Khotbah Paling Populer

Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Tuesday, October 4, 2016

Khutbah Jumat : Sabar Kunci Kesuksesan


الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امورالدنيا والدي . أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين. اما بعد
فياعباد الله أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون, وقال الله تعالى فى القرأن العظيم وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ الله العلي العظيم
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Dalam kesempatan khutbah ini, mari kita merenungkan kembali hal yang mungkin sudah sering kita dengar dan kita alami, tetapi dapat kita perdalam dengan lebih baik. Kita akan melihat bagaimana korelasi antara sikap sabar dengan kesuksesan hidup. Orang-orang yang sukses di dunia ini senantiasa menyisakan cerita unik tentang dinamika dan pasang surut perjuangan, jatuh bangun dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan. Tanpa jiwa yang kuat dan sabar maka tidaklah mungkin seseorang akan mencapai kesuksesan hidup.

Sabar merupakan harta mati bagi sebuah kesuksesan. Hampir tidak ada kesuksesan tanpa didahului perjuangan dan kesabaran, penuh disiplin, dan tidak mudah putus asa. Inilah hikmah dari petikan cerita surah al-Baqarah ayat 249 tentang Nabi Daud:
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّـهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو اللَّـهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّـهِ ۗ وَاللَّـهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

Ayat tersebut terkait dengan pengalaman Nabi Daud saw ketika memimpin pasukan kecilnya melawan tentara Jalut yang jumlahnya jauh lebih besar. Dan Nabi Daud berhasil memenangkan peperangan ini karena kesabaran, keuletan dan kedisiplinan.

Kaum Muslimin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Dalam deretan Asmaul Husna, As-Shabur (Yang Maha Penyabar) adalah salah satu nama dari asma-Nya. Menurut Imam al-Ghazali, nama Tuhan ini mengandung pengertian bahwa Allah tidak tergesa-gesa menghukum para pelaku dosa. Kesabaran-Nya terhadap para pelaku perbuatan dosa dengan tujuan memberikan waktu agar insyaf, dan kembali menemukan jalan yang diridhai-Nya.
Dengan kata lain, sabar merupakan sifat Allah subhanahu wa ta’ala. Sabar mencerminkan sifat ke-Tuhanan-an yang sangat mulia. Bahkan dalam tingkatan tindakan keimanan sabar menempati posisi paling tinggi, tentunya dengan pahala yang tak terhingga. Seperti yang tercantum dalam surat az-Zumar ayat 10:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Jama’ah Jum’at yang di rahimati Allah...
Sabar selalu diidentikkan dengan musibah. Artinya sabar seolah hanya ada ketika manusia dihadapkan dengan musibah. Padahal tidak begitu adanya. Karena sesungguhnya bersabar jauh lebih berat ketika diterapkan dalam kondisi kehidupan yang normal dan bahagia. Memang berat seorang yang hidup miskin untuk bersabar dengan kondisi yang dialaminya dan tetap ingat dan berterimakasih dengan rahmat-Nya. Akan tetapi lebih berat lagi ketika seorang yang berkedudukan, seorang pejabat, harus bersabar tetap berada dalam jalan yang diridhai-Nya, sedangkan disekililingnya bergelimangan harta dan kekuasaan yang tak putus-putusnya mengajak menuju kebejatan dan kesesatan.

Bersabar memang pahit awalnya, akan tetapi manis akhirnya. Allah swt memerintahkan sabar dalam menghadapi sesuatu yang tidak disenangi maupun yang disenangi. Begitu mulianya sebuah kesabaran sehingga Allah swt menghimbau kepada orang beriman agar menjadikan kesabaran sebagai pegangan, sebagai penolong seperti yang dituntunkan dalam al-qur’an surat al-Baqarah ayat 153;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّـهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah...
Bila dicermati dengan seksama maka ayat di atas, bila dilihat cara penyebutan kata sabar mendahului kata sholat, menggambarkan bahwa kedudukan sabar tidaklah kalah penting dengan sholat. Ini dikarenakan segala sesuatu memang memerlukan kesabaran. Hingga masalah yang paling pentingpun yaitu sholat tidak ketinggalan.
Akan tetapi, perlu diingat bahwa sabar bukanlah berserah diri. Pasif menerima apa adanya. Namun, sabar harus disertai dengan usaha menuju kepada yang lebih baik.
Sebagai penutup, marilah kita saling berwasiat akan pentingnya kesabaran sebagai kunci menuju sukses. Kesabaran yang aktif dan dinamis, bukan kesabaran yang pasif dan stagnan.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امورالدنيا والدي. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين. اما بعد
فياعباد الله أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون, وقال الله تعالى فى القرأن العظيم وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ الله العلي العظيم
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Dalam kesempatan khutbah ini, mari kita merenungkan kembali hal yang mungkin sudah sering kita dengar dan kita alami, tetapi dapat kita perdalam dengan lebih baik. Kita akan melihat bagaimana korelasi antara sikap sabar dengan kesuksesan hidup. Orang-orang yang sukses di dunia ini senantiasa menyisakan cerita unik tentang dinamika dan pasang surut perjuangan, jatuh bangun dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan. Tanpa jiwa yang kuat dan sabar maka tidaklah mungkin seseorang akan mencapai kesuksesan hidup.
Sabar merupakan harta mati bagi sebuah kesuksesan. Hampir tidak ada kesuksesan tanpa didahului perjuangan dan kesabaran, penuh disiplin, dan tidak mudah putus asa. Inilah hikmah dari petikan cerita surah al-Baqarah ayat 249 tentang Nabi Daud:
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّـهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو اللَّـهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّـهِ ۗ وَاللَّـهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

Ayat tersebut terkait dengan pengalaman Nabi Daud saw ketika memimpin pasukan kecilnya melawan tentara Jalut yang jumlahnya jauh lebih besar. Dan Nabi Daud berhasil memenangkan peperangan ini karena kesabaran, keuletan dan kedisiplinan.

Kaum Muslimin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Dalam deretan Asmaul Husna, As-Shabur (Yang Maha Penyabar) adalah salah satu nama dari asma-Nya. Menurut Imam al-Ghazali, nama Tuhan ini mengandung pengertian bahwa Allah tidak tergesa-gesa menghukum para pelaku dosa. Kesabaran-Nya terhadap para pelaku perbuatan dosa dengan tujuan memberikan waktu agar insyaf, dan kembali menemukan jalan yang diridhai-Nya.
Dengan kata lain, sabar merupakan sifat Allah subhanahu wa ta’ala. Sabar mencerminkan sifat ke-Tuhanan-an yang sangat mulia. Bahkan dalam tingkatan tindakan keimanan sabar menempati posisi paling tinggi, tentunya dengan pahala yang tak terhingga. Seperti yang tercantum dalam surat az-Zumar ayat 10:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Jama’ah Jum’at yang di rahimati Allah...
Sabar selalu diidentikkan dengan musibah. Artinya sabar seolah hanya ada ketika manusia dihadapkan dengan musibah. Padahal tidak begitu adanya. Karena sesungguhnya bersabar jauh lebih berat ketika diterapkan dalam kondisi kehidupan yang normal dan bahagia. Memang berat seorang yang hidup miskin untuk bersabar dengan kondisi yang dialaminya dan tetap ingat dan berterimakasih dengan rahmat-Nya. Akan tetapi lebih berat lagi ketika seorang yang berkedudukan, seorang pejabat, harus bersabar tetap berada dalam jalan yang diridhai-Nya, sedangkan disekililingnya bergelimangan harta dan kekuasaan yang tak putus-putusnya mengajak menuju kebejatan dan kesesatan.

Bersabar memang pahit awalnya, akan tetapi manis akhirnya. Allah swt memerintahkan sabar dalam menghadapi sesuatu yang tidak disenangi maupun yang disenangi. Begitu mulianya sebuah kesabaran sehingga Allah swt menghimbau kepada orang beriman agar menjadikan kesabaran sebagai pegangan, sebagai penolong seperti yang dituntunkan dalam al-qur’an surat al-Baqarah ayat 153;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّـهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah...
Bila dicermati dengan seksama maka ayat di atas, bila dilihat cara penyebutan kata sabar mendahului kata sholat, menggambarkan bahwa kedudukan sabar tidaklah kalah penting dengan sholat. Ini dikarenakan segala sesuatu memang memerlukan kesabaran. Hingga masalah yang paling pentingpun yaitu sholat tidak ketinggalan.
Akan tetapi, perlu diingat bahwa sabar bukanlah berserah diri. Pasif menerima apa adanya. Namun, sabar harus disertai dengan usaha menuju kepada yang lebih baik.
Sebagai penutup, marilah kita saling berwasiat akan pentingnya kesabaran sebagai kunci menuju sukses. Kesabaran yang aktif dan dinamis, bukan kesabaran yang pasif dan stagnan.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Sumber

Khutbah Jumat : Jujur Tidak Mesti Hancur


الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امورالدنيا والدين
هد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين. اما بعد
فياعباد الله أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون, وقال الله تعالى "ياأيهاالذين أمنوا اتقوالله حق تقاته ولاتموتن إلا وأنتم مسلمون" وقال النبي صلى الله عليه وسلم: اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحوها وخالق الناس بخلق حسن. صدق الله العلي العظيم وصدق رسوله النبي الحبيب الكريم, والحمد لله رب العالمين
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah...
Marilah dalam khutbah kali ini kita bersama-sama memwasiatkan diri kita masing-masing untuk meningkatkan ketakwaan kita. Banyak jalan untuk meraih ketaqwaan. Tidak harus jalan yang berliku dan terjal, tapi pilihlah jalan yang landai menuju taqwa. Jalan menuju taqwa tidak hanya dengan berdzikir sepanjang malam, berpuasa sepanjang hari, ataupun bersedekah dengan harta yang berlimpah. Pilihlah jalan yang mudah menuju taqwa salah satunya dengan berlaku jujur. Insyaallah kita akan menemukan ketaqwaan didalamnya.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah...
Dalam Islam, jujur atau kejujuran adalah sebuah amanat yang mesti dipenuhi dalam menjalani kehidupan manusia di dunia. Kejujuran adalah sebuah pilihan. Karena kejujuran adalah satu sisi mata uang dengan ketidak jujuran. Ketika kita memilih untuk bertindak jujur berarti kita berhasilkan mengalahkan ketidak jujuran. Dan sebaliknya kekitka kita tidak jujur berarti kita membelakangi kejujuran.

Kejujuran yang kita andaikan berada di jalur ”kanan lurus” memiliki banyak sekali lawan kata (antonim) di jalur ”kiri menyimpang”, seperti (ber)bohong , (ber)hianat, (men)tipu, curang, alias ”tidak jujur” yang dapat hinggap di setiap aspek/dimensi manusia. Orang dapat berkata bohong, artinya tidak jujur; berbuat hianat, artinya tidak setia atau tidak menepati kesepakatan; bertindak menipu, artinya ingin mengelabui sejak semula; dan berlaku curang, artinya tidak menepati peraturan atau ketentuan. Artinya jujur dapat berlaku pada ucapan, perbuatan maupun sikap.

Jujur secara baku dapat diartikan sebagai ”mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran”. Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, maka orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya. Bahkan Allah swt. melalui kisah Rasulullah saw menggambarkan betapa pentingnya kejujuran dan betapa pedihnya siksa yang dijanjikan-Nya, apa lagi jika itu berhubungan dengan kepentingan umat:
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَغُلَّ وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ
Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.

Nah... sekarang para Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah...
Bagaimanakah kalau pengetahuan yang dijadikan landasan ucapan dan perbuatannya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, artinya pengetahuannya salah? Di sinilah fungsi agama berlaku. Contoh sederhana saja, misalnya seseorang mengira dan mengatakan bahwa ia memiliki sepuluh pasang sepatu dirumahnya, ternyata ketika dicek dan dihitung, sepatu yang menjadi miliknya di rumahnya berjumlah dua belas, apakah orang ini berbohong?
Maka Islam sebagai agama yang memiliki pijakan dasar pada kemanusiaan, terlebih dahulu menggarisbawahi kasus semacam ini pada ungkapan:
وما شهدنا إلا بما علمنا
(kita tidak akan bersaksi kecuali terhadap sesuatu yang telah kita ketahui). Sampai di sini, jika kita tidak mengerti terhadap sesuatu dan ditanyai oleh orang lain, maka garis yang harus diikuti adalah mengakui ketidaktahuan atau ”diam”, dalam arti tidak ikut berpolemik yang justru akan menjadikan segalanya semakin keruh. Dalam hal ini berlaku kaidah
السكوت سلامة
(diam adalah keselamatan). Karena jika kita memakasakan diri untuk iikut berpendapat, padahal kita tidak mengerti, maka ketidajujuran akan terjadi. Akibatnya dapat berupa fitnah (mencelakai) terhadap orang lain atau bentuk-bentuk yang lain seperti kerugian pada masyarakat dan menguntungkan para penjahat. bahkan justru dapat menjadi bumerang yang mencelakai diri sendiri.

Namun biasanya persoalan bukan terjadi dalam kondisi semacam ini, melainkan kondisi-kondisi yang sebaliknyalah yang menjadikan kejujuran kita benar-benar diuji. Yakni jika kita mengetahui, menyaksikan dan mengalami atau melakukan sendiri ketidakjujuran, kecurangan-kecurangan atau penipuan-penipuan, beranikah kita menyatakannya secara jujur? Sementara secara normal dalam kondisi ini, jujur akan berakibat ”negatif” secara duniawi bagi diri, keluarga, dan kelompok kita sendiri. Terutama akhir-akhir ini.

Contoh fenomenal yang paling ”gress” adalah sebuah ungkapan kejujuran yang harus dibayar mahal oleh para guru di dunia pendidikan Indonesia saat ini. Bagaimana nasib para guru yang berani membongkar kejahatan UN di sekolahnya masing-masing? Bagaimana nasib guru yang berani membongkar kejahatan di IPDN? Dan bagaimana nasib para guru yang membela sekolahnya dari penggusuran oleh unsur-unsur komersial? Serta bagaimana nasib para pegawai yang berusaha jujur untuk sekedar tidak mau diajak bersama-sama menikmati hasil-hasil korupsi? Seakan dalam kondisi-kondisi semacam ini, kejujuran justru berkorelasi (akrab/biasanya berakhir) dengan kerugian, kehancuran atau ketidaknyamanan diri sendiri.

Guru-guru dituntut sebagai pencemar nama baik sekolah mereka sendiri dan diberhentikan karena berbicara dengan jujur tentang hal-hal yang bertentangan dengan nurani mereka. Padahal yang mereka ungkapkan sebanarnya sudah bukan lagi rahasia, bahwa terjadi kecurangan di mana-mana, terutama dalam masalah UN, kalaupun rahasia, paling banter adalah rahasia umum. Hampir semua pelaku (praktisi) di dunia pendidikan mengetahui kenyataan ini, namun hanya beberapa gelintir dari mereka yang menyuarakannya. Seakan mereka membuta tuli dan sekalian membisu terhadap segala yang terjadi di lingkungan mereka.

Tentu saja, alasan yang paling mendasari sikap mereka ini adalah : kalau bukan mereka terlibat atau mendukung, biasanya ya, itu tadi, lebih dikarenakan memprotek diri sendiri, melindungi diri, atau memilih aman dengan berdiam diri dan membiarkan segalanya terjadi sebagai sebuah kelumrahan. Dari sinilah, kejujuran menjadi sesuatu yang sangat mahal dan beresiko tinggi. Banyak anggapan yang berkembang menjadi sebuah adagium (ungkapan) ”kejujuran sama dengan kehancuran”. Maka agar selamat, orang-orang bersepakat untuk tidak perlu lagi jujur, atau harus menanggung resiko buruk.

Saudara sekalian Jama’ah Jum’ah yang dirahamti Allah...
Benarkah kondisi semacam ini? Jawabnya adalah benar. Yah, benar-benar memprihatinkan. Sekali lagi benar-benar memprihatinkan. Bahwa kejujuran merupakan pintu menuju kehancuran. Setidaknya di Indonesia yang merupakan negara besar, berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa. Selain itu Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Seolah negara ini merupakan negara yang sempurna untuk ditinggali dan tidak akan habis kekayaannya. Meskipun, penduduknya hidup dalam lingkungan yang dipenuhi oleh ketidakjujuran; dalam segala bentuk, dalam segala aspek dan dalam segala lintas ruang dan waktu.

Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Padahal tidak demikian sebenarnya. Meskipun Indonesia kaya secara fisik, namun Indonesia sangat miskin dalam hal mental (moral). Baik di tingkal bawah, seperti para pekerja, kuli, buruh, dan pegawai bawahan; di tingkat menengah seperti para pengusaha, pedagang, pebisnis dan intelektual; maupun di tingkat elit bangsa seperti para anggota DPR/D maupun elit eksekutif. Selalu ada pejabat yang melakukan praktek korupsi.

Mereka kebanyakan melakukannya dengan dalih pembangunan negara. Padahal dana yang digunakan kebanyakan diselewengkan oleh pejabat yang bertugas di dalamnya. Mereka mampu mengais keuntungan dibalik kesengsaraan rakyatnya. Di saat semua orang menangis melihat rumahnya tenggelam oleh luapan lumpur, banjir, gagal panen atau melambungnya harga-harga kebutuhan pokok, terutama pendidikan. Para pejabat tertawa dengan santainya sembari mengayunkan uang yang berhasil mereka raup hasil dari kebohongan yang mereka buat.

Maka jika kondisi telah sedemikian mengenaskan, saudara-daudara...tiada apapun yang dapat memperbaiki keadaan selain masyarakat itu sendiri. Dari mana? Saya lebih sepakat dari dalam, yah, dari dalam diri masyarakat itu sendiri. Lalu apakah, yang ada dalam diri masyarakat Indonesia? Saya sepakat bahwa yang terdalam pada diri masyarakat Indonesia adalah moral (baca: agama). Mengapa?
Karena agama telah menjadi darah daging sejak permulaan kelahiran masyarakat Indonesia, sejak sebelum bernama Indonesia, bahkan sejak sebelum mereka mengenal nama-nama agama. Selalu ada kesadaran untuk mempercayai ”kekuatan lain” yang lebih berkuasa atas segala kejadian di dunia. Maka setelah, kini bangsa Indonesia hidup di alam agama, di mana agama terbesar adalah Islam, maka agama Islam harus dapat ditempatkan kembali di jantung setiap diri bangsa Indonesia. Dalam hal ini adalah spirit kejujuran. Masyarakat harus kembali meyakini kejujuran sebagai amanah agama yang dapat membawa kebahagiaan bukan hanya di dunia, melainkan juga di akhirat kelak.

Hal ini dikarenakan mayoritas masyarakat hampir-hampir tidak lagi mem-percayai pengadilan dunia yang terlalu mudah dibeli. Sementara Pengadilan Allah tidak mungkin diselesaikan dengan tanpa ”kejujuran” (perhitungan tepat). Siapa yang bersalah, dialah yang akan dihukum, siapa yang berbuat saleh dialah yang akan menerima penghargaan Allah. Tidak akan meleset.

Para hadirin Jama’ah Jum’ah yang Mulia
Marilah kita akhiri khutbah ini dengan bersama-sama merenungkan sabda Rasulullah saw. , ”Hendaklah kalian senantiasa berpegang pada kejujuran, karena kejujuran menuntun pada kebaikan yang berujung di Surga (kebahagiaan). Dan janganlah sekali-kali kalian menghamba pada kebohongan, karena kebohongan menuntun kita pada keburukan yang berujung di neraka (kesengsaraan)” (HR. Bukhari Muslim).
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَغُلَّ وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ
Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.
الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امورالدنيا والدين. أ
هد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين. اما بعد
فياعباد الله أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون, وقال الله تعالى "ياأيهاالذين أمنوا اتقوالله حق تقاته ولاتموتن إلا وأنتم مسلمون" وقال النبي صلى الله عليه وسلم: اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحوها وخالق الناس بخلق حسن. صدق الله العلي العظيم وصدق رسوله النبي الحبيب الكريم, والحمد لله رب العالمين
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah...
Marilah dalam khutbah kali ini kita bersama-sama memwasiatkan diri kita masing-masing untuk meningkatkan ketakwaan kita. Banyak jalan untuk meraih ketaqwaan. Tidak harus jalan yang berliku dan terjal, tapi pilihlah jalan yang landai menuju taqwa. Jalan menuju taqwa tidak hanya dengan berdzikir sepanjang malam, berpuasa sepanjang hari, ataupun bersedekah dengan harta yang berlimpah. Pilihlah jalan yang mudah menuju taqwa salah satunya dengan berlaku jujur. Insyaallah kita akan menemukan ketaqwaan didalamnya.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah...
Dalam Islam, jujur atau kejujuran adalah sebuah amanat yang mesti dipenuhi dalam menjalani kehidupan manusia di dunia. Kejujuran adalah sebuah pilihan. Karena kejujuran adalah satu sisi mata uang dengan ketidak jujuran. Ketika kita memilih untuk bertindak jujur berarti kita berhasilkan mengalahkan ketidak jujuran. Dan sebaliknya kekitka kita tidak jujur berarti kita membelakangi kejujuran.

Kejujuran yang kita andaikan berada di jalur ”kanan lurus” memiliki banyak sekali lawan kata (antonim) di jalur ”kiri menyimpang”, seperti (ber)bohong , (ber)hianat, (men)tipu, curang, alias ”tidak jujur” yang dapat hinggap di setiap aspek/dimensi manusia. Orang dapat berkata bohong, artinya tidak jujur; berbuat hianat, artinya tidak setia atau tidak menepati kesepakatan; bertindak menipu, artinya ingin mengelabui sejak semula; dan berlaku curang, artinya tidak menepati peraturan atau ketentuan. Artinya jujur dapat berlaku pada ucapan, perbuatan maupun sikap.

Jujur secara baku dapat diartikan sebagai ”mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran”. Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, maka orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya. Bahkan Allah swt. melalui kisah Rasulullah saw menggambarkan betapa pentingnya kejujuran dan betapa pedihnya siksa yang dijanjikan-Nya, apa lagi jika itu berhubungan dengan kepentingan umat:
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَغُلَّ وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ
Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.

Nah... sekarang para Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah...
Bagaimanakah kalau pengetahuan yang dijadikan landasan ucapan dan perbuatannya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, artinya pengetahuannya salah? Di sinilah fungsi agama berlaku. Contoh sederhana saja, misalnya seseorang mengira dan mengatakan bahwa ia memiliki sepuluh pasang sepatu dirumahnya, ternyata ketika dicek dan dihitung, sepatu yang menjadi miliknya di rumahnya berjumlah dua belas, apakah orang ini berbohong?
Maka Islam sebagai agama yang memiliki pijakan dasar pada kemanusiaan, terlebih dahulu menggarisbawahi kasus semacam ini pada ungkapan:
وما شهدنا إلا بما علمنا
(kita tidak akan bersaksi kecuali terhadap sesuatu yang telah kita ketahui). Sampai di sini, jika kita tidak mengerti terhadap sesuatu dan ditanyai oleh orang lain, maka garis yang harus diikuti adalah mengakui ketidaktahuan atau ”diam”, dalam arti tidak ikut berpolemik yang justru akan menjadikan segalanya semakin keruh. Dalam hal ini berlaku kaidah
السكوت سلامة
(diam adalah keselamatan). Karena jika kita memakasakan diri untuk iikut berpendapat, padahal kita tidak mengerti, maka ketidajujuran akan terjadi. Akibatnya dapat berupa fitnah (mencelakai) terhadap orang lain atau bentuk-bentuk yang lain seperti kerugian pada masyarakat dan menguntungkan para penjahat. bahkan justru dapat menjadi bumerang yang mencelakai diri sendiri.

Namun biasanya persoalan bukan terjadi dalam kondisi semacam ini, melainkan kondisi-kondisi yang sebaliknyalah yang menjadikan kejujuran kita benar-benar diuji. Yakni jika kita mengetahui, menyaksikan dan mengalami atau melakukan sendiri ketidakjujuran, kecurangan-kecurangan atau penipuan-penipuan, beranikah kita menyatakannya secara jujur? Sementara secara normal dalam kondisi ini, jujur akan berakibat ”negatif” secara duniawi bagi diri, keluarga, dan kelompok kita sendiri. Terutama akhir-akhir ini.

Contoh fenomenal yang paling ”gress” adalah sebuah ungkapan kejujuran yang harus dibayar mahal oleh para guru di dunia pendidikan Indonesia saat ini. Bagaimana nasib para guru yang berani membongkar kejahatan UN di sekolahnya masing-masing? Bagaimana nasib guru yang berani membongkar kejahatan di IPDN? Dan bagaimana nasib para guru yang membela sekolahnya dari penggusuran oleh unsur-unsur komersial? Serta bagaimana nasib para pegawai yang berusaha jujur untuk sekedar tidak mau diajak bersama-sama menikmati hasil-hasil korupsi? Seakan dalam kondisi-kondisi semacam ini, kejujuran justru berkorelasi (akrab/biasanya berakhir) dengan kerugian, kehancuran atau ketidaknyamanan diri sendiri.

Guru-guru dituntut sebagai pencemar nama baik sekolah mereka sendiri dan diberhentikan karena berbicara dengan jujur tentang hal-hal yang bertentangan dengan nurani mereka. Padahal yang mereka ungkapkan sebanarnya sudah bukan lagi rahasia, bahwa terjadi kecurangan di mana-mana, terutama dalam masalah UN, kalaupun rahasia, paling banter adalah rahasia umum. Hampir semua pelaku (praktisi) di dunia pendidikan mengetahui kenyataan ini, namun hanya beberapa gelintir dari mereka yang menyuarakannya. Seakan mereka membuta tuli dan sekalian membisu terhadap segala yang terjadi di lingkungan mereka.

Tentu saja, alasan yang paling mendasari sikap mereka ini adalah : kalau bukan mereka terlibat atau mendukung, biasanya ya, itu tadi, lebih dikarenakan memprotek diri sendiri, melindungi diri, atau memilih aman dengan berdiam diri dan membiarkan segalanya terjadi sebagai sebuah kelumrahan. Dari sinilah, kejujuran menjadi sesuatu yang sangat mahal dan beresiko tinggi. Banyak anggapan yang berkembang menjadi sebuah adagium (ungkapan) ”kejujuran sama dengan kehancuran”. Maka agar selamat, orang-orang bersepakat untuk tidak perlu lagi jujur, atau harus menanggung resiko buruk.

Saudara sekalian Jama’ah Jum’ah yang dirahamti Allah...
Benarkah kondisi semacam ini? Jawabnya adalah benar. Yah, benar-benar memprihatinkan. Sekali lagi benar-benar memprihatinkan. Bahwa kejujuran merupakan pintu menuju kehancuran. Setidaknya di Indonesia yang merupakan negara besar, berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa. Selain itu Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Seolah negara ini merupakan negara yang sempurna untuk ditinggali dan tidak akan habis kekayaannya. Meskipun, penduduknya hidup dalam lingkungan yang dipenuhi oleh ketidakjujuran; dalam segala bentuk, dalam segala aspek dan dalam segala lintas ruang dan waktu.

Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Padahal tidak demikian sebenarnya. Meskipun Indonesia kaya secara fisik, namun Indonesia sangat miskin dalam hal mental (moral). Baik di tingkal bawah, seperti para pekerja, kuli, buruh, dan pegawai bawahan; di tingkat menengah seperti para pengusaha, pedagang, pebisnis dan intelektual; maupun di tingkat elit bangsa seperti para anggota DPR/D maupun elit eksekutif. Selalu ada pejabat yang melakukan praktek korupsi. Mereka kebanyakan melakukannya dengan dalih pembangunan negara. Padahal dana yang digunakan kebanyakan diselewengkan oleh pejabat yang bertugas di dalamnya. Mereka mampu mengais keuntungan dibalik kesengsaraan rakyatnya. Di saat semua orang menangis melihat rumahnya tenggelam oleh luapan lumpur, banjir, gagal panen atau melambungnya harga-harga kebutuhan pokok, terutama pendidikan. Para pejabat tertawa dengan santainya sembari mengayunkan uang yang berhasil mereka raup hasil dari kebohongan yang mereka buat.

Maka jika kondisi telah sedemikian mengenaskan, saudara-daudara...tiada apapun yang dapat memperbaiki keadaan selain masyarakat itu sendiri. Dari mana? Saya lebih sepakat dari dalam, yah, dari dalam diri masyarakat itu sendiri. Lalu apakah, yang ada dalam diri masyarakat Indonesia? Saya sepakat bahwa yang terdalam pada diri masyarakat Indonesia adalah moral (baca: agama). Mengapa?
Karena agama telah menjadi darah daging sejak permulaan kelahiran masyarakat Indonesia, sejak sebelum bernama Indonesia, bahkan sejak sebelum mereka mengenal nama-nama agama. Selalu ada kesadaran untuk mempercayai ”kekuatan lain” yang lebih berkuasa atas segala kejadian di dunia. Maka setelah, kini bangsa Indonesia hidup di alam agama, di mana agama terbesar adalah Islam, maka agama Islam harus dapat ditempatkan kembali di jantung setiap diri bangsa Indonesia. Dalam hal ini adalah spirit kejujuran. Masyarakat harus kembali meyakini kejujuran sebagai amanah agama yang dapat membawa kebahagiaan bukan hanya di dunia, melainkan juga di akhirat kelak.

Hal ini dikarenakan mayoritas masyarakat hampir-hampir tidak lagi mem-percayai pengadilan dunia yang terlalu mudah dibeli. Sementara Pengadilan Allah tidak mungkin diselesaikan dengan tanpa ”kejujuran” (perhitungan tepat). Siapa yang bersalah, dialah yang akan dihukum, siapa yang berbuat saleh dialah yang akan menerima penghargaan Allah. Tidak akan meleset.

Para hadirin Jama’ah Jum’ah yang Mulia
Marilah kita akhiri khutbah ini dengan bersama-sama merenungkan sabda Rasulullah saw. , ”Hendaklah kalian senantiasa berpegang pada kejujuran, karena kejujuran menuntun pada kebaikan yang berujung di Surga (kebahagiaan). Dan janganlah sekali-kali kalian menghamba pada kebohongan, karena kebohongan menuntun kita pada keburukan yang berujung di neraka (kesengsaraan)” (HR. Bukhari Muslim).
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَغُلَّ وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ
Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.
Sumber

Khutbah Jumat : Enam Pertanyaan Al-Ghazali


لحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امورالدنيا والدين. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين. اما بعد
فياعباد الله أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون, وقال الله تعالى فى القرأن العظيم كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ الله العلي العظيم
Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Pada kesempatan khutbah kali ini, pertama-tama saya mengajak pribadi saya sendiri dan kaum muslimin umumnya untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. Hanya dengan taqwalah bekal yang untuk menghadap-Nya nanti. Fainna khairaz zadit taqwa. Jangan ragukan janji Allah, bahwa ia hanya melihat seseorang dari ketaqwaannya bukan dari sisi lainnya.

Jama’ah yang dimuliakan Allah
Dalam khutbah kali ini saya hendak mengisahkan sebuah cerita diskusi antara Imam Al-Ghozali dengan muridnya. Ada enam pertanyaan yang dilontarkan beliau kepada para muridnya, dan kesemuanya sangat bagus untuk kita simak niali-nilai yang terkandung di dalamnya.

Suatu ketika Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya.
Wahai murid-muridku sekalian, coba kalian jawab "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawab "orang tua,guru,kawan,dan sahabatnya".
Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI".
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan" (Ali Imran 185)

Kematian adalah sesuatu yang tiada seorang pun tahu kapan ia akan datang. Karena itu manusia harus selalu bersiap diri menghadapinya. Terkadang ia jauh terasa, padahal ia dekat dalam kenyataannya. Janganlah kita lengah dalam memahami hal ini, jangan sekali-kali merasa diri jauh dari mati, karena itu membuat kita besar hati. Justru kerahasiaannya harus kita maknai bahwa mati bisa terjadi kapan saja dan dimana saja tanpa adanya peringatan dari-Nya. Inilah yang hendak disampaikan oleh Al-Ghazali kepada murid-muridnya.

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua.... "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"
Murid -muridnya menjawab "negara Cina, bulan, matahari dan bintang -bintang".
Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawapan yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ini tepat dengan sebuah hadits yang menganjurkan bahwa kehidupan kita hari ini harus jauh lebih baik dari kemaren, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Jika difikir lebih dalam, maka yang perlu diperhatikan adalah waktu. Waktu tidak akan datang berulang untuk kedua kali, sekali kita bertindak kesalahan kita tidak bisa merevisinya lagi. Paling banter kita hanya bisa bertobat dan berharap pengampunan. Sebagian pepatah bilang waktu adalah sesuatu yang paling berharga. Emas, harta bisa dicari tapi waktu yang sudah berlalu tak mungkin hadir kembali.

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia
Mati dan waktu adalah dua rahasia yang ada di genggaman-Nya. Kita sebagai hamba hanya bisa berharap dan berdo’a semoga Allah swt memberikan anugrah kepada kita agar mampu memanfaatkan waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga.... "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya menjawah "gunung, bumi dan matahari".
Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU"
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَـٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَـٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai". (QS. 7:179) (Al A'Raf 179).

Nafsu adalah hal penentu pada diri manusia. Ingin bahagia yang hakiki? Kendalikanlah nafsumu, ingin celaka selamanya? Turuti nafsumu... pengendalian nafsu adalah kunci dalam hidup ini. Itulah pesan tersembunyi dari al-Ghazali bahwa nafsu adalah hal paling besar, hal yang paling menentukan....

Kemudian al-Ghazali meneruskan pada Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?". Murid-murid Ada yang menjawab "besi dan gajah".
Semua jawapan adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH"
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh", (QS. 33:72) (Al Ahzab 72).

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini.
Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Jama’ah yang dimuliakan Allah
Pertanyaan Imam al-Ghazali yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?"...
Ada yang menjawab "kapas, angin, debu dan daun-daunan".
Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan sholat, gara-gara bermesyuarat kita meninggalkan sholat.

Kita harus ingat bahwa sholat adalah hal pertama yang ditanyakan Allah kepada manusia. Dan sholat adalah kewajiban terpenting di dunia ini. Namun anenya, meski demikian sholat adalah hal termudah yang sering dilewatkan oleh orang-orang muslim? Ringan sekali mlewatinya.

Dan pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"...
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang".
Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA" Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Ingatlah sebuah hadits yang menerangkan:
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده
seorang muslim adalah orang bisa menjaga orang muslim lainnya dari lisannya dan tangannya.

Khirnya, di penghujung khotbah ini saya mengajak diri saya dan jama’ah sekalian bila ada waktu sering-seringlah merenung bahwa mati akan segera menjemput kita, insyaallah diri kita akan termotifasi untuk mengendalikan nafsu, menjalankan sholat, menjaga lidah dan memegang amanah.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Sumber

Khutbah Jumat : Tahsinul Huluq


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أخْرَجَ نَتَائِجَ أفْكاَرِنَا لِإِبْرَازِ أَيَاتِهِ وَالَّذِيْ أفْضَلَنَا بِالْعِلْمِ وَاْلعَمَلِ عَلَى سَائِرِ مَخْلُوْقَاتِهِ ، أَشْهَدُ أنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ يُمْلَئُ بِجَمِيْعِ اْلفَضَائِلِ ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ وَعِتْرَتِهِ الطَّاهِرِيْنَ إلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ ن ‘ والقلـمِ وما يسطـُروْن * مـَآ أنت بنـعمـة ربّك بمجنـونٍ *وإنّ لك لأجــراً غيــرَ مـَمْنُونٍ * وإنـك لـعـلـى خـلق عـظـيم وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إنـما بعــثـتُ لأتـمّمَ مكـارم الأخْـلا ق
Hadirin Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah
Marilah kita bersama-sama meningkatkan nilai ketaqwaan kita di hadapan Allah swt. Marilah kita saling mengingatkan dan saling bernasehat dalam kebaikan. Siapa tahu saya yang berdiri di sini melakukan sesuatu kealpaan, hendaknya tidak sungkan-sungkan kita saling mengingatkan begitu juga sebaliknya. Karena yang demikian itu menghindarkan kita dari golongan orang-orang yang merugi. Ingatlah kita bahwa banyak sekali pintu-pintu menuju ketaqwaan, tidak hanya terbatas pada sholat, puasa, zakat dan haji saja. Sesungguhnya kehidupan bermasyarakat ini memiliki berjuta pintu menuju ketaqwaan. Diantaranya adalah dengan berbuat baik, berbuat santun dan berakhlaq yang mulia, itu semua merupakan jalan menuju ketaqwaan.

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia

Mungkin diantara kita ada orang yang berprofesi sebagai pedagang, yang tentu mempunyai keinginan agar perdagangannya maju dan juga mendapatkan ridho Allah, mungkin pula diantara kita ada yang menjadi pejabat yang keputusannya ingin diterima masyarakat luas namun tidak bertentangan dengan hukum Allah, mungkin juga diantara kita ada yang menjadi petani yang ingin pertaniannya sukses tanpa ada orang lain yang dirugikan, dan mungkin sekali banyak diantara kita yang hanya menjadi rakyat jelata yang hidup dalam kemelaratan dan kesusahan.

Apapun profesi kita, dan siapapun kita, tentu mencari satu hal yang dicari oleh setiap manusia berakal, yaitu kebahagiaan. Namun demikian kadang kita salah dalam mengartikan dan mengukur kebahagiaan. Ada yang beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan harta, kedudukan, ilmu pengetahuan dan semacamnya. Memang semua itu termasuk salah satu dari faktor yang menyebabkan manusia bahagia, namun bagi orang yang meyakini akan laa ilaha illallah ada sebuah kebahagiaan yang sifatnya abadi, karena memang datangnya dari Dzat yang maha abadi.

Ketenangan yang dirasakan oleh jiwa adalah satu-satunya factor untuk meraih hakikat kebahagiaan abadi. Dan hanya untuk itulah Allah mengutus para Nabi dan Rasul. Adapun konsep kebahagiaan yang dibawa oleh junjungan kita, baginda Nabi besar Muhammad SAW terletak pada kesucian dan keindahan sebuah jiwa. Dimana istilah dari penyucian itu disebut dengan Tazkiah atau Tahsinul akhlak. Semakin dekat umat manusia dengan konsep Tazkiah tersebut, semakin dekatlah kebahagiaan itu. Tapi bila semakin jauh dari kesucian jiwa atau akhlak maka pertanda dekatnya kemerosotan dan kehancuran.

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah
Menurut Prof.Dr.Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Ulama’ Syiria, kehancuran umat islam saat ini bukan dikarenakan kemunduran ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya, namun dikarenakan hilangnya sebuah jati diri, dimana mereka tidak lagi menyadari bahwa dirinya adalah seorang hamba. Dan hal ini sangat erat kaitannya dengan akhlak didalam jiwa seseorang.

Senada dengan al-Buthi adalah Prof. Sayyid Naquib al-Attas Cendikiawan Muslim Malaysia yang berpendapat bahwa kemunduran umat islam lebih fundamental dari hanya sekedar kemunduran ekonomi, politik, dan sejenisnya. Yaitu kehancuran pada tingkat metafisis. Akibatnya umat islam kehilangan pijakannya, sehingga menyebabkan hilangnya adab/akhlak dalam diri umat islam. Ketiadaan adab inilah yang menjebloskan umat islam pada jurang kehancuran .

Lantas apakah sebenarnya akhlaq itu? Jama’ah jum’ah yang dirahmati Allah...
Akhlak adalah sifat-sifat dan perangai yang memberikan gambaran batin yang bersifat maknawi dan rohani pada manusia, dimana dengan gambaran itulah manusia dibangkitkan di saat hakikat segala sesuatu tampak di hari kiamat nanti. Jujur, Sabar dan Pemaaf adalah sebagian contoh dari akhlak dan sifat mulia, sementara Dusta, Pemarah dan Pendemdam menjadi gambaran sifat yang tercela.

Akhlak [akhlaq] adalah bentuk jamak dari kata khuluq yang kalau dihubungkan dengan manusia, kata khuluq adalah lawan kata khalq . Jasmani apabila tersusun dengan rapi dan baik maka disebut Husnul Khalq [baik ciptaannya, bentuknya] yaitu gambaran lahiriahnya baik. Begitu pula gambaran batin manusia, apabila tersusun dari sifat-sifat yang indah, pribadi yang baik dan perilaku yang mulia maka gambaran batinnya baik, dan itulah yang disebut Husnul Khuluq [akhlak yang baik]. Gambaran batin itulah yang dilihat oleh Allah SWT, dan dengan gambaran itu pula , manusia dibangkitkan kelak di hari Kiamat.

Dari penjelasan ini tampak bahwa potret jasmani seorang manusia derajatnya sama sekali tidak sama dengan potret ruhaninya. Dengan demikian , seorang yang berakal serta beriman, wajib untuk mengerahkan segala kemampuannya untuk meluruskan akhlaknya dan berperilaku dengan perilaku yang dicintai oleh Allah SWT serta melaksanakan maksud dan tujuan dari diutusnya baginda Rasullah SAW yang bersabda :
إنـما بعــثـتُ لأتـمّمَ مكـارم الأخْـلا ق
“Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Jama’ah yang dimuliakan Allah...

Dalam kehidupan ini manusia kadangkala memiliki tabiat yang baik dan terpuji, juga tabiat yang buruk dan tercela. Lalu apakah mungkin bagi kita untuk menghilangkan [mengubah] tabiat-tabiat buruk tersebut agar kita sampai pada kesempurnaan akhlak sebagaimana dimaksud hadits diatas ?, ternyata sangat mungkin bagi setiap orang [mukallaf] untuk mempunyai kesempatan menyucikan diri dari sifat-sifat tercela sekaligus menghiasi diri dengan sifat-sifat yang mulia, terpuji dan indah.

Hal ini bisa dicapai dengan kesungguhannya di dalam menumbuhkan keinginan/kemauan merubah sifat yang tercela serta melaksanakan keinginan tersebut. Apabila keinginan dan niat itu telah sempurna maka hendaknya dia berusaha dengan cara selalu memperhatikan apa-apa yang keluar dari dalam dirinya, baik berupa kata-kata [ucapan], tindakan [perbuatan] maupun cara bergaulnya dengan makhluk yang lain agar gambaran batinnya menjadi baik.

Jama’ah yang disayangi Allah...

Betapa banyak kita saksikan dari umat ini, orang-orang yang membelanjakan hartanya dan bersusah payah dalam memperindah dan menghiasi anggota badannya, jasmani dan penampilan lahirnya, padahal itu semua tidak ada artinya bila dibandingkan dengan memperindah akhlak. Seorang mukmin seharusnya memiliki kemampuan untuk menyadari Hakikat ini . Maka dari itu seorang arif dari Yaman pada abad enam belas mengatakan:
من شغـله تغـذية جســده عـن تغـذية روحـه فليطـلـب أجـره من الحـيتان والد يدان التى تأ كل جســـده
“Barang siapa hanya menyibukkan diri di dalam memberi makan jasadnya tanpa memikirkan makanan ruhnya, maka mintalah balasannya kepada ulat dan cacing-cacing yang akan menggerogoti tubuhnya”.

Hal ini disebabkan karena orang tersebut menabdikan hidupnya hanya untuk tubuh dan jasadnya, semangat dan keinginannya hanya diarahkan kepada makanan jasmani belaka tanpa menghiraukan makanan rohani dan penataan akhlaknya. Dengan demikian, dia hanya mengabdi kepada ulat-ulat yang nanti akan menyelimuti dan memakannya.

Maka jelaslah bagi seorang mukmin bahwa meluruskan akhlak merupakan hal yang sangat penting untuk dipikirkan dan dilaksanakan, agar dalam hidup ini seorang mukmin bisa melaksanakan kewajibannya dengan sempurna, serta dapat menghubungkan dirinya dengan Baginda Rasulullah SAW yang memang diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Di dalam Al-Qur`an Allah SWT memuji beliau di saat orang-orang kafir mensifati beliau dengan sifat gila:
ن ‘ والقلـمِ وما يسطـُروْن * مـَآ أنت بنـعمـة ربّك بمجنـونٍ *وإنّ لك لأجــراً غيــرَ مـَمْنُونٍ * وإنـك لـعـلـى خـلق عـظـيم
“Nuun, demi qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat tuhanmu, kamu [Muhammad] sama sekali bukan orang gila, dan sesungguhnya bagimu pahala besar yang tidak akan terputus, dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti agung ”. (QS. Al-Qalam: 1-4).

Dalam ayat tersebut dengan jelas Allah menolak tuduhan orang-orang kafir atas diri Rasulullah SAW bahwa beliau gila, sekaligus Allah juga menjelaskan bahwa agungnya akhlak tidak bisa dipisahkan dengan akal yang sehat. Seandainya Rasulullah SAW gila tentu tidak akan tampak darinya akhlak yang agung.

Sesungguhnya akhlak yang mulia merupakan manhaj yang lurus (cara yang pas) untuk menghadapi problematika hidup ini, dan itu tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang mempunyai akal yang luas. Karena itulah akal didefinisikan dengan; Tabiat dalam jiwa yang dapat mencegah pemiliknya dari mengerjakan hal-hal yang keji.

Maka kemampuan manusia untuk mencegah dirinya dari hal-hal jelek dan keji merupakan hakikat akal. Jadi, hanya orang yang berakal cerdaslah yang mampu menguasai dirinya di saat marah dan tetap berakhlak dengan akhlak yang baik. Semakin cerdas akal seseorang maka akan semakin mampu untuk menjaga dan menahan hawa nafsunya dari perbuatan yang tidak semestinya.

Jama’ah Jum’ah Romikumullah

Akhirnya, penjelasan ini menunjukkan bahwa kesempurnaan akhlak, merupakan ukuran baik dan tidaknya seseorang, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan budi pekertinya, baik kepada dirinya, keluarganya, maupun orang-orang disekelilingnya.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أخْرَجَ نَتَائِجَ أفْكاَرِنَا لِإِبْرَازِ أَيَاتِهِ وَالَّذِيْ أفْضَلَنَا بِالْعِلْمِ وَاْلعَمَلِ عَلَى سَائِرِ مَخْلُوْقَاتِهِ ، أَشْهَدُ أنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ يُمْلَئُ بِجَمِيْعِ اْلفَضَائِلِ ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ وَعِتْرَتِهِ الطَّاهِرِيْنَ إلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ ن ‘ والقلـمِ وما يسطـُروْن * مـَآ أنت بنـعمـة ربّك بمجنـونٍ *وإنّ لك لأجــراً غيــرَ مـَمْنُونٍ * وإنـك لـعـلـى خـلق عـظـيم وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إنـما بعــثـتُ لأتـمّمَ مكـارم الأخْـلا ق

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan nilai ketaqwaan kita di hadapan Allah swt. Marilah kita saling mengingatkan dan saling bernasehat dalam kebaikan. Siapa tahu saya yang berdiri di sini melakukan sesuatu kealpaan, hendaknya tidak sungkan-sungkan kita saling mengingatkan begitu juga sebaliknya. Karena yang demikian itu menghindarkan kita dari golongan orang-orang yang merugi. Ingatlah kita bahwa banyak sekali pintu-pintu menuju ketaqwaan, tidak hanya terbatas pada sholat, puasa, zakat dan haji saja. Sesungguhnya kehidupan bermasyarakat ini memiliki berjuta pintu menuju ketaqwaan. Diantaranya adalah dengan berbuat baik, berbuat santun dan berakhlaq yang mulia, itu semua merupakan jalan menuju ketaqwaan.

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia

Mungkin diantara kita ada orang yang berprofesi sebagai pedagang, yang tentu mempunyai keinginan agar perdagangannya maju dan juga mendapatkan ridho Allah, mungkin pula diantara kita ada yang menjadi pejabat yang keputusannya ingin diterima masyarakat luas namun tidak bertentangan dengan hukum Allah, mungkin juga diantara kita ada yang menjadi petani yang ingin pertaniannya sukses tanpa ada orang lain yang dirugikan, dan mungkin sekali banyak diantara kita yang hanya menjadi rakyat jelata yang hidup dalam kemelaratan dan kesusahan.

Apapun profesi kita, dan siapapun kita, tentu mencari satu hal yang dicari oleh setiap manusia berakal, yaitu kebahagiaan. Namun demikian kadang kita salah dalam mengartikan dan mengukur kebahagiaan. Ada yang beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan harta, kedudukan, ilmu pengetahuan dan semacamnya. Memang semua itu termasuk salah satu dari faktor yang menyebabkan manusia bahagia, namun bagi orang yang meyakini akan laa ilaha illallah ada sebuah kebahagiaan yang sifatnya abadi, karena memang datangnya dari Dzat yang maha abadi.

Ketenangan yang dirasakan oleh jiwa adalah satu-satunya factor untuk meraih hakikat kebahagiaan abadi. Dan hanya untuk itulah Allah mengutus para Nabi dan Rasul. Adapun konsep kebahagiaan yang dibawa oleh junjungan kita, baginda Nabi besar Muhammad SAW terletak pada kesucian dan keindahan sebuah jiwa. Dimana istilah dari penyucian itu disebut dengan Tazkiah atau Tahsinul akhlak. Semakin dekat umat manusia dengan konsep Tazkiah tersebut, semakin dekatlah kebahagiaan itu. Tapi bila semakin jauh dari kesucian jiwa atau akhlak maka pertanda dekatnya kemerosotan dan kehancuran.

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Menurut Prof.Dr.Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Ulama’ Syiria, kehancuran umat islam saat ini bukan dikarenakan kemunduran ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya, namun dikarenakan hilangnya sebuah jati diri, dimana mereka tidak lagi menyadari bahwa dirinya adalah seorang hamba. Dan hal ini sangat erat kaitannya dengan akhlak didalam jiwa seseorang.

Senada dengan al-Buthi adalah Prof. Sayyid Naquib al-Attas Cendikiawan Muslim Malaysia yang berpendapat bahwa kemunduran umat islam lebih fundamental dari hanya sekedar kemunduran ekonomi, politik, dan sejenisnya. Yaitu kehancuran pada tingkat metafisis. Akibatnya umat islam kehilangan pijakannya, sehingga menyebabkan hilangnya adab/akhlak dalam diri umat islam. Ketiadaan adab inilah yang menjebloskan umat islam pada jurang kehancuran .

Lantas apakah sebenarnya akhlaq itu? Jama’ah jum’ah yang dirahmati Allah...

Akhlak adalah sifat-sifat dan perangai yang memberikan gambaran batin yang bersifat maknawi dan rohani pada manusia, dimana dengan gambaran itulah manusia dibangkitkan di saat hakikat segala sesuatu tampak di hari kiamat nanti. Jujur, Sabar dan Pemaaf adalah sebagian contoh dari akhlak dan sifat mulia, sementara Dusta, Pemarah dan Pendemdam menjadi gambaran sifat yang tercela.

Akhlak [akhlaq] adalah bentuk jamak dari kata khuluq yang kalau dihubungkan dengan manusia, kata khuluq adalah lawan kata khalq . Jasmani apabila tersusun dengan rapi dan baik maka disebut Husnul Khalq [baik ciptaannya, bentuknya] yaitu gambaran lahiriahnya baik. Begitu pula gambaran batin manusia, apabila tersusun dari sifat-sifat yang indah, pribadi yang baik dan perilaku yang mulia maka gambaran batinnya baik, dan itulah yang disebut Husnul Khuluq [akhlak yang baik]. Gambaran batin itulah yang dilihat oleh Allah SWT, dan dengan gambaran itu pula , manusia dibangkitkan kelak di hari Kiamat.

Dari penjelasan ini tampak bahwa potret jasmani seorang manusia derajatnya sama sekali tidak sama dengan potret ruhaninya. Dengan demikian , seorang yang berakal serta beriman, wajib untuk mengerahkan segala kemampuannya untuk meluruskan akhlaknya dan berperilaku dengan perilaku yang dicintai oleh Allah SWT serta melaksanakan maksud dan tujuan dari diutusnya baginda Rasullah SAW yang bersabda :
إنـما بعــثـتُ لأتـمّمَ مكـارم الأخْـلا ق
“Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Jama’ah yang dimuliakan Allah...
Dalam kehidupan ini manusia kadangkala memiliki tabiat yang baik dan terpuji, juga tabiat yang buruk dan tercela. Lalu apakah mungkin bagi kita untuk menghilangkan [mengubah] tabiat-tabiat buruk tersebut agar kita sampai pada kesempurnaan akhlak sebagaimana dimaksud hadits diatas ?, ternyata sangat mungkin bagi setiap orang [mukallaf] untuk mempunyai kesempatan menyucikan diri dari sifat-sifat tercela sekaligus menghiasi diri dengan sifat-sifat yang mulia, terpuji dan indah.

Hal ini bisa dicapai dengan kesungguhannya di dalam menumbuhkan keinginan/kemauan merubah sifat yang tercela serta melaksanakan keinginan tersebut. Apabila keinginan dan niat itu telah sempurna maka hendaknya dia berusaha dengan cara selalu memperhatikan apa-apa yang keluar dari dalam dirinya, baik berupa kata-kata [ucapan], tindakan [perbuatan] maupun cara bergaulnya dengan makhluk yang lain agar gambaran batinnya menjadi baik.

Jama’ah yang disayangi Allah...

Betapa banyak kita saksikan dari umat ini, orang-orang yang membelanjakan hartanya dan bersusah payah dalam memperindah dan menghiasi anggota badannya, jasmani dan penampilan lahirnya, padahal itu semua tidak ada artinya bila dibandingkan dengan memperindah akhlak. Seorang mukmin seharusnya memiliki kemampuan untuk menyadari Hakikat ini . Maka dari itu seorang arif dari Yaman pada abad enam belas mengatakan:
من شغـله تغـذية جســده عـن تغـذية روحـه فليطـلـب أجـره من الحـيتان والد يدان التى تأ كل جســـده
“Barang siapa hanya menyibukkan diri di dalam memberi makan jasadnya tanpa memikirkan makanan ruhnya, maka mintalah balasannya kepada ulat dan cacing-cacing yang akan menggerogoti tubuhnya”.

Hal ini disebabkan karena orang tersebut menabdikan hidupnya hanya untuk tubuh dan jasadnya, semangat dan keinginannya hanya diarahkan kepada makanan jasmani belaka tanpa menghiraukan makanan rohani dan penataan akhlaknya. Dengan demikian, dia hanya mengabdi kepada ulat-ulat yang nanti akan menyelimuti dan memakannya.

Maka jelaslah bagi seorang mukmin bahwa meluruskan akhlak merupakan hal yang sangat penting untuk dipikirkan dan dilaksanakan, agar dalam hidup ini seorang mukmin bisa melaksanakan kewajibannya dengan sempurna, serta dapat menghubungkan dirinya dengan Baginda Rasulullah SAW yang memang diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Di dalam Al-Qur`an Allah SWT memuji beliau di saat orang-orang kafir mensifati beliau dengan sifat gila:
ن ‘ والقلـمِ وما يسطـُروْن * مـَآ أنت بنـعمـة ربّك بمجنـونٍ *وإنّ لك لأجــراً غيــرَ مـَمْنُونٍ * وإنـك لـعـلـى خـلق عـظـيم
“Nuun, demi qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat tuhanmu, kamu [Muhammad] sama sekali bukan orang gila, dan sesungguhnya bagimu pahala besar yang tidak akan terputus, dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti agung ”. (QS. Al-Qalam: 1-4).

Dalam ayat tersebut dengan jelas Allah menolak tuduhan orang-orang kafir atas diri Rasulullah SAW bahwa beliau gila, sekaligus Allah juga menjelaskan bahwa agungnya akhlak tidak bisa dipisahkan dengan akal yang sehat. Seandainya Rasulullah SAW gila tentu tidak akan tampak darinya akhlak yang agung.

Sesungguhnya akhlak yang mulia merupakan manhaj yang lurus (cara yang pas) untuk menghadapi problematika hidup ini, dan itu tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang mempunyai akal yang luas. Karena itulah akal didefinisikan dengan; Tabiat dalam jiwa yang dapat mencegah pemiliknya dari mengerjakan hal-hal yang keji.

Maka kemampuan manusia untuk mencegah dirinya dari hal-hal jelek dan keji merupakan hakikat akal. Jadi, hanya orang yang berakal cerdaslah yang mampu menguasai dirinya di saat marah dan tetap berakhlak dengan akhlak yang baik. Semakin cerdas akal seseorang maka akan semakin mampu untuk menjaga dan menahan hawa nafsunya dari perbuatan yang tidak semestinya.

Jama’ah Jum’ah Romikumullah

Akhirnya, penjelasan ini menunjukkan bahwa kesempurnaan akhlak, merupakan ukuran baik dan tidaknya seseorang, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan budi pekertinya, baik kepada dirinya, keluarganya, maupun orang-orang disekelilingnya.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
sumber