menjadi para diktator bagi anak-anak. Kita melarang mereka melakukan ini-itu. Namun pada saat yang sama kita tetap saja asyik dengan larangan tersebut. Para ayah melarang anak-anaknya merokok, sementara di sela-sela jemarinya terselip rokok yang masih mengepulkan asap. Para ibu menyuruh anak-anaknya belajar dan melarang mereka menonton tv, sementara dia sendiri asyik duduk di sofa sambil matanya tidak lepas dari sinetron pengumbar mimpi dan nafsu.

Para guru di sekolah mengajarkan moral kepada para siswanya, sementara berbagai kecurangan terus dilakukan. Tidak disiplin dengan kehadiran yang membuat anak-anak gaduh di kelas. Sibuk mencari tambahan di luar kelas hingga kwalitas pengajaran terus melorot. Para kepala sekolah sibuk mengutak-atik anggaran bantuan operasional sekolah (BOS) untuk kepentingan sendiri.

Para pejabat publik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang digaji dengan uang rakyat, tidak lagi memikirkan dan bekerja dengan sungguh-sungguh agar rakyatnya sejahtera dan tercerahkan. Mereka justru sibuk bermanuver untuk melanggengkan jabatan untuk menumpuk harta dan kekuasaan, kekuasaan dan harta.

Teladan telah menjadi barang amat langka di negeri ini. Anak-anak kita tidak lagi bisa menemukan contoh hidup sederhana, arif, santun, dan penuh kasih kepada sesama yang bisa ditiru. Yang ada, setiap hari mereka dijejali dengan budaya hedonis, konsumtif, koruptif, dan manipulatif. Dan semua hal buruk itu setiap saat dipertontonkan dengan sangat telanjang oleh para orang tua di rumah, guru di sekolah, dan para pejabat di kursi-kursi kekuasaannya.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah

Kalau kita ingin memiliki anak seperti Ismail, maka dengan sendirinya diperlukan seorang bapak seperti Ibrahim AS. Tentu saja, tidak 100% seperti Ibrahim. Mungkin cuma 50%, 25%, 10%, bahkan mungkin 1% dari kualitas Ibrahim. Anak-anak seperti Ismail juga memerlukan seorang ibu seperti Hajar. Tentu saja, tidak 100% seperti Hajar. Cukup 50%, 25%, 10%, bahkan mungkin 1% dari kualitas bunda Hajar.

Pertanyaannya sekarang, seper berapa persenkah para bapak dan suami zaman ini dari Ibrahim? Apakah ada tanda-tanda bunda Hajar pada istri dan para ibu di rumah tangga kita sekarang? Dimanakah kita bertemu jodoh yang kemudian berlanjut pada pernikahan dan keluarga? Apakah di night club, karaoke atau lokasi-lokasi maksiat lain yang menjadi tempat pertemuan dengan jodoh kita?

Jangan pernah berharap di rumah kita akan hadir anak-anak sekelas Ismail, kalau kita sendiri sebagai orang tua tidak mewarisi keutamaan Ibrahim dan Hajar. Sebagai kepala keluarga, sudahkah para bapak hanya memberi nafkah anak dan istri dengan harta yang halal? Adakah rupiah yang kita bawa pulang benar-benar bersih dari unsur haram? Sah dan halalkah kelebihan penghasilan di luar gaji yang kita berikan kepada anak istri dalam bentuk nafkah, rumah, vila, tabungan dan deposito, saham dan obligasi, mobil, dan harta benda lain?

Ibu seperti apakah yang mampu melahirkan dan membimbing anak-anaknya seperti Ismail? Atau, ibu yang bagaimanakah yang memiliki surga di bawah telapak kakinya? Al-jannatu tahta aqdamil ummahat, surga di bawah telapak kaki ibu. Sebagian ulama memang menyebut ini hadits palsu. Sebagian lain mengatakan munkar, karena ada Manshur dan Abu Nadzhar, sebagai perawi tidak dikenal. Bahkan Al-Hafidz menyebutkan perawi lain hadits ini, yaitu Musa, adalah al-kadzdzab atau pendusta.

Meski demikian, ada hadits lain yang senada namun punya kedudukan shahih. Sanad hadits ini oleh banyak ulama diterima sebagai hadits yang hasan. Bahkan Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai hadits shahih. Hadits itu adalah hadits dari Mu'awiyah bin Jahimah. Beliau pernah mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya :

"Ya, Rasulallah. Aku ingin ikut dalam peperangan, tapi sebelumnya Aku minta pendapat Anda". Rasulullah SAW bertanya, "Apakah kamu masih punya ibu?". "Punya", jawabnya. Rasulullah SAW," Jagalah ibumu, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua telapak kakinya". (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani).

Pesan yang ingin disampaikan di sini adalah, hanya para ibu utama dan mulia saja yang mampu menyediakan surga di bawah telapak kakinya. Dan para ibu itu juga tidak sendiri. Mereka harus didampingi para suami yang sholeh, yang memurnikan tauhidnya sesuai dengan millah Ibrahim yang hanif.

Di tangan para orang tua seperti inilah kelak akan lahir dan terbentuk anak-anak yang berakhalak mulia. Generasi muslim yang juga memegang tahuid dengan teguh dan istiqomah. Sebab, pada dasarnya tiap anak lahir dengan bersih. Ibu dan bapaknyalah yang akan mewarnai anak-anak itu menjadi “sesuai” di kemudian hari.

يمجسانه أو ينصرانه أو يهودانه فأبواه الفطرة على يولد مولود كل

“Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)

بنفسك إبدء,

mulailah dari dirimu sendiri.

Demikian Muhammad Rasulullah SAW bersabda. Jika para orang tua memulai dari diri sendiri, baik dalam hal kebaikan dan menghindari keburukan, maka anak-anak akan menemukan teladan. Para pemuda-pemudi kita bisa menduplikasi perilaku mulia dari orang tua, guru, dan para pejabat publik negeri ini. Alangkah indahnya hidup ini dan damainya Indonesia, jika tiap keluarga hanya menularkan kebaikan dalam perilaku sehari-harinya. Tidak ada lagi perkelahian antarpelajar. Tidak ada lagi tawuran antakampung. Tidak ada lagi korupsi yang menyengsarakan rakyat. Sungguh, Indonesia akan menjadi baldatun thoyibatun warobbun ghafur. Sebuah negara yang baik dan berada di bawah perlindungan Allah yang Maha Pengampun. Insya Allah, aamiin...



أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA:

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ


اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا


اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ



اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ



H. Edy Mulyadi (Ketua Korps Muballigh Jakarta (KMJ), Ketua Badan Koordinasi Muballigh se-Indonesia) Khotbah disampaikan pada Khutbah Idul Adha 10 Zulhijjah 1436 H/24 September 2015 M di Masjid At Taufiq, Tanjung Duren, Jakarta Barat (red.Ulil)