Khotbah Paling Populer

Showing posts with label tasawuf. Show all posts
Showing posts with label tasawuf. Show all posts

Wednesday, April 20, 2016

Khutbah Jumat tentang Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

contoh khutbah jumat pilihan terbaruPusat khutbah jumat akan share khutbah jumat yang berjudul Berbakti kepada kedua orang tua, semoga bermanfaat dan dijacikan sebagai khutbah yang ikhlas tanpa mengharap apapun. mengawali khutbah kali ini marilah kita simak firman Allah di dalam surat al-Isra’: 23

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا.
Artinya:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. al Isra’[17]:23)

Beriringannya perintah beribadah kepada Allah dan berbakti kepada orang tua, memberikan isyarat penekanan berbakti kepada kedua orang tua memiliki kebaikan yang berkualitas unggul, terlebih lagi orang tua yang sudah memasuki usia senja, ia butuh kasih sayang dan pengertian yang mendalam dari anak-anaknya.

Sudah menjadi kemestian dalam hidup ini setiap anak mempunyai orang tua, orang tua menjadi kandidat orang pertama yang paling berhak memperolaeh kebaikan dari anaknya dibanding orang lain di sekitarnya, bukan saudaranya, pasangannya apalagi hanya sekedar kekasihnya. Peran orang tua dalam kelangsungan hidup ini sangat besar dibanding peran orang lain, oleh karenanya terlalu mahal untuk dikorbankan demi apa saja. Namun faktanya terkadang tidak demikian adanya, banyak anak yang memandang sebelah mata ketikan keberhasilan hidup telah diraihnya, sungguh suatu saat kehidupannya akan hancur sejak di dunia terlebh di akhiranya. Berbakti kepada orang tua adalah kebaikan yang spesial termasuk dalam infak, Allah berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ.

Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.(Al-Baqarah[2] : 215)

Kebaikan kepada orang lain secara umum disebut ihsan tetapi berbakti kepada kedua orang tua memiliki istilah birrul waalidain. Arti birrul walidain itu sendiri memiliki beberapa makna yang mendalam, namun kesemuanya memiliki kesamaan yang jelas yakni berbuat baik kepada kedua orang tua, tidak menyakiti dengan baik secara fisik maupun perasaan, tidak menampakkan kekesalan meskipun orang tua menjengkelkan, tidak bersuara lebih keras, hormat dan berkata baik kepadanya dalam suasana apapun dan sederet kebaikan lainnya. Mendengar dan menjalankan nasehat-nasehat baiknya secara istiqomah.

Hadirin jamaah jumat yang berbahagia,

Birrul waalidain itu berbuat baik sehingga kebaikan menjadi melejit dan berubah nama menjadi berbakti, berbakti itu sendiri tidak berarti membalas kebaikan orang tua, karena jelas tidak setara dengan kebaikan orang tua, melainkan berbuat baik karena memenuhi kewajiban seorang anak kepada orang tuanya. Tak bisa dibenarkan jika dikatakan bahwa berbakti adalah membalas budi baik orang tua, bahkan satu kali kesakitan disaat melahirkan saja seluruh kemampuan kita untuk dikerahkan sebagai imbalannya tidak akan pernah seimbang, belum termasuk mengandungnya apalagi mengasuhnya. Seungguh orang tua kita adalah pahlawan pertama yang membela kehidupan ini, setelah nabi dan rasulnya.

birrul waalidain menurut Al-Imam Adz-Dzahabi adalah sebuah bakti kepada orang tua yang hanya bisa terealisasi dengan memenuhi tiga kewajiban yaitu mentaati segala perintah orang tua selama tidak ada unsur maksiat, menjaga amanah hartanya dan membantu atau menolong orang tua, bila mereka membutuhkan. Bila diantara ketiga unsur tersebut ada yang diabaikan maka belum layak disebut birrul waalidain

Berbeda lagi menurut Imam Nawawi, berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.” Senada dengan definisi ini dapat ditemukan dalam sabda Nabi saw,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ ( أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي جِئْتُ أُرِيدُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِي وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَقَدْ أَتَيْتُ وَإِنَّ وَالِدَيَّ لَيَبْكِيَانِ قَالَ فَارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا ).
Artinya: “Abdullah bin ‘Amr berkata: “Seseorang pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Wahai Rasulullah, sungguh aku datang ingin berjihad bersama, aku berharap wajah Allah dan kehidupan ahirat, dan aku telah datang dalam keadaan kedua orang tuaku benar-benar menangis?”, beliau menjawab: “Kalau begitu, kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka berdua tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka berdua menangis.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud dan An Nasai.)

Dibalik tatapan mata seorang ibu yang tak lagi jelas ada doa yang tulus, dibalik kulit keriputnya ada hamparan kebaikan dan bukti telah mengurus serta membesarkan anak-anaknya, dibalik pendengarannya yang mulai berkurang tersimpan nyaringnya do’a orang tua dalam pendengaran tuhan. Oleh karenanya rugi besar bagi orang yang mempunyai oran orang tua sudah sepuh namun ia tak bisa masuk ke dalam surga. Mengingat banyaknya kebaikan yang bisa kita lakukan dari seorang ibu atau bapak.

Saking besarnya kebaikan berbakti kepada kedua orang tua, seolah olah pahala kebaikannya melebihi pahala jihad. Hal ini dapat kita tadabburi hadits nabi yang menyuruh seorang pemuda untuk tinggal bersama ibunya daripada berjihad, apabila orang tuanya lebih membutuhkan, berdasarkan hadits Nabi saw:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ، أَنَّ جَاهِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ فَجِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ. قَالَ: «أَلَكَ وَالِدَةٌ؟» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «اذْهَبْ فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ عِنْدَ رِجْلَيْهَا» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ.
Artinya: “Mu’awiyah bin Jahimah meriwayatkan bahwa Jhimah radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Sungguh aku ingin berperang, dan aku datang meminta petunjuk kepada engkau?”, beliau bersabda: “Apakah kamu memiliki ibu?”, ia menjawab: “Iya”, beliau bersabda: “Pergilah dan tinggallah bersamanya, karena sesungguhnya surga pada kedua kakinya.”( HR. Al Hakim)

Hadits di atas bernilai sahih, juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Surga di telapak kaki ibu, darinya ridhoa Allah mengalir kepada sang anak begitu juga sebaliknya durhakan kepada kedua orang tua akan mengalirkan durhaka Allah kepada sang anak.

Hadirin Jam’ah Jumat rahimakumullah
Mendurhakai orang tua sama saja dengan merusak hubungan manusia dengan tuhannya, sudah menjadi ketentua sejarah, bahwa tak seorangpun bisa menuai bahagia apabila durhaka kepada kedua orang tua. Durhaka kepada kedua orang tua siksaanya tidak hanya di akhirat saja sebagaimana dosa-dosa lainnya, tetapi dosaanya sudah di cicil sejak di dunia dan kontan di akhirat kelak. Sungguh mengerikan sekali,

Dalam cerita rakyat kita sering mendengar bahwa menanam kedurhakaan kepada orang tua akan memanen kesengsaraan secara kontan di dunia terlebih di akhirat kelak, sebut saja misalnya kisah Malin Kundang, kyai Barseso dan sederet legenda dan cerita lain yang sejenis. Durhaka kepada seorang bapak adalah dosa besar terlbih kepada seorang ibu, jauh lebih besar lagi dosanya. Keharusan berbuat baik kepada ibu disebut tiga kali kemudia kepada bapak memberikan isyarat kebanyakan kedruhakaan seseorang itu justru kepada ibunya,(lihat syarh Imam Muslim, 1/194)

Dalam hadits lain dikatakan “Sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka terhadap ibu dan melarang mengabaikan orang yang hendak berhutang. Allah juga melarang menyebar kabar burung, terlalu banyak bertanya dan membuang-buang harta (HR. Bukhariy-Muslim) status hadits shahih

Hadirin jamaah jmat yang berbahagia,

Setiap perbuatan yang menyinggung orang tua adalah dosa besar meskipun dalam pandangan umum tidaklah berdosa, misalnya memberikan sesuatu dengan melempar, begitulah Ibnu Hajar Al-Haitsami menjelaskan, atau tidak segera menyambut kedatangan orang tua di muka umum, merujuk pada kitab Az-Zawaajir II : 73. Nampaknya hal ini banyak terjadi di kalangan lingkungan orang keren, yang sebentuk gengsi dengan penampilan orang tua yang terkesan tidak trendy.

Disebut durhaka apabila ada perbuatan seorang anak yang mengusik atau mengganggu orang tuanya. Lebih jauh lagi Imam Ghazali mengatakan: “berbuat yang subhat kepada orang lain, berubah hukumnya menjadi wajib jika dilakukan kepada orang tua. Bepergian yang sunnat dan mubah menjadi haram hukumnya jika orang tua tidak mengizinkan…” dan begitulah seterusnya, tentunya apabila perintah dan larangan tersebut tidak mengandung unsur maksiat di dalamnya.

Di dalam sebuah keterangan lainnya, yang memberikan penegasan larangan durhaka kepada kedua orang tua adalah Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsan yang mengatakan, “Apabila kita sadar betapa besar hak sang ibu kepada anaknya anaknya, betapa besar dosanya durhaka terhadap kedua-nya, maafkan segala kekeliruannya di masa lalu, berusahalah menjalin hubungan baik dengannya, menyenangkan dan dahulukan kepentingannya, kurang lebih seperti itulah cara kita untuk menghindari durhaka kepadanya.

Imam Al Qurtubi erpendapat: “Termasuk durhaka kepada orang tua adalah menentang keinginan-keinginan mereka yang mubah, sebagaimana berbakti kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Perintah yang sunnat menjadi wajib, wajib bukan perbuatannya tetapi wajib kerena dalam kerangka berbakti kepada kedua orang tua, kuranglebih seperti itulah penjelasan dalam Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 6/238.

Sungguh nista sekali, era saat ini banyak kita temukan ada seorang anak tega membunuh orang tuanya, menghina dan berseteru di muka umum dengan ibunya, tak peduli ia pejabat atau artis atau siapapun mereka. Mereka akan terlaknat di akhirat kelak.

Ketahuilah Allah telah memilihkan rahim seorang ibu sebagai tempat kita menetap selama kurang lebih 9 bulan, begitu arif dan bijaksanaya seorang ibu tega merawatnya meskipun masih dalam kandungan dan menyengsarakan dirinya. Orang tua selalu berusaha menyenangkan anaknya meskipun terkadang orang tua harus berbohong, jika ada makanana ia katakan tidak, agar sang anak bisa memakannya dengan ni’mat meskipun orang tua sungguh menginginkannya.

Air mata kesediahan orang tua dikatakan sebagai sakit mata biasa, karena khawatir kesedihan orang tua mengganggu keceriaan anaknya, kesengsaraan kerja dikatakan sebagai hobi, meskipun harus menanggung beban berat agar sang anak tidak menjadi sedih karena beban yang tanggungnya. Begitulah seterusnya, sungguh orang tua berbohong kepada anaknya hanya semata-mata agar anaknya tetap ceria dan bahagia, subhanallah…

Sungguh sangat meprihatinkan, faktanya satu ibu bisa mengurusi dan membesarkan 3, 4, 5 anak atau lebih banyak lagi, tetapi tekadang lima anak tidak bisa mengurusi satu ibu saja. Kesedihan yang dahulu ditanggung ibunya mudah dilupakan sang anak pada saat memperoleh kebahagiaan di masa kini, tekadang saat mendapat kebahagiaan sang istri yang didahulukannya, jika awal bulan mendapat gajian kepada isteri diserah terimakan bukan kepada sang ibu yang sekian lama membesarkannya.

Ya rabb, mudahkan kedua orang tua kami dalam menjalani hidup di dunia, dan ampunkan seluruh dosanya agar kelak meghadapmu dalam keadaan orang yang bersih dari dosa dan noda, terimalah taubat nasuha mereka berdua

Khutbah Tentang Bersyukur Mengundang Nikmat

Pusat khutbah jumat memberikan meteri khutbah dengan judul Khutbah tentang bersyukur mengundang nikmat adapun postingan pertama blog ini berjudul umur sebagai modal hidup menuju mati. Sebagaimana mestinya para pembaca yang budiman silahkan menambahkan materi lain yang berkaitan dengan tema ini.
Puji syukur seagung-agungnya kepada sang pemberi nikmat, semoga aliran nikmatnya terus teralir deras kepada hamba-hambanya yang sahalih dan kepada kita semua amiin. Shalawat salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi kita Nabi Muhammad saw, pejuang kemulyaan, yang menggeser manusia dari prilaku jahiliyah menuju akhlaqul karimah. Tak lupa mari kita tingkatkan nilai taqwa kita naik secara kualitas maupun kwantitasnya. 
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Dalam menjalani roda kehidupan ini, Banyak sekali nikmat Allah yang kita pergunakan, sehingga kita punya tempat berteduh, makan terasa nikmat, tidak seperti saudara-saudara muslim kita dibeberapa tempat, sebut saja Jalur Gaza, siang malam harus terjaga untuk menghindari ganasnya roket Israel . Di wilayah loka juga banjir terjadi, gempa, putting beliung dan sederet musibah atau ujian lainnya yang menghantam sesuai suratan taqdir dari-Nya. Menjadi nyata bahwa nikmat yang kita dapat sekarang ini sungguh luar biasa banyaknya.

Dalm diri kita sendiri, melekat berbagai kenikmatan yang berharga, bahkan tidak terhitung meski dengan alat secanggih apapun. Coba kita renungkan dan beri label harga satu persatu, berapa harga nafas, jantung lifer, mata dan perangkat tubuh lainnya. Pantas Allah menantang dengan Firmannya
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan jika kamu menghitung-hitung ni`mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (an-nahl:16:18)

Nikmat-nikmat tersebut kita dapat dengan cuma-cuma. Allah tak butuh tebusan harga karena Allah Maha Kaya, namun hanya satu perintahnya, lakukan dan pergunakan sesuai dengan perintahnya. Mata untuk melihat yang baik-baik, telinga untuk mendengar mauidhah hasanah, dan begitulah seterusnya.

Saldo deposito atau tabungan kita yang ada di bank tidak ada harganya jika dibandingkan dengan harga detak jantung kita, berapapun banyaknya tabungan, jika Allah menghentikan aliran darah di dalam tubuh maka nominal uang menjadi kecil harga jualnya

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mengapa manusia enggan untuk tidak bersyukur dengan maksimal, paling tidak ada 3 hal yang membuat manusia itu enggan untuk bersyukur.

Pertama, tanpa sadar, fikiran kita sering terpusat kepada apa yang dimiliki oleh orang lain, sehingga Kenikmatan yang kita miliki tidak terlihat potensinya, sesuai dengan karakter nafsu manusia maka, manusia tidak akan pernah puas dengan harta. Nabi bersabda:
منهومان لايشبعان منهوم العلم و منهوم المال
(رواه الطبرنى عن ابن مسعود)
Artinya: “ada dua kegemaran yang tidak akan dapat mampu memuaskan kepada orang yangmencarinya, yaitu kegemaran mencari ilmudan kegemaran mencari harta”

Kedua, menganggap nikmat yang diberikan oleh Allah kepada orang lain, lebih banyak ketimbang nikmat yang telah kepada kita. sehingga sehari-hari selalu sibuk menghitung nikmat orang lain,

Ketiga, merasa bahwa apa yang kita dapat adalah semata-mata hasil usaha sendiri tanpa ada pertolongan dari Allah, sehingga yang muncul didalam benak kita adalah rasa sombong atas kemampuan dan usaha yang kita lakukan. Padahal jika kita tengok kembali sesungguhnya Allah-lah yang memberikan semua makan kepada makhluknya, Allah bertanggung jawab atas ciptaannya, kita lihat bagaimana ayam memenuhi kebutuhan hidupnya.

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(al Ankabut:29:16)

Hadirin yang dimulyakan oleh Allah,
Tidak ada yang lebih bijak yang harus kita lakukan selain harus mensyukuri nikmat yang telah kita miliki, Nikmat itu bagaikan hewan piaraan, jika hewan yang kita pelihara dan kita lengkapi kebutuhannya maka akan tumbuh dan berkembang, begitu juga jika kita lengkapi kebutuhannya maka nikmat akan berkembang menjadi penenang bagi kita. Tindakannya adalah bersyukur

بارك الله لي ولكم فى القرأن العظيم , ونفعنى وإياكم بما فيه من الأ يات و الذكر الحكيم . وتقبل الله منا ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم.